Esai: Maya atau Nyata, Makna atau Musnah?

 

Maya atau Nyata, Makna atau Musnah?


(Foto: Unsplash/Adrian Sswancar)

Bagiku, banyak hal yang bisa dinikmati di sekitar. Dari ratusan yang bisa kunikmati dengan sangat, ada ribuan yang masih bisa selalu kusyukuri. Saat menyukai satu hal, aku biasa menikmati waktu bersama hal itu tanpa membiarkan apa pun menginterupsi, termasuk ponselku sendiri.

Aku memang bukan orang yang begitu sanggup meninggalkan ponsel hingga 10 hari. Saat ponselku rusak beberapa hari saja, aku kalang kabut mencari cara dan uang untuk memperbaikinya. Meski sangat suka meninggalkan ponsel saat menikmati hal lain, aku masih perlu benda kotak itu untuk keseharian yang serba digital ini.

Aku ingat, dulu selalu mendengarkan musik melalui ponsel saat pergi ataupun pulang kuliah. Saat musik berputar, kubiarkan layar ponselku mati. Pesan masuk pun kuabaikan. Aku lebih suka memerhatikan jalan dan orang-orang dengan latar suara musik daripada melihat layar berlebar terbatas yang kecerahannya kadang membuat mataku “terpekik”.

Sejujurnya, ponsel memanglah bisa membuat pemikiranmu meluas, tapi juga bisa menyempit. Semua itu tergantung pola pikirmu yang entah ingin dibawa ke arah mana. Bagiku, sih, ponselku itu bisa jadi ladang pengetahuan baru sekaligus hiburan berisi hal-hal lucu untuk ditertawakan. Hanya saja, saat dipertemukan dengan suasana alam, hiruk pikuk kota, atau sekadar bulan purnama, aku bisa meninggalkan ponsel itu sama sekali. Bahkan, tanpa memotret pemandangan itu sedikit pun.

Walaupun sangat suka meninggalkan dunia digital di saat-saat tertentu, aku tetap tahu, kok, isu hangat yang ramai diperbincangkan—atau bahkan diperdebatkan—masyarakat sekitar. Yah … meski bagiku, tidak semua isu itu perlu dijadikan bahan adu argumen.

Aku sangat menghormati orang-orang yang mampu menilai banyak perbedaan sebagai hal yang wajar: beda kepercayaan, beda pandangan, beda suku, beda tingkat harta, sampai beda perasaan. Sebab, menurutku, semua perbedaan itu mengacu pada satu hal yang sama: satu, makhluk hidup. Saat kau bilang kita berbeda dengan hewan, bukan berarti kau bisa menyakiti hewan itu. Kita semua adalah makhluk hidup yang punya hak untuk dijaga. Buat apa repot-repot kecewa pada perbedaan yang membuat kita jadi lebih “hidup”? Bayangkan saja, hidup tanpa warna perbedaan. Bukankah hanya akan terlihat seperti makhluk kopong tanpa emosi dan rasa saling mengasihi?

Lalu, untuk apa menyusahkan diri dengan menyemburkan kemarahan yang tak logis? Kemarahan itu pun bukannya membuat kita jadi tokoh terpandang yang tampak kece karena ikut-ikutan memperdebatkan hal yang sedang viral. Ah, aku jadi ingat satu lagu yang benar-benar cocok. Have ears but don’t listen, have eyes but don’t see (Punya telinga tapi tak mau dengar, punya mata tapi tak mau lihat). Lihatlah, manusia suka sekali mengabaikan hal-hal yang benar untuk membuat opini cetek kita tidak terbantah.

Coba kau pahami tulisanku. Perbedaan ada untuk membuat kita paham situasi satu sama lain. Jangan kau abaikan cara hidup orang saat kau sendiri marah saat orang lain tak bisa memahamimu. Jadilah netral saat kita rasa tak perlu ada yang diperdebatkan secara berlebihan. Meski begitu, ketahuilah mana yang benar dan salah, jangan sampai termakan kebohongan. Di dunia ini, banyak hal yang benar-benar perlu kita bela dan yang hanya menampakkan kebodohan diri dengan argumen berlebihan. Mencari informasi lewat gadget sama sekali tidak salah, tapi sikap kita terhadap informasi yang terkadang tak masuk akal.

Berbagai perdebatan muncul di jagat maya, cobalah memilih dan memilah. Oh, silakan coba juga perhatikan sekitarmu. Apa kau sadar beberapa daun dari tanaman pekarangan rumahmu layu saat kau sibuk beradu ketik soal berita yang sebenarnya hoaks?

Komentar

Posting Komentar