Yang Terbaik
Yang Terbaik
Apa kau pernah merasa terjebak dalam suatu hal yang kau inginkan sebelumnya?
Vanilla tengah merasakannya sekarang. Sejujurnya, Vanilla selalu mengusahakan yang terbaik untuk banyak hal. Ia percaya, ketulusan akan membuahkan hasil yang jauh lebih baik. Jadi, Vanilla tak pernah tidak acuh pada hal-hal di sekitarnya.
Sayangnya, belakangan ini, ia merasa tengah berjuang untuk sesuatu yang tak akan pernah ada. Vanilla sudah berusaha, tapi ia juga belum. Ia terjebak menginginkan sesuatu yang sangat besar baginya, yang mungkin biasa saja bagi orang lain.
Vanilla bertanya-tanya, mengapa ia harus menyadari kalau dunia ini tidak begitu kejam? Hanya ia saja yang terlalu lamban. Menyedihkan baginya mengakui hal ini karena ia selalu berusaha. Ia selalu yakin bahwa ia bisa. Tapi tidak.
Lucu sekali, tidak ada siapa pun yang merendahkannya belakangan ini. Justru, Vanilla yang merendahkan dirinya sendiri.
Saat mencoba memandang Vanilla dari sudut pandang orang lain, aku menemukan bahwa ia terlihat seperti orang bodoh yang mengusahakan sesuatu terlalu keras. Padahal, tidak ada hasilnya sama sekali.
Apa kamu ingin mengatakan bahwa ia bekerja dengan baik? Baiklah. Aku memang mengakuinya. Tapi, saat ini, Vanilla bukannya merendah, kau yang tak tahu. Orang bilang, Vanilla baik dalam menulis dan merangkai kata. Tapi, Vanilla tidak melihat apa pun. Seolah, semua orang hanya bicara begitu di dalam kepalanya. Itu hanyalah halusinasi belaka.
Mungkin, usaha tangannya itu tidak indah dan harum bagai karangan bunga. Vanilla pun mulai merundung dirinya sendiri lagi.
Sejak Jumat malam, ia membuka ponselnya dan terus menggulir layar, mencari sesuatu yang sepertinya tak pernah mencari sesuatu seperti Vanilla. Ia mengetahui banyak hal baru, dan semakin merasa rendah karenanya.
Vanilla kemudian melihat seluruh unggahan rekannya. Di ujung hari, bahkan saat langit hanya menunjukkan kegelapan bersama sedikit suara petir, semua orang tersenyum. Vanilla tidak akan berani mengatakan "Mereka semua bahagia, ya," karena ia tahu betul cara menyembunyikan raut dilema. Ia yakin, semua orang juga melakukan trik yang sama.
Maksudku, jelaslah bahwa Vanilla merasa gagal untuk berpura-pura bahagia. Padahal, siapa yang tahu bahwa ada gadis bernama Vanilla yang kini sedang dikungkung rasa cemas? Tidak ada, sampai kamu tiba pada paragraf ini, sebab Vanilla hanyalah tokoh fiksi.
Vanilla bahkan sempat memiliki pikiran yang sangat kotor, melebihi jijiknya air selokan.
Aku menyebut itu sangat kotor karena Vanilla tak pernah sekali pun berpikir seburuk itu, sebelumnya.
"Apa ada orang yang membenciku? Apa orang-orang sebenarnya sangat membenciku sampai tidak akan pernah melihatku sama sekali?"
Kalau aku ada di sampingnya, aku ingin menamparnya saat itu juga. Ia begitu tolol malam itu. Pikirannya dipenuhi setan yang ingin membunuhnya dari dalam.
Seorang laki-laki pernah berbincang dengan Vanilla. Ia bilang, "Aku tidak yakin apakah aku orang yang patut dicintai,"
"Aku ragu bahwa semua usahaku ini terlihat dan mereka akan semakin menyukaiku,"
"Aku pernah bertanya 'kan, padamu? Apa aku harus baik dalam sesuatu dulu untuk dicintai?"
Waktu itu, tanpa ragu, Vanilla menjawab "Tidak," dengan lantang. Ia bahkan berkecak pinggang sambil berkata, "Aku mengenalmu sejak masa yang kau sebut 'tak bisa apa-apa' itu. Bahkan sejak saat itu, aku selalu menyukaimu."
Andai kali ini Vanilla bisa menghubunginya, berkata kalau ia merasakan hal yang sama saat ini. Andai, ia bisa berkata, "Maafkan aku karena bilang 'semuanya tidak apa-apa' padamu,"
Sebab, kini ia tau betapa menyedihkannya saat orang-orang berkata bahwa semuanya baik-baik saja, padahal kau tahu, itu tidak.
