Pagi Selalu Indah? Ya!

 Pagi Selalu Indah, Ya?

Ilustrasi: Pinterest

MATAHARI belum lama menyingsing, bayangan gelap tubuhku yang dilahirkannya tercipta begitu lonjong, padahal aku sendiri sedang duduk. Aku akui, memang tidak bisa menatap si superterang itu lamat-lamat—lagi pula, siapa yang bisa?—meski bahagia saat dia muncul. Tapi kebahagiaan itu belum pernah berkurang meski aku sudah hampir dua puluh lima tahun hidup dan sekitar dua puluh tahun tahun menyukai kehangatannya.

Aku seperti patung dengan mata hidup. Tubuhku tidak bergerak bahkan hampir dua puluh menit saat tengah memandangi atap-atap rumah yang perlahan diguyur cahaya pagi. Warnanya keemasan, terlihat sangat cerah dibandingkan saat aku melihatnya lagi kala senja, sepulang dari kantor.

Aroma ini tak pernah dihiraukan, alias dianggap tak penting. Namun saat aku melihat pucuk-pucuk pohon yang tingginya tidak setara sama sekali itu berkelip-kelip seperti bintang yang tengah berdansa, aku mencium aroma yang sangat indah. Aroma pagi hari.

Tidak bisa dideskripsikan, memang. Beberapa orang akan menganggapnya bau debu yang tak lebih enak daripada petrikor. Bau debu kering dan panas yang membuat kita semua rasanya ingin pindah dari bumi yang sudah agak hangus ini. Lain lagi buatku. Sepertinya bau-bauan ini adalah aroma memabukkan paling nikmat yang bisa kunikmati dengan legal.

Aku bukanlah orang yang positif, yang menganggap pagi hari adalah masa penuh semangat dan bisa dinikmati begitu saja. Aku benci bekerja dan suka bermalas-malasan: menonton siaran atau sekadar membaca buku tanpa melakukan kegiatan lain. Tapi, pagi hari bagiku adalah suatu hal yang lain—lain dari sekadar pagi hari yang memberi ilham rasa semangat dan membuat orang-orang positif itu melangkah ke kantor dengan penuh senyum.

Coba lihat, pantulan yang sangat mewah di atas daun-daun itu! Coba lihat cahaya keemasan yang bergerak sangat pelan dan nyaris tak terlihat, menenggelamkan seluruh kota bising ini dengan pertanda bahwa hari sudah dimulai lagi. Bahwa bumi ini berputar dan hidup pula. Bahwa kita hidup dalam dunia yang hidup dan tak pernah berhenti bergerak.

Hangatnya suasana saat ada matahari menghilangkan kelembapan di buku-bukuku. Kertas-kertasnya dibuat tidak jadi bergelombang. Aromanya yang bercampur dengan tumpukan kertas berisi duniaku itu membuatku lebih bahagia dari siapa pun.

Biasanya aku mengamati keindahan mutlak itu sembari duduk di balkon kamar apartemen. Sendirian, tentu saja. Meski sebenarnya ditemani dua tiga kupu-kupu warna putih yang entah bagaimana rela keluyuran di tempat yang sebenarnya tak indah sama sekali ini. Tapi biarlah, mungkin mereka memutuskan untuk boleh saja sayap-sayapku agak pegal, yang penting perempuan ini bisa melihatku dan tidak sedih karena sendirian. Ya, jika benar begitu—meski tidak mungkin!—terima kasih, kupu-kupu.

Tidak ada jam di balkon. Aku biasanya melihat letak matahari untuk menentukan kapan aku harus kembali bangkit dengan malas-malasan dan bersiap memulai kegiatan, diawali dengan menyiram tanaman-tanaman kecilku yang sekiranya perlu disiram. Kita tahu, tak semua tanaman perlu disiram setiap hari.

