Kuharap Itu Kau!

 Kuharap Itu Kau!

Pinterest/Tertera

Aku tak pernah menyangka diamku justru akan menarik seseorang yang kusukai mendekat. Kupikir, semua akan selesai dan perasaanku akan jadi angin lalu dengan sikap seperti itu. Lagipula, aku memang orang yang menganggap jatuh hati sebagai sampingan yang cuma bertugas mewarnai hidup, bukan menopangnya.

Ada bertumpuk-tumpuk meja dan kursi yang diletakkan di depan kelasku. Aku suka sendirian, jadi aku memakainya untuk duduk-duduk--di atas meja, aku tahu ini buruk, tapi tak ada yang peduli pada meja bersusun yang tak terpakai itu--sambil membaca novel. Biasanya, pukul 1 sampai 3 siang itu angin tengah sejuk-sejuknya (baca: di musim penghujan) dan aku, setiap hari, selalu berdoa agar guruku sembelit atau harus rapat dadakan di jam itu agar aku bisa nongkrong saja di depan kelas. Sendirian.

Saat itu, aku juga sedang demkian saat Banu, cowok yang kusukai, tiba-tiba nongol dan meniru posisiku. Aku, yang tengah duduk selonjoran dengan kakiku yang sama panjangnya dengan lebar meja, dibuat kaget karena kakinya pas sekali ditangkupkan di telapak kakiku yang tertutup sepatu. Ia memakai meja lain untuk duduk di depanku, dan melakukan hal yang sama denganku. Tentu saja, tanpa novel di tangannya, cuma tangan yang rapi ia letakkan di atas paha kakinya yang sebenarnya lebih panjang dari lebar meja itu.

" … Ngapain?" tanyaku, terlalu bingung untuk tampak antusias. "Gak suka?" tanyanya, narsis.

Dia memang narsis. Itu alasanku tak mau terlalu memujanya meski hatiku jatuh tepat di atas tampangnya. "Gak peduli, sih," tukasku sambil balik melihat novelku tanpa membaca satu kata pun.

Kami diam, dan ingatanku selesai sampai di sana. "Hm, sweet banget."

"Apa?" Kau mengalihkan perhatianmu dari ponsel yang terus kaugulir itu jadi padaku karena tahu-tahu bergumam sambil bengong. "Ingatan aku."

"Ingatan apa?" Kau betul-betul hobi bertanya, aku suka itu. Jadi kujawab, "Dulu. Cowok yang kusukai. Adegan sweet."

Matamu menyipit, bukan karena heran dengan responku yang sepotong-potong. Kau sedang mengolah kata, mencerna maksudku dan … , "Siapa? Apa?" ... menyiapkan pertanyaan selanjutnya.

"Ada, deh," kataku. "Tapi ... " Dia sekarang benar-benar mengunci ponselnya dan menghadap dudukku di taman yang sepi itu. "Apa?" Aku kepengin tertawa, tapi kutahan.

"Apa pendapat kamu kalau aku suka salah satu kejadian di masa lalu, sama cowok lain, tapi aku gak suka cowok itu sekarang?"

Kau mikir, agak lama. Mungkin menimbang-nimbang karena kau suka sekali padaku. Yah, aku juga suka aku--maksudku, kau.

"Kenapa bisa begitu?"
"Ya, aku suka kejadian itu, dan aku harap cowok itu, dulu, kamu."

"Ah!" Kau frustasi, "Sebenarnya, adegan apa, sih?" Sepertinya kau mulai berpikir yang tidak-tidak tentang adegan itu. Kubilang, itu cuma adegan kaki aku dan dia yang berhadapan dan bersetuhan waktu duduk di atas meja sekolah. Dan, kubilang juga kalau dia duluan yang memulai hal itu.

Mana kutahu kalau cuma gara-gara itu, kaubakal menggendongku menuruni kursi taman dan memaksaku duduk selonjoran di atas rumput, terus kau melakukan hal yang sama, seperti dulunya orang yang sekarang bahkan tak ada di hatiku?

Kalau begini, aku jadi tersenyum lebar sekali sampai membuatmu kaget dan terpongo-pongo karena pertama kali melihat mukaku yang nyengir parah sampai memerah, 'kan.

Dan aku jadi lupa sepenuhnya ingatan yang dulu. Kalau ada yang bertanya saat aku menyebut, "Hm, sweet banget," aku akan menceritakan kisah ini lagi dari awal.

-25 November, tak terjadi juga tak apa.

Komentar

Postingan Populer