Esai: Maya atau Nyata, Makna atau Musnah?
Maya atau Nyata, Makna atau Musnah?
Bagiku, banyak
hal yang bisa dinikmati di sekitar. Dari ratusan yang bisa kunikmati dengan
sangat, ada ribuan yang masih bisa selalu kusyukuri. Saat menyukai satu hal,
aku biasa menikmati waktu bersama hal itu tanpa membiarkan apa pun
menginterupsi, termasuk ponselku sendiri.
Aku memang bukan
orang yang begitu sanggup meninggalkan ponsel hingga 10 hari. Saat ponselku
rusak beberapa hari saja, aku kalang kabut mencari cara dan uang untuk
memperbaikinya. Meski sangat suka meninggalkan ponsel saat menikmati hal lain,
aku masih perlu benda kotak itu untuk keseharian yang serba digital ini.
Aku ingat,
dulu selalu mendengarkan musik melalui ponsel saat pergi ataupun pulang kuliah.
Saat musik berputar, kubiarkan layar ponselku mati. Pesan masuk pun kuabaikan.
Aku lebih suka memerhatikan jalan dan orang-orang dengan latar suara musik
daripada melihat layar berlebar terbatas yang kecerahannya kadang membuat
mataku “terpekik”.
Sejujurnya,
ponsel memanglah bisa membuat pemikiranmu meluas, tapi juga bisa menyempit.
Semua itu tergantung pola pikirmu yang entah ingin dibawa ke arah mana. Bagiku,
sih, ponselku itu bisa jadi ladang
pengetahuan baru sekaligus hiburan berisi hal-hal lucu untuk ditertawakan. Hanya
saja, saat dipertemukan dengan suasana alam, hiruk pikuk kota, atau sekadar
bulan purnama, aku bisa meninggalkan ponsel itu sama sekali. Bahkan, tanpa
memotret pemandangan itu sedikit pun.
Walaupun
sangat suka meninggalkan dunia digital di saat-saat tertentu, aku tetap tahu,
kok, isu hangat yang ramai diperbincangkan—atau bahkan diperdebatkan—masyarakat
sekitar. Yah … meski bagiku, tidak semua isu itu perlu dijadikan bahan adu
argumen.
Aku sangat
menghormati orang-orang yang mampu menilai banyak perbedaan sebagai hal yang
wajar: beda kepercayaan, beda pandangan, beda suku, beda tingkat harta, sampai
beda perasaan. Sebab, menurutku, semua perbedaan itu mengacu pada satu hal yang
sama: satu, makhluk hidup. Saat kau bilang kita berbeda dengan hewan, bukan
berarti kau bisa menyakiti hewan itu. Kita semua adalah makhluk hidup yang
punya hak untuk dijaga. Buat apa repot-repot kecewa pada perbedaan yang membuat
kita jadi lebih “hidup”? Bayangkan saja, hidup tanpa warna perbedaan. Bukankah
hanya akan terlihat seperti makhluk kopong tanpa emosi dan rasa saling
mengasihi?
Lalu, untuk
apa menyusahkan diri dengan menyemburkan kemarahan yang tak logis? Kemarahan
itu pun bukannya membuat kita jadi tokoh terpandang yang tampak kece karena ikut-ikutan
memperdebatkan hal yang sedang viral. Ah, aku jadi ingat satu lagu yang
benar-benar cocok. Have ears but don’t
listen, have eyes but don’t see (Punya telinga tapi tak mau dengar, punya
mata tapi tak mau lihat). Lihatlah, manusia suka sekali mengabaikan hal-hal
yang benar untuk membuat opini cetek kita tidak terbantah.
Coba kau
pahami tulisanku. Perbedaan ada untuk membuat kita paham situasi satu sama
lain. Jangan kau abaikan cara hidup orang saat kau sendiri marah saat orang
lain tak bisa memahamimu. Jadilah netral saat kita rasa tak perlu ada yang
diperdebatkan secara berlebihan. Meski begitu, ketahuilah mana yang benar dan
salah, jangan sampai termakan kebohongan. Di dunia ini, banyak hal yang
benar-benar perlu kita bela dan yang hanya menampakkan kebodohan diri dengan
argumen berlebihan. Mencari informasi lewat gadget
sama sekali tidak salah, tapi sikap kita terhadap informasi yang terkadang
tak masuk akal.
Berbagai
perdebatan muncul di jagat maya, cobalah memilih dan memilah. Oh, silakan coba
juga perhatikan sekitarmu. Apa kau sadar beberapa daun dari tanaman pekarangan
rumahmu layu saat kau sibuk beradu ketik soal berita yang sebenarnya hoaks?
Kerenn....
BalasHapusMantap
BalasHapus