Langit Ujung Waktu

 Langit Ujung Waktu

Foto: Pinterest

Malam Sabtu. Aku melongok pada langit hitam keabu-abuan di atas kepala. rambutku yang panjang disapu angin meski aku terduduk penuh diam. Di atas motor, saat aku dibonceng untuk keperluan tak penting selama sekitar dua puluh menit.

Dua sisi kepalaku tersumpal penyuara telinga, tidak menikmati momen apa pun di luar sana. Pemboncengku lirih-lirih berbicara meski suaranya terpendam bunyi angin yang tak mau mengalah untuk turut menjahili gendang telingaku.

Entah apa yang coba ia bisikkan, yang kudengar selalu sama. Wus-wus. Sengaja mengganggu fokusku yang memang sudah terganggu selama beberapa hari ini. Aku diam saja, bersedia dibuat keberisikan dengan suara-suara yang tak jelas maknanya itu.

Apa mereka mencoba membuatku sadar dan kembali pada realita atau justru menenggelamkanku dalam bayang-bayang, aku tidak tahu. Suara itu tak kunikmati sekalipun kubenci. Aku biarkan saja mereka lewat pada jalur-jalur rambutku yang tersingkap.

Lampu-lampu jalan sampai lampu belakang kendaraan berderet rapi di depan kami. Jalanan macet. Aku masih bodo amat, tak peduli, tak kesal, apalagi menikmati. Di mataku, cahaya-cahaya itu menjalar jauh ke depan dengan ujung gelap gulita: langit malam akhir tahun yang kali ini tampaknya tak cerah sama sekali.

Di antara cahaya merah-merah itu, langit menggantung seolah ruang hampa yang menyelimuti dunia kami. Dia tak punya kuasa untuk bersinar dan memilih mengalah pada cahaya buatan yang makin dilihat makin tak alami itu. Langit itu seolah tak ada artinya, tak seperti ketika ia terhampar luas di siang hari.

Kapan-kapan, seolah langit itu bisa saja disentuh. Ia tampak dekat dan mengurung, padahal aku tahu betul kenyataannya tidak seperti itu.

Ini semua tak elak gara-gara lampu-lampu kendaraan yang bikin pusing. Otakku jadi kemana-mana.

Saat itu, aku spontan bertanya, entah pada diri sendiri atau semua makhluk di Bumi ini: Apakah detik ini, selain aku, ada orang-orang yang boleh jadi memperhatikan langit hampa itu sedemikian serius? Bukan mencari bintang atau pesawat yang lewat, tetapi melihat pekatnya langit itu sendiri.

Jawabannya sudah pasti, pastilah, banyak orang yang melakukan hal yang sama. Aku dan langit tak sebegitunya istimewa sampai hanya saling menatap berdua saja.

Saat aku tengah sibuk mendongak sambil terus duduk di atas motor yang berjalan, lambat laun langit itu tampak punya corak di tengah gelap. Makin fokus aku memperhatikan kehampaan di ujung malam itu, makin terasa saja lengkungan-lengkungan yang ada di sana.

Tak perlu bermenit-menit bagiku untuk menyadari bahwa itu adalah awan. Awan yang mau siang pun, mau malam pun, akan ada di langit sebelah sana saat ia mau. Malam tak mengusirnya, siang juga tak memaksanya ada.

Tadinya, aku agak takut melihat langit yang sebegitu hampanya terhampar luas bagai selimut raksasa  tak tembus pandang. Namun, aku sedikit lebih berani buat menatap lebih lama lagi setelah sadar bahwa ada sesuatu di sana. Ruang hampa tak benar-benar hampa.

Aku kembali disadarkan bahwa langit malam itu bukan selimut. Siang atau malam, ia di sana saja menghampar. Awan-awan tetap menggantung semaunya tanpa pandang waktu. Begitu imajinasiku terbang ke atas sana, aku bisa melihat lagi: langit dengan macam-macam isi yang berkawan dengannya. 

Tak ada niat sama sekali di kepalaku untuk menciptakan perumpamaan-perumpamaan yang biasanya kubuat. Itu agak berlebihan malam ini. Daripada itu, aku memilih untuk jujur saja soal perasaanku, setidaknya pada langit bisu itu.

"Sejujurnya, aku takut. Aku sering takut pada hari esok. Aku takut pada semua tugas-tugas yang dibebankan padaku. Aku melihat segala hal dari sisi buruk yang membuatku berlahan terkikis sendiri di dalam pemikiran macam itu."

Banyak hal-hal yang hanya harus kujalani, tapi malah kupikirkan sampai lelah sendiri. Aku meragukan segala hal menyenangkan yang terjadi. Aku mulai merasa bahwa bersyukur adalah berpuas diri, berhenti berjalan dan diam saja menikmati.

Semuanya jadi gelap buatku. Semua orang tampak kelap-kelip mengantre menuju masa depan mereka yang gemilang. Sementara aku terdiam saja dengan hampa. Tak melakukan apa pun meski berharap banyak pada hidupku.

Padahal, kalau kupikir-pikir, hari-hariku sama saja. pagi, siang, dan malamya sama saja. Tak ada hal buruk yang benar-benar terjadi. Tak ada kelelahan besar-besaran sampai aku mau mati. Tak ada masa ketika kami melarat karena aku sibuk menganggur, tak bekerja sama sekali.

Semua itu tak terjadi, atau, setidaknya belum.

Hari-hariku masih sama saja terasa. Waktu berjalan sama, dua puluh empat jam. Waktu tidurku masih tujuh jam, waktu bangunku masih tujuh belas jam. Hanya pemikiranku yang berubah. Hanya aku yang berhenti karena pandanganku sendiri. Tak ada antagonis mana pun yang mempengaruhiku.

Aku membuat malamku sendiri. Ruang menenangkan favorit yang membuatku lupa diri untuk bangun. Aku masih ingin menikmati malam itu, saat aku tak melakukan apa pun dan sibuk berpikir saja. 

Tapi, sampai kapan aku harus tertidur? Aku mulai bosan dan ingin menggantung awan-awan, membuat malam yang sama cantiknya dengan siang. Aku mau memperbudak pemikiran berlebihanku untuk sedikit-sedikit menghasilkan sesuatu di malam hari.

Tulisan ini, salah satunya.

Komentar

  1. Semangat selalu Kak. Kakak pasti bisa melewati semuanya. Aku tahu kok Kakak orang hebat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer