Jelas-Jelas Menonton Waktu
Apakah kiara payung ini selalu segini besar sejak dulu?
Begitu pikirku saat kembali ke daerah Pamulang demi proyek kerja sama kantor dengan orang sini. Aku sudah jauh-jauh menyesuaikan diri dengan klien yang seenaknya itu, tapi dia tetap saja seenaknya. Lihatlah dia benar-benar tak bisa dihubungi sejak satu setengah jam yang lalu.
I am not signed up for this.
Bukannya aku menggampangkan pertemuan dengan klien yang penting itu, lagipula lihatlah proposal yang sejak tadi rapi tercetak tanpa lecek di tanganku. Heh, aku membuatnya dua malam tanpa tidur.
Tapi, saking seringnya aku dipermainkan begini, aku sudah hapal bahwa satu setengah jam tanpa kabar, artinya dia kabur. Pegang omonganku, dia tak akan menghubungiku sampai besok. Orang gila itu merasa sangat keren dan penting, ya.
Memang dia itu mantap, sih. Ilustrator yang sudah dua tahun ini beken tanpa penurunan popularitas satu hari pun. Soalnya, orangnya juga ganteng. Mungkin perempuan-perempuan sekalian menjadikannya idola seperti oppa-oppa Korea.
Pokoknya, daripada melamun seperti orang bodoh lebih lama lagi di workspace yang tampaknya baru jadi itu lima belas menit yang lalu, aku memutuskan untuk cabut ke kawasan rumahku dulu. Daerah yang kutinggali dengan nyaman sekali bersama orang tuaku.
Jadilah, aku di hadapan kiara payung yang sudah seperti trembesi ini. Bagaimana bisa kiara payung sebesar ini? Memangnya ini negeri dongeng? Pikirku menghadap si pohon yang seharusnya tak selebar dan setinggi itu, coba lihat, memangnya itu tak lebih tinggi dari sebelas meter? Aku bahkan harus mundur jauh-jauh untuk melongok bagian atasnya.
Seolah-olah, dia membesar tanpa batas mengikuti umurku yang sudah makin tua saja sekarang meski aku sudah jauh-jauhnya.
Hubunganku dengan pohon ini cukup baik, dulu. Berdirinya hanya perlu keluar dari rumahku lalu belok kanan sampai keluar dari gang, lalu belok kiri menyusuri lapangan, sedikit menanjak, dan aku sudah bisa bertemu teman baikku ini. Sendirian.
Tak ada yang tahu kalau aku suka kemari. Padahal, tak ada niat pula di hatiku untuk menyembunyikannya. Memang, terkadang hidup itu tak terduga.
Aku ingat kalau aku yang kecil bukan anak yang gemar bermain. Aku terbiasa menghabiskan dan menikmati waktu sendiri. Terkadang, aku membaca buku, atau melamun saja mendengar gemerisik daun sang kiara yang memayungiku itu.
Kerjaanku hanya bengong dan melayang-layang mengikuti semilir angin, suara bocah lain, barisan semut, atau buah kersen yang kalau tak dicari akan jatuh sendiri tapi kalau dicari akan terlalu susah diambil. Itu sudah pulang sekolah, dan aku si gadis sekitar sebelas tahun itu sudah menghabiskan siang dengan mengerjakan PR. Aku tak punya hutang atau kewajiban apa pun sampai malam!
Jadi aku dulu hanya perlu berteduh di kiara payung pada sore hari tanpa membawa apa-apa dan cuma menutup mata.
Ponselku berbunyi. Ada pesan yang masuk. Lalu, ada pesan lagi. Ada pesan lagi, lalu pesan lagi. Aku membuka ponselku itu dan sibuk membalas orang-orang penting di kehidupan pekerjaanku. Aku sangat sibuk sampai pegal lama berdiri di depan sang kiara payung, dan akhirnya memutuskan selonjoran di bawahnya, bersama kaki dan badannya.
Lalu, aku lanjut mengurusi kehidupan fana yang penting itu lewat ponsel lipat yang mahal ini. Kehidupan fana yang nanti bakal selesai juga. Mending, kalau selesai karena pensiun. Kalau dipecat? Aduh, lawakan kecil otakku itu bikin diri ini mau menangis sambil tertawa.
Tentu saja, gaji yang sampai cukup buatku membeli ponsel lipat belasan juta ini membuatku pikir-pikir ulang untuk melepasnya begitu saja.
Pokoknya, aku sibuk sekali. Sibuk sekali!