Belakangan ini, sebuah suara datang selalu beriringan dengan waktu yang tepat untuk menyiram tanaman. Kadang, saat aku terlalu fokus melihat pemandangan kota bising sampai tidak tahu bahwa aku sedikit terlambat, suara itu dengan sangat tepat memperingatkanku untuk sadar dan mulai menyiram tanamanku.

Sret, sret

Dengar, suara itu terdengar lagi, tepat saat aku sedang melamun. Suara yang perlahan mendekat seperti akan tiba di depan hidungku lalu menjauh sampai tak terdengar lagi.

Sebelum suara itu menjauh, aku, seperti biasa, akan perlahan melangkah ke tepi balkon dan melongok ke bawah, ke halaman di lantai bawah sana. Hari ini rupanya aspal itu agak basah. Sepertinya ada hujan turun saat pagi buta tadi. Aku lantas ingat bahwa musim kemarau belum sepenuhnya datang. Mungkin aku harus bawa payung hari ini meski kemarin tidak hujan sama sekali, pikirku.

Aku melongok, lalu melihat asal suara yang mulai jadi makin dekat itu. Sepasang kaki dengan sepatu kets hitam, melangkah dengan tidak mantap sama sekali menyusuri jalan sempit yang bermuara pada jalan raya sana. Saat tengah memperhatikan, kupu-kupu putihlah yang benar-benar lewat di depan hidungku, bukannya sepasang kaki bersepatu itu. Melihatnya, aku lantas menyiram beberapa tanamanku. Lalu lanjut memperhatikan kaki yang berisik itu.

Sekarang dia ada di sebelah kanan. Suaranya juga sudah sedikit mengecil. Cepat sekali dia berjalan, eh, tapi tidak juga. Jika kupikir-pikir, menyiram tanaman seharusnya lebih lama dari sekadar byur-byur. Soalnya, aku selalu menyirami tanaman pelan-pelan, seperti semua orang, lah. Jadi, kalau kaki itu melangkah cepat, dia seharusnya sudah hilang.

Tapi belum. Pemilik kaki itu cuma melewati gedung apartemen kecil ini saja. Lagi pula, entah apakah bangunan ini bisa disebut apartemen, tapi biarlah. Konsepnya memang kecil dan sederhana, tapi dalamnya cukup mewah, kok.

Intinya, kaki-kaki itu tidak berjalan cepat, sebenarnya. Dia pasti sama pula seperti aku dan budak korporat lain, tidak semangat untuk mencari uang. Ah, sekarang aku sepenuhnya cuma bisa melihat sosok belakangnya saja. Celana bahan gombrong warna cokelat muda membalut kaki panjang itu. Suara dari kakinya makin pelan saja. Aku lagi-lagi menatap kedua sepatunya. Bukannya sepatu itu bakal segera rusak kalau diseret-seret begitu terus?

Aku beralih pada badannya. Dia memakai jaket biasa berwarna olive. Oh, paduan warna yang serasi, pikirku lagi. Posturnya bagus-bagus saja. Aku jadi lupa melihat wajahnya sebelum menyirami tanamanku tadi. Tapi biarlah, peduli amat. Kalau dia tampan juga mau apa? Aku harus naksir? Tidak juga. Lagi pula bisa saja dia sudah punya keluarga. Di lingkungan ini, tak banyak individu yang sendirian. Jalan tua, lingkungannya sudah ada sejak berpuluh tahun yang lalu meski dirombak sana-sini karena kaum kita sekarang makin kekurangan tempat tinggal.

Meski begitu, tolonglah, aku gemas sekali. Meski bunyi seretan sepatu itu yang membantuku sadar dari lamunan tiap pagi, tapi lama-lama aku kepikiran pula kalau lama-lama sepatu itu rusak. Tuhan, kalau pria itu punya pasangan, please biarkan perempuan itu melihat cara berjalannya setiap pagi dan memarahinya. Sepatu sedang mahal sekarang, sepatuku saja cuma dua.