Kembali lagi, Vanilla tidak melihat apa pun yang tampak nyata baginya. Oleh sebab tak ada apa pun, ia jadi tak merasa takut, Ia melakukan segala hal hingga kelelahan akan dinginnya sendiri. Vanilla membuang perasaan yang membebaninya dan kembali melangkah, tapi seiring malam kembali datang, mereka pun kembali lagi seolah tak memberi izin bagi Vanilla untuk merasa bangga.
Saat masih terus menggulir layar ponselnya, Vanilla mendapati satu telepon masuk dari orang yang sedang kita perbincangkan belakangan.
Kak Jun is calling ...
Sesungguhnya, jauh sebelum hari ini, Vanilla dan Jun bertengkar. Mereka meperdebatkan sesuatu yang begitu dangkalnya, tapi menjadi masalah besar hanya karena mereka tak bertemu. Jun saat itu terus berkata bahwa perkataan Vanilla hanya bualan untuk membuatnya merasa lebih baik.
Perdebatan itu terjadi setelah Vanilla mengucap "baik-baik saja" pada Jun yang terisak karena tidak ada siapa pun di sampingnya.
"Van, kamu nyata?" ucapnya waktu itu.
"Maksudmu apa?" tanya Vanilla
"Kamu cuma terlihat seperti halusinasiku, wujud semu yang begitu suka padaku,"
"Aku benar ada, kau mau lihat wajahku?"
"Percuma, aku tak bisa menyentuhnya," keluh Jun
"Kak, terjadi sesuatu?" Vanilla mulai khawatir saat melihat Jun yang sangat hangat itu jadi begitu pesimis.
"Bukan, hanya saja ... semua orang terlihat semu bagiku. Seolah-olah aku hanya hidup sendirian di dunia ini,"
Vanilla terdiam dan berusaha mencerna ucapan Jun. Ah, karena semua orang terpisah jauh?
"Kak, aku ada di sini. Aku akan selalu mendukungmu, jauh ataupun dekat."
"Tapi, Van tidak seperti gadis nyata karena aku tidak melihatmu sekarang,"
"Apa aku boleh menemuimu besok? Semuanya akan baik-baik saja."
"Kamu pikir aku akan meneleponmu seperti ini kalau semuanya baik-baik saja?"
"Bukan begitu maksudku-"
Seperti itulah. Aku tak bisa menceritakan lengkapnya karena cerita dari Vanilla pun hanya sebatas itu. Kemudian, ia terisak karena merasa bersalah dan kebingungan.
Kali ini, Vanilla mengangkat telepon itu tanpa ragu. Meski begitu, ia hanya bergeming dan menunggu suara Jun terdengar lebih dulu,
Bohong, Vanilla hanya diam karena satu kata pun keluar dari mulutnya, ia akan menangis.
Di seberang sana, Jun juga menahan suaranya sendiri. Dua makhluk cengeng itu hanya menyambungkan telepon begitu saja.
"Halo?" aku mengambil alih karena Vanilla tak kunjung bicara.
"Oh, Van. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja,"
"Kalau ... Vanilla?"
"Kenapa kau tanya soal dia?"
"Kalau kutanya kabarmu, sampai tua pun akan selalu kau jawab 'baik-baik saja'" kata Jun sambil menirukan gaya bicaraku.
"Lalu?"
"Tapi, aku lihat unggahanmu,"
"Aku yakin, Vanilla yang selalu jujur tentang perasaannya tak akan pernah mengucap 'baik-baik saja' saat ia tidak."
"Jadi, bagaimana kabarmu, Van?" lanjutnya.
"Dua-duanya tidak baik-baik saja."
Pada akhirnya, keduanya malu karena kembali menjilat ludah sendiri, setelah mengatakan kalau mereka hidup sendiri tanpa dukungan siapa pun.
Sebab, hari ini mereka kembali mengemis kehadiran orang lain. Meskipun kelak dalam hati, mereka akan merasa kalau itu ilusi lagi.
_____
They're Van, but one is blue, and the another one is grey.
You'll find their difference only from the color, right?
They're the same : color, but they have two of it.
_____
Don't say we're fine
'cause we aren't
Please don't leave us alone, it hurts too much.
_____
Selamat menunaikan ibadah puasa. ini cerita pendek menyedihkan terakhirku sebelum kembali fokus berusaha dan berdoa. Hari ini adalah tong sampah. Jadi, kubuang semuanya sekarang.
Komentar
Posting Komentar