Sambil menunggu balasan dari kolegaku, aku sesekali menutup mata atau melongok ke langit-langit, alias menghadap daun dan ranting-ranting kiara payung sebelum mataku akhirnya menemukan secercah demi secercah cahaya langit yang menembus.
Mataku sakit karena terlalu lama menatap ponsel. Entahlah, tapi aku yakin ini sudah mencapai lebih dari dua jam bekerja tanpa aku sempat untuk pindah dari sini. Baiklah, terima kasih pada kiara payung karena setidaknya aku tak begitu kepanasan.
Hari juga semakin sore. Aku mulai khawatir terlalu lama berada disini tanpa sempat pulang sampai malam. Tapi, sebenarnya, aku tak punya waktu untuk peduli soal itu karena pekerjaan terus datang seperti air terjun di bawah pohon ini.
Kembali lagi pada sela-sela yang tak seberapa, aku lagi-lagi memandangi si kiara payung dari bawah. Sepanjang waktu ini, aku hanya merasakan teduh, sibuk, teduh di tengah kesibukan, lelah, teduh lagi, dan beruntung karena ada satu pohon besar (meskipun harusnya tidak sebesar ini) yang membantuku berselonjor sehingga tak perlu duduk di tengah terik sambil bekerja.
Tidak lebih.
Ini mengganjal. Bukankah aku cukup dekat dengan kiara payung ini? Di mataku, ia hanya terlihat seperti satu pohon tua yang tak berarti apa pun selain jadi tempat berteduh sementara.
Aku hampir memikirkan sesuatu tentang kiara payung lebih lanjut, tetapi kesibukan kembali menyeret kesadaranku. Kini, aku bahkan sudah membuka laptop biruku untuk menuntaskan tugas yang entah kapan akan selesai.
Tibalah waktunya. Sial, aku merasa langit tetiba jadi makin mendung seiring waktu. Orang tua bilang, hari yang begitu terik adalah pertanda hujan deras di penghujung hari. Entah apa pun sebabnya, kali ini, itu terjadi. Padahal, kukira ini hanyalah rasa teduh yang cukup menghibur di tengah kepalaku yang berasap.
Aku harus segera pergi, dong, tanpa menengok ke belakang sama sekali. Tanpa peduli bahwa lingkungan ini dulunya rumahku. Tanpa terpikir akan tetangga-tetanggaku yang entahlah masih menetap di sini atau tidak.
Bahkan meskipun tanpa pamit sama sekali, entah pada apa. Aku terus berlari meski ada yang mengganjal di hatiku, bahwa aku harus mengucap salam perpisahan, entah pada apa. Mendung yang menggelap terus membayangiku karena banyaknya alat elektronik yang kubawa. Dan tentu saja, aku yang sibuk ini sama sekali tak mau buang waktu untuk mengeringkan diri karena kuyup.
Kilasan menyergap tepat saat tetesan hujan gerimis pertama mengenai kulitku. Kedatangannya tak membuatku berhenti sama sekali berlari karena lagipula, angkot yang harus kutumpangi sudah terlihat di depan mata.
Aku bingung mau memikirkan yang mana: rasa khawatir karena hujan, atau kilasan tak penting soal masa lalu, seperti yang kuungkap sebelumnya,
Tentang aku berbaju cokelat susu berambut sebahu bercelana selutut yang merasakan diri di bawah kiara payung kala sedang terik, sambil tersenyum ikhlas sekali.
Biarlah, aku tak merasakan apa pun saat mengingatnya, jadi aku terus berlari sambil memikirkan deadline.
Hati kecil itu rupanya berbahaya sekali. Selain bisa menunda pekerjaan, juga bisa menyeret kakimu ke masa atau tempat tertentu entah berapa kali lagi, hanya agar hatimu tak terjepit kenang yang menyesakkan karena tak lagi dipedulikan.
Aku tak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa berdiri di sini lagi.
Kalau kuceritakan, mungkin akan sama seperti pertama kali aku kemari beberapa hari lalu. Hanya saja, kali ini aku tak ditinggal kabur klien tampan itu; aku memutuskan berangkat lebih awal untuk menghampiri kiara payung sebelum bertemu dengannya.
Aku tak punya alasan. Makin kautanya, makin aku pusing menentukannya. Aku entah bagaimana cuma ingin ke sini dan berteduh, meski pohon rindang sebetulnya ada di mana-mana.
Pagi ke siang ini, aku masih melihat si kiara payung tanpa perasaan. Benar-benar biasa saja.