Aku sedikit cemberut memikirkan sepatunya yang sebenarnya sama sekali bukan urusanku. Masih dengan ekspresi ini, mataku tertuju pada kepalanya yang tak ditutupi apa pun itu. Dia menunduk, sepertinya tengah melongok ponsel. Dia sekarang sudah beberapa meter sebelum sampai di ujung jalan sana. Suara sepatunya sudah tak terdengar. Entah kenapa kulihat langkahnya makin lebar saja, tak seperti awal-awal tadi … sepertinya dia sadar langkah menyeretnya itu buang-buang waktu.

Kepalanya mendongak saat melihat bus melintasi jalan raya dengan cepat. Ya, seingatku dia memang akan naik bus. Aduh, aku bukannya niat sering memperhatikannya setiap lewat, tapi kau kalau jadi aku juga akan merasa tertarik untuk tahu siapa yang selalu lewat di depan rumahmu dengan tepat waktu sampai kadang-kadang membantumu tahu jam berapa sekarang, kan?

Kulihat bus itu sepertinya agak melambat di ujung gang, empunya sepasang kaki berisik itu pun tidak jadi berlari saat mengetahuinya. Tidak seru, padahal dia sudah ancang-ancang tadi. Kupikir akan menarik kalau melihat orang yang jalannya tidak jelas itu berlari. Sekarang, jalannya cuma makin cepat saja.

Rambutnya melompat-lompat mengikuti langkahnya itu. Dari situlah aku tahu sadar kalau rambutnya agak gondrong. Omong-omong, meski kubilang dia hampir sampai di ujung jalan, sebenarnya ujung jalan tidak sejauh itu dari bangunan tempatku berdiri sekarang. Jaraknya cuma empat rumah kecil saja. Jadi, bukannya aku punya mata elang sampai bisa melihat rambut keringnya dari jauh.

Ya, rambutnya agak kering kecoklatan kalau diperhatikan dari dekat. Dari jauh, rambut itu hanya akan tampak kering saja, tidak cokelat. Angin-angin dari berbagai kendaraan yang lewat di tepi jalan raya sana membuat rambutnya berkibar-kibar, padahal sepertinya surai itu tidak segondrong itu.

Aku tak sadar posisiku makin berubah selagi memperhatikan “objek penelitian”ku pagi hari ini. Dia sepertinya jadi cahaya matahari pengganti. Kalau cahaya-cahaya itu punya perasaan, mereka akan cemburu tidak, ya, aku memperhatikan langkah pelan seseorang tak dikenal daripada jalaran mereka yang perlahan mengguyur kota?

Sudah terlambat saat kudengar suara wanita tua berkata awas! sebelum sikuku terantuk pada pot tanamanku sendiri, menjadikannya jatuh ke lantai balkon dengan suara pecah yang cukup keras. Setelah melihat bangkai pot itu lalu menoleh pada wanita tua yang berdiri di balkon apartemen sebelahku, dia mendengus—selayaknya wanita tua yang suka mengomel pada kesembronoan—lalu menyuruhku untuk segera membereskan pecahan pot sebelum itu melukai tangan atau kakiku sendiri.

“Rapikan yang bersih, jangan sampai ada pecahan yang bikin kesusuban,” katanya seraya pergi dari balkon, tanpa membiarkanku bertanya apa arti kesusuban. Saat  dia melipir dengan kedua tangan yang saling menggenggam di belakang tubuh, sedikit-sedikit kudengar nenek itu bergumam oalah, tresnoo … tresnoo. Lagi-lagi, aku tak tahu pula apa maksudnya.

Aku lekas berjongkok, memunguti pecahan pot tanah liat itu dengan kedua tangan dengan hati-hati. Aku sudah tak memperhatikan apa pun lagi pagi itu, mau itu pria yang cuma berjalan ataupun cahaya dan aroma mentari pagi. Aku tak tahu apa pun lagi selain pot tanaman yang pecah.

Aku bahkan tak tahu kalau pria yang sedang aku perhatikan itu berbalik dan menyipit memandang arah suara pecah yang begitu nyaring, tanpa mendapati apa pun selain rambut panjang wanita yang sedang memunggunginya di ujung sini. Semua itu tak memuaskan rasa ingin tahunya tentang apa yang terjadi atau benda apa yang hancur sampai menimbulkan bunyi tak main-main bisingnya itu.

Aku tak tahu sama sekali pula kalau pria itu bakal berpikir melihat kuntilanak pembawa kehancuran di pagi yang masih dingin baginya, karena rambut panjangku dan bunyi berisik yang kusebabkan.

 

 

Besoknya pagi datang lagi. Aku yang bangun jam setengah enam sudah duduk di balkon lagi. Aku juga sudah lupa insiden kemarin dan melamun lagi sambil menikmati cahaya matahari dan bling-bling pucuk pohon-pohon yang bergoyang jauh di sana. Hidungku sudah menangkap aroma pagi hari yang tak disadari orang-orang lagi. Kulitku sudah merasakan kesejukan yang perlahan hilang seiring naiknya matahari, lagi.

Sret, sret

Suara seretan kaki itu terdengar lagi. Aku buyar dari lamunanku lagi. Lalu aku ingat semua masalah yang dan rasa malu yang kemarin timbul. Minatku sangat tipis untuk melongok lagi ke pemilik kaki itu. Tadinya aku akan begitu.

Kemudian kudengar suara seretan kaki yang tiba-tiba jadi tak teratur dan rutukan yang membuatku sangat tertarik: sepertinya rutukan ah elah itu berasal dari pria kemarin, dan suara seretan kaki yang tak teratur itu juga berasal dari kaki yang sama, hanya saja sekarang ada masalah dengan kaki itu.

Aku buru-buru melongok ke bawah sana lagi. Entahlah, mungkin jiwa manusiawiku mencuat karena suara asing yang kupikir berasal dari sesuatu yang tak beres. Entah ada kecelakaan kecil atau apalah itu yang buruk-buruk.

Yang kulihat di sana, sepasang sepatu tak beriringan lagi. Satu sepatu memang masih membalut kaki dengan rapi, tapi yang satunya terpental sekitar satu meter jauh dari yang lainnya, menyisakan kaus kaki pendek berwarna abu-abu tua yang masih membungkus kaki seseorang.

Dia masih mendengus sambil memegangi lututnya. Aku sendiri juga masih belum paham apa masalahnya, yang jelas kakinya mungkin terkilir karena dia berjalan dengan agak tertatih untuk mengambil satu sepatunya di depan sana. Dia terus tertatih seperti itu sampai sedikit lebih jauh menuju ujung jalan sana. Makin jauh dia, aku makin kasihan. Bukannya dia akan makin lama dalam perjalanannya dengan kaki begitu?

Oh, tidak. Aku seharusnya tidak mengasihaninya sama sekali. Dia belum jauh dari bangunan apartemenku, tapi posisinya cukup untuk membuatku bergeser dan terus bergeser mengikuti titik berdirinya.

Lagi.

Instingku bagus, buktinya aku tak memecahkan pot lagi. Tapi, entahlah ini kesialan atau apa. Aku dibuat panik lagi saat sikuku menyentuh pot lain yang dengan bodohnya kuletakkan di tempat pot yang pecah kemarin berdiri. Aku juga bingung apa maksudku mengisi tempat sial itu. Siku sialan ini juga membuat pot itu bergoyang-goyang. Sembil menggenggam kedua sisinya, aku tanpa sadar merutuk agak keras: “Oh, please-lah, please-lah! Jangan jatuh!”

Mataku memelototi pot itu dengan tegas, seolah pot itu tidak akan jatuh karena takut akan kuomeli. Padahal, sudah jelas pot itu tidak akan jatuh karena kugenggam. Belum redam adrenalinku terpicu karena insiden bodoh yang hampir terulang. Kudengar seseorang menyahut dari bawah sana, menatap sosok berambut panjang ini dengan pandangan aneh.

“Saya enggak bakal jatuh lagi … “ cicitnya segan sambil memegangi lutut kanannya. Ungkapan segannya itu sangat kontras dengan karakter suaranya yang berat, membuatku bingung juga harus merespon bagaimana. Apa maksudnya? Siapa yang jatuh, Anda? Anda sudah jatuh tadi. Eh? Benakku.

Tanganku sudah tak lagi memegangi pot yang tadi hampir jatuh itu. Aku hanya memegangi tembok pendek yang jadi pembatas tepi balkon ini, tembok yang kuisi pot-pot kecil pada pinggir-pinggirannya. Tuhan, tolong aku, sepertinya dia salah paham kalau aku mengkhawatirkannya.

Dia menghadap padaku sekarang. Mendongak dengan rambut kering kecoklatannya yang agak gondrong kalau diperhatikan. Pagi ini dia memakai jaket berwarna cokelat kayu dan celana hitam yang lagi-lagi panjang. Selebihnya sudah tidak kuperhatikan lagi apa yang dia kenakan.

Aku lihat wajahnya yang mendongak dan menatap lurus padaku itu. Di sini tidak ada angin, padahal beberapa menit yang lalu masih ada. Aku jadi gerah karena sudah terpapar cahaya sekarang. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dariku. Alis kirinya yang terangkat seolah menunggu respon dari orang yang dia ajak bicara ini. Padahal aku juga diam, tidak tahu mau bicara apa dan akhirnya malah balas menatapnya dengan muka bodoh, berharap dia mengalihkan pandangan duluan.

Sambil menunggu, aku hanya menatapnya saja. Melihat dengan lekat.

Oh, jadi itu wajah pemilik kaki berisik yang sering lewat di waktu yang sangat tepat tiap hari kerja.

Oh, jadi begitu suara orang yang biasanya hanya menimbulkan kebisingan dengan kakinya.

Oh, jadi itu …

… Oh …

“Oh, ya—oh, hati-hati di jalan, Mas. Kayaknya kaki Anda—oh—lumayan sakit,” kataku dari atas sini setelah berpikir sedikit soal ucapan apa yang harus kulontarkan untuk menyudahi lomba menatap ini. Aku gerah. Aku harap pagi ini hujan saja dan tidak ada sinar matahari.

Aku bicara begitu sambil menatapnya, masih berharap dia memalingkan matanya duluan. Tapi ternyata tidak. Oh, ada apa, sih, dengannya?

Dia masih menatapku selama beberapa detik seusai aku bicara. Kemudian, barulah dia membuka mulutnya meski tanpa memalingkan semili pun pandangannya.

“Oh, makasih. Ah, kalau saya boleh saran, mungkin pot-pot itu lebih baik dipindah saja biar lebih aman,” dia menunjuk pada pot-pot tanamanku, “Oh … “ dia ber-oh-oh pelan setelah pandangannya beralih pada rambutku yang tidak dikuncir.

“Saya duluan … kalau begitu. Permisi!” suaranya kembali menegas, persis seperti saat dia merutuk ah elah pertama kali tadi. Dia mulai berjalan dengan sedikit lebih normal setelah mendapat anggukan sopan dariku.

Lalu dia hampir jatuh lagi terantuk batu di pinggir gang ini meski dia berhasil menyeimbangkan dirinya.

Aku tak tahu apa yang membuatnya hampir jatuh dua kali pagi itu. Belum, sampai dia menceritakannya pagi ini, duduk di balkon apartemenku sambil berbinar-binar pula memandangi cahaya matahari.

Dia bercerita kalau dia sibuk senyum-senyum setelah bicara denganku, denganku yang dikiranya kuntilanak pagi buta karena rambut panjang yang kini tengah kukuncir. Aku mendengarkan ceritanya yang berkumandang setelah aku menyelesaikan kisah tentang pertemuan pertama kami sambil menguncir rambut, dan dia melamun manatapiku dengan pandangan persis seperti aku melihatnya tiga tahun lalu itu.

Untungnya, saat ini tidak ada pot yang akan jatuh karena dia tak terus bergeser.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer