Sesal yang Tak
Sesal yang Tak
"Lily ada di mana, ya?"
Sepasang kaki terus mondar-mandir di tengah festival yang ramai bukan main kala petang jingga itu. Kalau dipikir-pikir, agaknya petang kemarin, atau kemarinnya lagi, tak pernah sejingga ini.
Ini pertama kalinya si pemilik sepasang kaki itu mampir ke kampus orang yang dicari-carinya sambil bicara sendiri.
"Permisi," katanya pada dua perempuan yang sedari tadi sibuk memperbincangkan acara gonjreng-gonjreng yang katanya akan berlangsung sedetik-dua detik lagi, katanya, "Gue gak kenal itu cewek, anjir. Katanya dia pengganti."
"Ya?" jawab salah satunya.
"Saya lagi nyari teman saya, katanya dia panitia acara ini. Kenal Lily, gak?"
"Oh?" Si penjawab beralih pada kawan di sampingnya. "Itu kan yang dari tadi kita omongin!"
"Dia nyan-" jawabannya terpotong suara gitar yang tiba-tiba menggema ke seluruh area festival.
"Li ... ly?" Si pencari belum tuntas memahami apa yang terjadi, tapi ia keburu dikejutkan lagi dengan suara lain yang menyebut nama "Lily"-nya. Cowok itu sama tinggi dengannya, sama gondrong dengannya, sama cungkring dengannya. Ia ingin bertanya-tanya, siapakah orang yang tak jauh darinya itu, tetapi suara Lily yang dikenalnya memotong pikiran itu dengan alunan.
"Kalau memilih menyukaimu, aku akan menyesal, I know,"
"Kalau memilih mencintaimu, aku akan hancur, I know,"
"Begitu pun, aku terus jatuh padamu,"
Tenggorokannya memanas. Inikah Lily yang ia kenal? Ia bahkan tak tahu kalau suara Lily begitu indah tetapi tegas begitu saat bernyanyi.
"Lily ..." cowok di sekitarnya itu menggumamkan Lily lagi, membuat dirinya kesal. "Permisi, kenal Lily?" tanya-nya dengan alis bertaut.
Lawan bicaranya diam, mencerna pertanyaan dan penampilan orang di hadapannya.
"Hal itu semakin menjadi-jadi,"
"Siapa, ya?" tanya cowok itu. "Saya Ardhan, Kakaknya Lily," jawabnya cepat, tak mau buang-buang waktu.
"Lho, Lily gak punya kakak." Cowok itu maju selangkah, menantang. "Lo siapa? Gue dekat sama Lily," tegasnya.
Ardhan yang sedari tadi mencari Lily itu, terkejut dengan respon yang diperolehnya. Begitu pun, "Ngapain cowok ngaku dekat sama cewek yang udah punya pacar?" tanyanya dengan nada balik menantang.
"Gue temannya, Kakak yang dekat juga sama dia," omongannya terdengar rancu, tapi cowok itu langsung paham maksudnya. "Gue Bintang, kating-nya di himpunan."
"Aku sangat takut padamu,"
"Oh. Salam kenal, kalau gitu." Ujar Ardhan, masih dengan tampang sinisnya yang seolah tak terima ada laki-laki lain yang bukan siapa-siapa, dan mengenal Lily dengan baik.
Padahal, ia juga termasuk laki-laki itu.
Di sisi lain, Bintang menatap Lily lurus sambil merasakan tak ikhlas memenuhi hatinya. Ia bahkan merasa kesal melihat Lily menyanyikan lagu seperti itu dengan khidmat.
"Kamu yang membuatku jadi seperti ini,"
"Aku ingin menghapusnya,"
"Cowoknya gak marah apa, dia nyanyi lagu begitu?" Bintang berkomentar sendiri, niatnya. Namun, Ardhan akan menimpali.
"Aku sangat takut padamu,"
"Cowoknya Lily bukan orang kayak gitu,"
"Siapa kau, berani membuatku menangis?"
Ardhan merasa dadanya nyut-nyutan, "Gak bakal bikin dia nangis juga."
"Tolong, pergilah."
"Cabut, ya." Ardhan pamit seadanya dengan cowok tak dikenal disampingnya itu, bahkan tanpa meliriknya sama sekali. Bintang tak merasa itu aneh karena lagipula, lagunya sudah akan selesai.
"Gue juga mau cabut, kok," sahutnya dengan gelagat sama persis dengan Ardhan: tak acuh, seadanya bak berpamitan dengan angin lalu.
Keduanya pergi, seiring tepuk tangan redam yang terdengar usai nyanyian seorang gadis tak dikenal; gadis panitia yang tahu-tahu ditakdirkan menjadi seorang penyanyi petang bersuara tegas menyanyikan lagu patah hati.
Gadis itu tak lantas mempedulikan riuh redam itu. Ia langsung saja turun dari panggung sambil berkata pada seseorang di pangkal tangga, "Karena gue udah mau nyanyi, tugas kepanitiaan gue kelar semua hari ini. Kayak janji lo tadi!"
Langkah cepatnya mengiringi jawaban "yaaa, yaaa, yaaa," dari orang itu. Terburu-buru, ia cuma menatap satu kepala di antara kerumunan: laki-laki yang dipikirkannya selama bernyanyi.
"Bub!" ia menepuk pundak orang bertinggi sedikit lebih darinya, berambut mangkok yang agak berantakan, berkacamata, dan bercelana gombrong itu. "Hai! Suara kamu bagus, banget. Gimana nyanyinya? Seru?" tanggapnya.
"Iya! Lagunya enak,"
"Meskipun aku gak relate!" Lily nyengir lebar, membuat "Bub"-nya gemas sampai mengelus rambutnya.
"Ayo kita makan!" Ditariknya lengan cowok itu, sambil segera ia menepis bayangan dua orang yang dikenalnya berdampingan, dilihatnya dari atas panggung tadi.
Dua orang yang dengan tepat, dalam rentang waktu berbeda, bisa jadi perwujudan lagu yang dinyanyikannya, tetapi tidak dan tak akan pernah lagi.
Komentar
Posting Komentar