Sama seperti sebelumnya, aku kembali sibuk dengan kolega dan kerjaan yang terus-terusan hadir meski aku sedang dalam proses tugas lain juga. Aduh, aku sudah biasa, sih, jadi tak merasakan apa-apa selain kesediaan untuk menyelesaikannya tanpa tahu waktu dan tempat.
Lagi-lagi, di sela waktu menggarap pekerjaan dan membalas, aku cuma punya waktu untuk mendongak menatap pohon payung dari bawah. Beberapa menit berselang, aku jadi teringat kilasan yang menghampiriku beberapa waktu lalu.
Aku yakin, anak kecil itu memang diriku. Aku juga bisa tahu apa yang ia rasakan, bahwa saat itu begitu menyenangkan dan mengasyikkan. Tapi, sebelum sempat merasakan apa-apa lagi, aku keburu mesti fokus pada pekerjaanku lagi.
Aku tak punya waktu untuk merasakan apa-apa saat mengingatnya. Aneh sekali, seingatku, itulah satu-satunya kegiatan yang benar-benar aku nikmati di masa lalu; yang paling kuhargai; yang paling kunanti.
Aku tak pernah benar-benar menikmati kegiatan lain karena tak ada yang bisa dinikmati di hidupku kala itu.
Apakah sebetulnya, segalanya di kiara payung juga bukan apa-apa bagiku?
Tanganku menari lagi di atas papan ketik. Laporan ini sudah hampir selesai, asalkan pertemuanku dengan klien itu kali ini berjalan lancar. Yah, pokoknya, sudah tak ada lagi hal serius yang perlu kutambahkan saat ini, selain kata-kata pemanis.
Kudengar kiara payung ini menari. Beberapa daun keringnya jatuh karena tiupan angin dan semua daun lainnya bersentuhan sambil bergemerisik. Suaranya menyatu dengan suara papan ketikku yang berisik, sama-sama melantun, serupa tapi tak sama: santai dan repot.
Aku terganggu. Tidak, kurasa, saat ini pekerjaanku seperti pengganggu.
Rasanya, aku ingin berhenti, baik untuk mengetik atau mendengarkan gemerisik kiara payung. Keduanya saat ini hadir seperti bukanlah kemauanku. Kurasa keinginanku tak tercukupi di sini, melakukan ini.
Tapi, memangnya sejak awal, apa yang kuinginkan? Mau apa aku kemari?
Semilir itu datang dan pergi, pelan dan kencang. Aku tak peduli. Aku agak kesal karena perasaan yang sama sekali tak bisa kuidentifikasi kini tengah mengganggu rasionalitasku. Pikir saja, apakah pergi ke sini untuk kedua kalinya saja masih rasional?
Ya, harusnya aku tidak kemari kalaupun kepengin berteduh. Bahkan, workspace tempat pertemuanku dengan klien itu pun lebih sejuk dan nyaman dari di sini!
Rasa kesal mulai mempengaruhiku untuk mencela diri sendiri di masa lalu. Aku pikir, untuk apa dulu diri ini bengong selama berjam-jam di bawah pohon ini? Menemani? Ia tak bisa bicara, tak bisa memeluk saat aku sedih, tidak bisa pula bertepuk tangan bangga mendengar kisah menyenangkan dariku. Ia tak bisa apa-apa. Bukankah teman manusia lebih baik?
Bersantai? Dulu aku ini hanya buang-buang waktu. Padahal, aku bisa saja ikut les privat atau belajar saja di rumah. Ngapain segala kemari cuma untuk diam saja? Aku memandangi kiara payung itu dari atas sampai bawah dengan tatapan mencela meski ia tak salah apa-apa.
Setelah sekali lagi balas-membalas dengan orang kantor, aku lekas membereskan barang-barangku untuk segera pergi dari sana. Waktu janjianku masih satu jam kurang lagi, tapi aku sudah tak punya alasan untuk tetap ada di sini.
Sepertinya benar, kiara payung juga bukan apa-apa buatku.
Tapi aku mematung saat baru saja keluar dari bayangan kiara payung dan menyentuh sinar matahari, tepat saat semilir dan gemerisik itu datang lagi.
Semua kenangan bertubrukan di kepalaku seiring tubuh ini berbalik demi memandang si kiara payung itu sekali lagi, kiara payung yang lagi-lagi menari dan membuat suara gemerisik redam yang menyiratkan kebesarannya.
