Pluto: Let Go

 Pluto

Pluto - Wikipedia

There's no name allowed for me
I, too, used to be your star
You must feel nice to be the moon
All I did was to receive you.

_____

Di zaman dulu, manusia bisa melihat benda angkasa lain dari bumi. Banyak bintang-bintang, langit yang cerah, bahkan planet-planet seperti Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Seolah, mereka semua adalah teman-teman kita, manusia dan bumi itu sendiri. 

Secara simpel, mereka memang ada di sekitar kita, 'kan? Sebutlah mereka teman, meskipun kau tidak benar-benar kenal. 

Kini, kita masih diberi kesempatan untuk sesekali melihat mereka. Tak setajam dan semurni zaman dulu, tapi setidaknya masih bisa dilihat.

Selain mereka, tentu saja banyak benda angkasa lain yang tidak kita ketahui; atau setidaknya, tidak kita lihat. Bintang-bintang itu saja bertabur beberapa kali lipat lebih banyak daripada pasir di semua pantai. Tentu saja, tak semua bintang itu sama. 

Dan, tentu saja, aku menulis ini bukan semurni itu ingin membandingkan benda-benda itu dengan kehidupan kita, para manusia. Aku cuma ingin berbagi isi pikiranku, ini hanyalah sebuah perumpamaan yang indah. Aku suka memikirkannya. Semoga, kalian mengerti.

Aku ragu banyak dari kalian yan tidak mengenal Pluto, planet kerdil yang sangat jauh sampai ia pernah bolak-balik masuk ke tatanan tata surya. Bukan planet terdingin, tapi saking jauhnya, aku kadang berpikir bahwa tempat itu mungkin sangat dingin karena "tak tersentuh".

Pluto, jadi sesuatu yang paling jauh dan terpisah sendiri. Bukan kemauannya, bukan pula kemauan bumi dan matahari, tentunya. Ia unik, meskipun semua hal di luar sana juga memang unik di mata kita. Pluto punya cara berjalan yang berbeda. Jalan yang ditempuhnya tidak terlihat sama seperti bumi, tempat yang paling kita tahu.

Namun, apakah itu sebabnya ia yang terjauh? Itukah sebabnya, ia yang paling sendiri di luar, seolah menjaga tata surya dari lingkungan yang lebih luar lagi. Ia dihampiri, ditinggalkan, bergabung kembali, dan dibuang lagi.

Manusia yang menentukan itu. Tapi, ingat, aku tidak menyalahkan manusia di sini. Ini hanyalah kenyataan yang cukup lucu, dan kita menerimanya karena setuju. Lagipula, Pluto tidak punya jiwa, ia tak merasakan kesepian atau kecewa karena dibiarkan begitu saja.

Jadi, apakah karena orbitnya yang oval itulah ia menjadi sangat jauh? Tidak. Ia jauh karena ia memang jauh, ucapku yang tak tahu. Hanya saja, cara berjalan Pluto membuatnya bisa mendekat sedikit di waktu tertentu. Itu pun tak sedekat itu sampai kita bisa melihatnya langsung.

Lalu, apa maksudku perbandingan dengan kehidupan manusia?

Aku cuma ingin bilang ... Apakah beberapa dari kita merasa seperti itu? Merasa jadi yang selalu ditinggalkan dan jauh, hanya bisa mendekat beberapa kali, dijauhi pun tidak bisa meringis. 

Apa itu karena aku yang berusaha mendekat tapi tak bisa sedekat itu, seperti orbit oval Pluto. 

Aku selalu gagal, lagi dan lagi. Ingin mendekat dan bertemu, tertawa dan diberi senyum, namun gagal lagi karena aku yang berbeda. Aku ditarik untuk menjauh lagi, dipaksa untuk menghindar lagi. 

Aku tampak meninggalkan, tapi aku juga merasa ditinggalkan. Aku merasa jahat, namun juga merasa tak pantas diperlakukan seperti ini. Seseorang bilang, aku tak harus tersinggung, orang-orang memang datang dan pergi, semau mereka. Aku juga pergi meninggalkan seseorang dan mendatangi seseorang, 'kan?

Itu tak salah ... Tapi aku, aku yang merasa ada yang salah dengan diriku. Aku tak mau merasakan hal ini, aku ingin merasakan istilah paling palsu di bumi: terus berbahagia dan hanya berjumpa dengan hal baik. 

Kemudian, pastikah ini terjadi karena 'orbit'-ku? Apakah aku harus berubah menjadi orang tertentu agar diterima? Agar aku tak menarik diriku lagi? Agar aku merasa nyaman dan tak rindu perasaan itu lagi?

Tidak tahu, aku sudah lelah sejak lama. Aku bertindak bodoh seperti orang tanpa harga diri yang mengemis kesediaan orang lain untuk berjalan di sampingku. Selalu aku yang memulai. Aku yang mendekat dan aku lagi yang dibiarkan menjauh. Orang mendorongku menjauh tanpa tangan mereka, tapi dengan suara dan tatapan mereka.

Kalau memikirkan perasaan kecewa sekaligus rasa bersalah ini, aku merasa tidak suka jadi manusia yang punya emosi. Tidak, aku tidak akan menarik perkataanku.

Hanya saja, aku tahu betul bahwa akan ada situasi lain yang membuatku bersyukur jadi manusia. Begitulah, kita memang punya sisi bodoh dan realistis. Akuilah, bukan hanya aku yang pernah berpikir ingin jadi bunga yang cantik atau ... bintang-bintang yang dengan ramainya bertabur di angkasa sana. 

Padahal, kita tahu bintang-bintang itu berjarak sangat jauh satu sama lain. Tapi, kita tak peduli, kita inginkan apa yang kita lihat. 

Sekarang, aku merasa seperti memiliki perasaan Pluto dalam hatiku. Aku merasa iba padanya, seperti orang bodoh karena mengasihani benda yang tak punya emosi. Ini semua hanya karena aku merasakannya, sedikit kemiripan yang tak masuk akal.

Menulis ini tidak akan membuatku tahu jawabannya, jawaban dari semua pertanyaan dan keluhanku. Aku hanya sedang merasa marah dan kecewa tanpa sebab, hanya dengan picuan kilas balik masa lalu.

Aku lelah. Terima kasih. Aku akan kembali ke realitas sekarang.

Komentar

Postingan Populer