Oknum yang Hobi Mengaku

Oknum yang Hobi Mengaku

(Ilustrasi karya Josée Masse, sumber: Pinterest)

Biasanya, aku sering menuliskan sesuatu sambil bertanya pada pembaca. Namun, sepertinya kali ini tidak lagi, tak semua orang suka ditanya.

Aku juga tak suka ditanya. Apalagi, kalau aku diminta menjelaskan: Mengapa aku begini dan begitu? 

Sayang, kadang, oknum-oknum itu bukanlah individu yang berbeda darimu. Mereka dirimu sendiri. Bertanya-tanya ... mengapa kau begitu? Mengapa kau begini? Mengapa kau harus mengalami hal ini? Mengapa kau harus hidup di dunia yang ini?

Aku sendiri kadang bingung, kenapa juga aku bertanya-tanya sendiri soal diriku? Seolah-olah aku tak kenal dan tak bisa mengerti … semua tindakanku terasa tak masuk akal bahkan bagi diriku sendiri. Beberapa waktu lalu, aku menangis sesegukan … aku memakai bantal untuk menutupi wajahku, berusaha menghalau napas sendiri agar tak mampu keluar dan mengeluarkan bunyi seg-seg.

Akhirnya, tidak ada gunanya. Kalau-kalau saja saat itu laptop-ku tak menyala dan aku tidak sedang memutar musik, tamat sudah riwayat “perempuan kuat”-ku.

Langit tengah jahat malam itu. Ia tidak mau menurunkan hujan sama sekali. Padahal, pagi hingga sorenya matahari dibuatnya bersembunyi. Kalau saja malam itu hujan, aku bisa sedikit lebih lega dan tak terpaksa mengeraskan volume musik hip-hop di tengah jam tidur orang.

Biarlah, supaya mereka kira aku sedang berpesta merayakan Jumat malam, sedang menari atau mengibaskan rambut sambil merapalkan speed rap seorang penyanyi kesayanganku. Lagipula, itu memang hobiku, biasanya, haha.

Malam itu, begitu juga rencanaku. Mau menonton siaran makan-makan atau memutar ulang rekaman konser saat jaga jarak satu meter masih tidak pernah terbayangkan. Maunya juga begitu!

Makanya, sudah kubilang aku tak mengenal diri sendiri. Sedikit saja aku menangis, rasanya tubuhku diambil alih orang lain. Aku dipaksa memeras air mata sendiri sampai aku hampir ketiduran. Hip-hop, that’s our style! Lirik itu yang menyadarkanku. Lucu sekali kalau diingat-ingat. Kalau saat itu adalah adegan teater, musik latarnya akan menggambarkan suasana sedih atau lawak, ya?

Memangnya kenapa aku jadi begitu? Jangan ditanya. Aku juga tidak tahu, haha. “Mengapa kau begini? Mengapa kau seperti ini?” itu juga yang ada dibenakku saat peristiwa terjadi.

Aku menangis sambil sadar, tetapi aku tak sesadar itu untuk mengendalikan diri. Aku cuma menatap kosong laptop-ku sambil mempertanyakan tingkahku sendiri. Air mata saja belum berhenti mengalir lewat pipi.

Kau sakit jiwa, ya? Aku hampir bertanya seperti itu lewat mulutku sendiri, kalau saja aku tak ingat bahwa sedang sendiri di kamar … dan bahaya kalau sampai ada suara lain yang menyahutiku.

Jadi horor, ‘kan, kalau begitu.

Nah, biarkan aku bercerita. Saat itu!

Aku memeluk sandaran kursi—lebih tepatnya, aku mencengkeram erat ujungnya. Rasanya, aku mencengkeram erat sekali meski aku tak berencana seperti itu. Kedua kaki kubiarkan naik ke atas kursi, dengan tegak aku meringkuk dan merangkul mereka seperti sahabat sejati.

Biasanya, aku bukan orang yang suka menyalahkan orang lain. Aku memilih menyalahkan diriku sendiri saja. Perasaan, orang-orang di sekitarku baik semua dan hanya aku yang jahat dengan segala pemikiran negatifku.

Padahal, semua manusia juga begitu. Kalau kita bisa membaca pikiran orang, semua juga sama saja negatifnya.

Tapi, saat yang kukira tubuhku dirasuki itu, aku sibuk menyalahkan orang. Mulutku bergerak, lo, meski suaranya tak keluar.