Aku menatapnya lekat. Kiara payung hampir sebesar trembesi … sepertinya aku benar-benar ada dalam negeri dongeng yang mustahil.
Aku ingat. Aku ingat setiap kali berteduh di bawah kiara payung dan hal-hal yang aku lakukan di sana. Aku ingat betapa tenang dan bahagianya aku karena bisa menghabiskan waktu milikku sendiri dengan sejuk meski sekitarku terik; dengan tenteram meski sekitarku berisik, dengan sendirian meski sekitarku selalu ingin punya teman.
Aku ingat bahwa kiara payung adalah sahabatku di masa kecil. Ialah pohon yang bukan milikku tapi sangat aku hargai, dan ketidakhadirannya akan membuatku sengsara.
Teduhnya, gemerisiknya, tariannya, batangnya yang terkadang hangat atau dingin terasa di punggungku tergantung cuaca.
Aku menatap kiara payung sambil berdiri, tanpa bergerak sedikit pun. Seharusnya, kiara payung, satu-satunya teman yang kuizinkan mengisi hari-hariku, sangatlah berarti sampai sekarang. Tidak, aku bahkan seharusnya ingin sekali bersamanya lagi setiap hari, menikmati diri sambil melakukan berbagai hal yang kubisa.
Tapi, nyatanya aku begitu dingin sampai menganggapnya cuma pohon besar tua yang lumayan untuk berteduh di hari ini. Aku jahat sekali, ya?
Betapa pun tenang dan pendiamnya aku sejak kecil, bagaimana bisa hatiku jadi sedingin ini? Apakah tak ada artinya kenangan-kenangan di masa lalu yang berhasil membuatku dengki bukan main karena tak bisa merasakannya lagi itu?
Aku yakin, mataku yang tengah bekerja menatap pohon besar itu tak terlihat lembut atau hanyut. Aku yakin, ia terlihat dingin begitu saja. Bukankah aku terlalu kurang bersyukur meski sudah diberi kesempatan untuk pernah merasakan momen itu?
Mengapa sekarang tak terasa, dan hanya seperti menonton waktu tak berarti? Kuraih batangnya yang tak sepenuhnya lurus itu dan kupandangi ranting-rantingnya dari bawah.
“Kiara … payung,” ucapku, untuk pertama kalinya bersuara sendiri tanpa maksud, di depan sebuah pohon.
“Mbak Kiara.”
Kukira, harusnya aku cuma bisa mendengar gemerisik dedaunan di tempat sepi ini. Tapi, kudengar suara manusia yang jelas-jelas menyebut namaku. Suara itu menyelinap di antara gemerisik yang pasang-surut, dan angin membuatku hampir tak bisa melihatnya karena mataku tertutup rambut.
Sudah kutolehkan kepalaku hingga sejajar dengan kepala pemilik suara itu dengan ekspresi terkejut. Kubenahi rambutku demi memuaskan rasa penasaran akan orang yang bisa-bisanya menyebut namaku di lingkungan yang tak kukenal di masa ini. “Bang … Insan?”
“Saya pikir kita ketemu di workspace Jalan Kenari?” ia mendekat, menanjak hingga sejajar denganku dan kiara payung. “Kenapa bisa di sini?” Itu suaraku. Aku sama sekali tak menyangka seorang Insan yang harusnya bersua denganku secara profesional, sekarang ada di hadapanku yang tengah campur aduk akan kehidupan pribadi lampau.
Tanpa menjawab, ia hanya memberikan selembar kertas lebar padaku dan aku terlalu kebingungan untuk menolaknya. “Belakangan ini, saya suka gambar pohon, manual.”
Aku masih tak tahu harus bicara apa. Melihat wajahku, Insan agaknya tahu bahwa ia harus melanjutkan ocehannya itu sendirian. “Ini pohon kiara payung,” katanya, menunjuk sang kiara payung dan gambarnya bergantian.
“Saya gambar, dari belakang sana.” Ia menunjuk ke lahan yang lebih tinggi dari tempat kami bersua, posisinya ada di belakang pohon.
Aku terdiam, tapi tak lagi kebingungan. Kuusahakan mengembalikan fokus agar tahu harus bicara apa kepada orang aneh yang datang-datang seenaknya ini.
“Hari ini, Bang Insan mau gambar lagi?” tanyaku sopan. “Tadinya, sebelum saya lihat kamu,” jawabnya sambil menoleh pada pohon kiara itu. “Padahal janji kita tinggal 15 menit lagi?” Ia menatapku tajam namun penuh kejut.
“Bang Insan … mau kabur lagi, ya?” mataku menyipit. Segera, ia melambaikan tangannya di depan dada dan bergumam, “Oh enggak, enggak. Mana mungkin.”
Dari sana aku tahu, itu memang niatnya. Dasar cowok menyebalkan.
Kusadari gambar kiara payung yang sebelumnya ia berikan padaku. Kulihat, sudut itu sama sekali asing meski ini adalah pohon yang sama. Aku belum pernah melihat kiara payung-ku dengan cara seperti itu. “Ini, buat saya?” kupastikan kepemilikan sketsa itu.
“Kayaknya, Mbak lebih butuh.”
“Atas dasar apa, Bang?” Aku benar-benar tidak mengerti maksudnya, tapi di telingaku, kata-katanya menyebalkan sekali.
“Saya cuma iseng gambar. Pokoknya, buat Mbak Kiara aja. Toh, namanya sama,” ia buang muka. “Anggap aja ini permintaan maaf saya karena suka hilang.” Wah, dia benar-benar slengean.
Apa pun. Kutatap sketsa itu sekali lagi, dan kupastikan berkali-kali bahwa kiara payung ini adalah kiara payung itu.
“Saya orangnya pelupa. Kalau tertarik sama apa yang saya lihat, langsung saya gambar.” Insan berceloteh lagi. Astaga, tidak ada yang bertanya.
“Kalau lagi lihat gambar-gambar saya yang dibuat dari hati, saya ngerasa hangat.” Wah, puitis juga dia. Sangat bertolak denganku. “Jadi, gambar-gambar itu bikin saya ingat lagi, hidupin ingatan saya lagi.”
Rupanya begini ya, kehidupan orang yang terkenal karena bakatnya. Prinsipnya sangat layak diperdengarkan dan didengarkan, meski aku sebelumnya benar-benar tak tertarik.
Aku masih kebingungan akan waktu ini. Ini bukanlah tempat di mana aku bisa bertingkah profesional, tapi orang yang kukenal karena kehidupan profesionalku sekarang ada di sini tanpa aba-aba. Personaku benar-benar campur aduk, ditambah perasaan anehku soal kiara payung.
Kucoba kembali sadar meski sulit, pertama-tama, dengan bermaksud memasukkan sketsa pemberian Insan ke tas laptopku. “Mbak Kiara,” panggilnya, menghentikan aksiku.
“Gambar yang saya bawa itu bisa kerasa hidup. Gambar yang muncul di ingatan kita juga bisa, tergantung kita. Mbak, manusia itu udah kodratnya menikmati dan menghidupkan ingatan-ingatan mereka, gambar-gambar yang dilukis otak mereka setelah mereka sentuh dan lihat di masa lalu.”
Apa aku sedang ada di seminar sekarang? Bicara apa dia?
Bicara apa dia?
Bicara apa dia? Aku memikirkan perkataannya yang tak banyak mengenalku secara pribadi … tahu apa dia?
Bagaimana … bicaranya terdengar sangat masuk akal, dan bagaimana boleh aku terenyuh dengan perkara tak penting dan tak berharga ini daripada urusanku dengan Insan yang seharusnya?
… Tak berharga?
Dasar bodoh, rupanya aku selalu bersandar di kiara payung di masa lalu karena tahu bahwa aku tak akan menghargainya lagi sekarang. Aku selalu melakukannya setiap hari agar hari ini bisa jelas-jelas menonton waktu, demi menghidupi hatiku lagi.
Setelah beberapa detik mematung dan membiarkan diriku merasakan segalanya, aku mengajak Insan pergi dari kiara payung dengan tersenyum tipis. Bagaimana pun, kami harus bekerja seperti seharusnya, ‘kan?
“Soal gambarnya, makasih ya, Bang.”
Kubelakangi si kiara payung yang mulai tampak menjauh, tapi kuberbalik dan kutatap lagi ia bersama diriku di masa lalu. Diriku yang penyendiri tapi penuh senyum setiap ada di sana.
“Sama-sama, selamat hidup,” Insan tersenyum simpul. Oh, jangan-jangan, ia bisa tahu apa yang kupikirkan karena pernah merasakan hal serupa?
Satu pohon kiara payung bisa menjadi sangat berharga buat Kiara. Dan satu atau setiap manusia, juga mulai tampak berharga dengan cara pikir dan pengalaman mereka masing-masing yang selalu membuat Kiara takjub.
Komentar
Posting Komentar