Oknum yang Hobi Mengaku
Oknum yang Hobi Mengaku
Biasanya,
aku sering menuliskan sesuatu sambil bertanya pada pembaca. Namun, sepertinya
kali ini tidak lagi, tak semua orang suka ditanya.
Aku
juga tak suka ditanya. Apalagi, kalau aku diminta menjelaskan: Mengapa aku
begini dan begitu?
Sayang,
kadang, oknum-oknum itu bukanlah individu yang berbeda darimu.
Mereka dirimu sendiri. Bertanya-tanya ... mengapa kau begitu? Mengapa kau
begini? Mengapa kau harus mengalami hal ini? Mengapa kau harus hidup di dunia
yang ini?
Aku sendiri kadang bingung, kenapa
juga aku bertanya-tanya sendiri soal diriku? Seolah-olah aku tak kenal dan tak
bisa mengerti … semua tindakanku terasa tak masuk akal bahkan bagi diriku
sendiri. Beberapa waktu lalu, aku menangis sesegukan … aku memakai bantal untuk
menutupi wajahku, berusaha menghalau napas sendiri agar tak mampu keluar dan
mengeluarkan bunyi seg-seg.
Akhirnya, tidak ada gunanya. Kalau-kalau
saja saat itu laptop-ku tak menyala dan aku tidak sedang memutar musik, tamat
sudah riwayat “perempuan kuat”-ku.
Langit tengah jahat malam itu. Ia
tidak mau menurunkan hujan sama sekali. Padahal, pagi hingga sorenya matahari
dibuatnya bersembunyi. Kalau saja malam itu hujan, aku bisa sedikit lebih lega
dan tak terpaksa mengeraskan volume musik hip-hop di tengah jam tidur
orang.
Biarlah, supaya mereka kira aku
sedang berpesta merayakan Jumat malam, sedang menari atau mengibaskan rambut
sambil merapalkan speed rap seorang penyanyi kesayanganku. Lagipula, itu
memang hobiku, biasanya, haha.
Malam itu, begitu juga rencanaku.
Mau menonton siaran makan-makan atau memutar ulang rekaman konser saat jaga
jarak satu meter masih tidak pernah terbayangkan. Maunya juga begitu!
Makanya, sudah kubilang aku tak
mengenal diri sendiri. Sedikit saja aku menangis, rasanya tubuhku diambil alih orang
lain. Aku dipaksa memeras air mata sendiri sampai aku hampir ketiduran. Hip-hop,
that’s our style! Lirik itu yang menyadarkanku. Lucu sekali kalau
diingat-ingat. Kalau saat itu adalah adegan teater, musik latarnya akan
menggambarkan suasana sedih atau lawak, ya?
Memangnya kenapa aku jadi begitu?
Jangan ditanya. Aku juga tidak tahu, haha. “Mengapa kau begini? Mengapa kau
seperti ini?” itu juga yang ada dibenakku saat peristiwa terjadi.
Aku menangis sambil sadar, tetapi
aku tak sesadar itu untuk mengendalikan diri. Aku cuma menatap kosong laptop-ku
sambil mempertanyakan tingkahku sendiri. Air mata saja belum berhenti mengalir
lewat pipi.
Kau sakit jiwa, ya? Aku hampir bertanya
seperti itu lewat mulutku sendiri, kalau saja aku tak ingat bahwa sedang
sendiri di kamar … dan bahaya kalau sampai ada suara lain yang menyahutiku.
Jadi horor, ‘kan, kalau begitu.
Nah, biarkan aku bercerita. Saat
itu!
Aku memeluk sandaran kursi—lebih tepatnya,
aku mencengkeram erat ujungnya. Rasanya, aku mencengkeram erat sekali meski aku
tak berencana seperti itu. Kedua kaki kubiarkan naik ke atas kursi, dengan
tegak aku meringkuk dan merangkul mereka seperti sahabat sejati.
Biasanya, aku bukan orang yang suka
menyalahkan orang lain. Aku memilih menyalahkan diriku sendiri saja. Perasaan,
orang-orang di sekitarku baik semua dan hanya aku yang jahat dengan segala
pemikiran negatifku.
Padahal, semua manusia juga begitu.
Kalau kita bisa membaca pikiran orang, semua juga sama saja negatifnya.
Tapi, saat yang kukira tubuhku
dirasuki itu, aku sibuk menyalahkan orang. Mulutku bergerak, lo, meski suaranya
tak keluar.
“Kenapa kau begitu padaku, sih?”
“Kenapa kau membuatku jadi begini, sih?”
Aku ingat masa-masa menyenangkan
yang kini terasa bodoh, saat semua hal kugantungkan pada dirinya: tali sepatu
yang terlepas, kuncir rambut yang tak lurus, baju yang tak rapi, waktu pulang
sekolah yang dibarengi hujan, banyak, lah, pokoknya.
Seperti aku yang bercerita berkali-kali
di sini tanpa ada yang bisa mengerti dengan benar siapa subyeknya, begitu pula
dengan dirinya. Dia berkali-kali menekankan alasan sikapnya padaku tanpa
kutanya, tetapi tetap saja aku kebingungan terus dalam hati. Bebal dengan pemikiranku
sendiri: Tetap saja, memang kau harus begitu?
Sumpah, aku tak berniat menangis
sekeras itu. Itu hal lama yang kuingat di luar kepala, jadi untuk apa
kutangisi seperti baru terjadi kemarin? Begitu yang kupikirkan.
Selama menjalani hari-hariku, sungguh,
aku tak pernah berpikir untuk mengucap pertanyaan-pertanyaan bodoh itu saat
menangis. Makanya, kubilang aku seperti dirasuki.
Siapa pun itu, aku punya sedikit
terima kasih untukmu. Berkatmu, aku mengucapkannya sekali dan mengungkap perasaanku
pada ruang kosong yang bahkan kucingku saja tak ada di sana. Sempurna sekali, aku
bisa saja berlagak seolah kejadian malam itu tak pernah terjadi.
Nah, kenapa aku malah buka-bukaan
di sini? Nah, ‘kan?
Biarkan saja, lah, supaya aku
mengakui sendiri bahwa ucapan itu benar-benar ada, bahwa perasaanku nyata, bahwa
aku tak cari sensasi atau masalah sendiri, bahwa aku juga tak mau merasakannya:
tetapi masalah harus diakui dahulu sebelum dibuang.
Aku, mah, tidak tahu, apakah
dengan menangis seperti orang gila begitu bisa melepaskan semuanya?
Bukan tidak tahu, hanya saja aku
ragu. Lagipula, nyatanya memang semuanya benaran tak sirna jua.
Setidaknya, aku sudah tak munafik
lagi. Aku ini punya kebiasaan: meski tak pernah berniat menipu diri sendiri,
menipu orang lain dengan kepalsuan raut itu lama-lama menipu diriku sendiri
juga.
Aku yang marah, aku yang kecewa,
aku yang tidak akan pernah menagih permintaan maaf sama sekali seumur hidupku—sumpah—,
biarkan diriku sendiri saja yang memaafkan kelakuan anehku ini, biar aku yang
mengobati kekecewaan itu sendiri, biar aku saja yang meminta maaf pada diriku karena
mengalaminya. Biarkan aku saja yang setidaknya mengaku pada diriku sendiri.
Sungguh, mengaku itu benar-benar
membawa dampak besar bagiku. Aku memang kadang tak mau mengaku padamu, pada
kalian, pada mereka yang bertanya-tanya. Namun, aku juga tak pernah menyangka
pengakuan dari diriku sendiri bisa membuatku tak terlalu bingung dan membayang-bayang.
Mau apa, mau menunggu apa, mau meminta apa. Tidak usah, aku
menyelesaikannya bersama diriku sendiri.
Tak apa-apa, sumpah. Di masa depan,
tidak usah meminta maaf padaku, tak usahlah bertanya-tanya apa kau menyakitiku
saat itu—itu
sudah pasti—, tak usahlah juga berharap apa-apa padaku semacam menjadi gadis
sempurnya yang bisa menyelesaikan segalanya tanpa gagal atau tak pernah
mempermalukanmu dengan menjadi gadis nakal betulan.
Tak usahlah tanya kabarku, atau
bertanya kehidupan kuliahku kemarin-kemarin dan bagaimana aku bergaul dengan
anak laki-laki yang tampak tiap hari mengisap rokok dengan kaus-kaus hitam.
Tak usahlah, sumpah, tanpa
harapanmu itu aku berdiri dengan suara dari kepalaku sendiri. Agar jadi bukti tanpa
kau tagih sama sekali.
Aku selesai mengaku! Perjuanganku
bukan untuk siapa pun, tetapi untuk diriku sendiri. Itu bagus, kalau di masa
depan keberhasilanku bisa membanggakan. Kalau tidak juga? Biar. Biar aku juga
yang bangga pada diriku sendiri.
Thank you for sharing with us <3
BalasHapussemoga bahagia tidak melewatkanmu! :)
Hapus