“Kenapa kau begitu padaku, sih?

“Kenapa kau membuatku jadi begini, sih?”

Aku ingat masa-masa menyenangkan yang kini terasa bodoh, saat semua hal kugantungkan pada dirinya: tali sepatu yang terlepas, kuncir rambut yang tak lurus, baju yang tak rapi, waktu pulang sekolah yang dibarengi hujan, banyak, lah, pokoknya.

Seperti aku yang bercerita berkali-kali di sini tanpa ada yang bisa mengerti dengan benar siapa subyeknya, begitu pula dengan dirinya. Dia berkali-kali menekankan alasan sikapnya padaku tanpa kutanya, tetapi tetap saja aku kebingungan terus dalam hati. Bebal dengan pemikiranku sendiri: Tetap saja, memang kau harus begitu?

Sumpah, aku tak berniat menangis sekeras itu. Itu hal lama yang kuingat di luar kepala, jadi untuk apa kutangisi seperti baru terjadi kemarin? Begitu yang kupikirkan.

Selama menjalani hari-hariku, sungguh, aku tak pernah berpikir untuk mengucap pertanyaan-pertanyaan bodoh itu saat menangis. Makanya, kubilang aku seperti dirasuki.

Siapa pun itu, aku punya sedikit terima kasih untukmu. Berkatmu, aku mengucapkannya sekali dan mengungkap perasaanku pada ruang kosong yang bahkan kucingku saja tak ada di sana. Sempurna sekali, aku bisa saja berlagak seolah kejadian malam itu tak pernah terjadi.

Nah, kenapa aku malah buka-bukaan di sini? Nah, ‘kan?

Biarkan saja, lah, supaya aku mengakui sendiri bahwa ucapan itu benar-benar ada, bahwa perasaanku nyata, bahwa aku tak cari sensasi atau masalah sendiri, bahwa aku juga tak mau merasakannya: tetapi masalah harus diakui dahulu sebelum dibuang.

Aku, mah, tidak tahu, apakah dengan menangis seperti orang gila begitu bisa melepaskan semuanya?

Bukan tidak tahu, hanya saja aku ragu. Lagipula, nyatanya memang semuanya benaran tak sirna jua.

Setidaknya, aku sudah tak munafik lagi. Aku ini punya kebiasaan: meski tak pernah berniat menipu diri sendiri, menipu orang lain dengan kepalsuan raut itu lama-lama menipu diriku sendiri juga.

Aku yang marah, aku yang kecewa, aku yang tidak akan pernah menagih permintaan maaf sama sekali seumur hidupku—sumpah—, biarkan diriku sendiri saja yang memaafkan kelakuan anehku ini, biar aku yang mengobati kekecewaan itu sendiri, biar aku saja yang meminta maaf pada diriku karena mengalaminya. Biarkan aku saja yang setidaknya mengaku pada diriku sendiri.

Sungguh, mengaku itu benar-benar membawa dampak besar bagiku. Aku memang kadang tak mau mengaku padamu, pada kalian, pada mereka yang bertanya-tanya. Namun, aku juga tak pernah menyangka pengakuan dari diriku sendiri bisa membuatku tak terlalu bingung dan membayang-bayang. Mau apa, mau menunggu apa, mau meminta apa. Tidak usah, aku menyelesaikannya bersama diriku sendiri.

Tak apa-apa, sumpah. Di masa depan, tidak usah meminta maaf padaku, tak usahlah bertanya-tanya apa kau menyakitiku saat ituitu sudah pasti, tak usahlah juga berharap apa-apa padaku semacam menjadi gadis sempurnya yang bisa menyelesaikan segalanya tanpa gagal atau tak pernah mempermalukanmu dengan menjadi gadis nakal betulan.

Tak usahlah tanya kabarku, atau bertanya kehidupan kuliahku kemarin-kemarin dan bagaimana aku bergaul dengan anak laki-laki yang tampak tiap hari mengisap rokok dengan kaus-kaus hitam.

Tak usahlah, sumpah, tanpa harapanmu itu aku berdiri dengan suara dari kepalaku sendiri. Agar jadi bukti tanpa kau tagih sama sekali.

Aku selesai mengaku! Perjuanganku bukan untuk siapa pun, tetapi untuk diriku sendiri. Itu bagus, kalau di masa depan keberhasilanku bisa membanggakan. Kalau tidak juga? Biar. Biar aku juga yang bangga pada diriku sendiri.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer