Resep Dipandang Baik!

Resep Dipandang Baik!

Foto: dribbble.

Cita rasa manis mengguyur lidah dan kerongkongan. Saat ini pukul 10 pagi, dan aku baru saja menghabiskan secangkir teh manis yang sudah tak hangat lagi.

Padahal, harusnya aku punya banyak hal yang bisa dilakukan pada Senin pagi, seperti hari ini. Namun, aku malah duduk diam menatap layar sejak 30 menit yang lalu. Beberapa hari ini aku fokus pada kegiatan magangku di media dan komunitas kesehatan mental. Tak bisa dielak, aku kadang rajin mengikuti kelas-kelas mental health sampai dua kali sehari.

Besoknya, dengan segelas es kopi di tangan, aku membaca sebuah ulasan tentang hasil studi gene expression (ekspresi gen). Katanya, bagaimana pemikiran dan cara kita hidup bisa mempengaruhi kelanjutan hidup kita: bahkan soal hidup dan mati.

Terdengar klise dan agak bohong, mungkin. Tetapi, aku juga baru sedikit lebih paham lagi kalau pemikiran kita soal diri sendiri bisa mempengaruhi kejadian fisik yang ada di sekitar. Benar-benar seperti sihir, ya. Pikiriku.

Profesor Kedokteran sekaligus psikiatri, Steve Cole, pernah bilang kalau kita itu arsitek dari hidup kita sendiri. Aku baru bisa setuju setelah membaca lekat-lekat dan berulang-ulang tulisan itu. Mengapa? Aku relate. Kadang, aku juga berpikir kalau pikiran subyektif-ku bisa lebih mempengaruhi keseharian daripada pemikiran netral.

Orang-orang, banyak berlomba-lomba menjadi yang "paling buruk" daripada sesamanya. Aku yang terburuk dalam penampilan, aku yang terburuk dalam menulis, aku yang terburuk dalam belajar, atau kesehatanku yang paling buruk di antara semua orang.

Aku juga kadang begitu, kok. Malu juga, ya, mengingat hal itu, hehe. Makin banyak membaca, aku merasa makin bodoh. Sikapku terhadap diri sendiri saja terkadang tak tepat.

Padahal, diriku ini yang paling kuinginkan untuk dihargai.

Kalau dipikir-pikir, mengapa kita tak berpikir positif saja? Bukan, bukan untuk selalu positif seolah kita tak pernah terpuruk. Namun, sepertinya kita bahkan kini terlalu jarang mempercayai diri. Iya tidak, sih?

Aku ingin mengajakmu untuk lebih positif terhadap diri sendiri. Bersamaku, yang juga belum bisa sepenuhnya seperti itu. Aku tak memaksa, sih, tetapi ajakanku ini berdasarkan studi! Kalian suka teori, 'kan? Terdengar lebih meyakinkan daripada hanya opiniku saja.

Mudah saja, tidak usah rumit-rumit. Intinya, kalau kita berpikir baik tentang diri sendiri, orang-orang di sekitar juga akan merasa seperti itu. Coba saja, kawan-kawan yang mengenal sosok Vanilla di real-life, seperti apa aku? Aku yakin, kalian akan menceritakan aku seperti diriku yang selalu kupikirkan: anak yang mau banyak tahu, tidak bisa diam, kadang kurang percaya diri meski punya potensi, dan orang yang banyak menghargai.

Kenapa kau percaya diri sekali bakal dipandang seperti itu? 

Aku bukan percaya diri, tetapi memang seperti itulah aku melihat diriku sendiri. Aku banyak ingin tahu, otomatis aku banyak bertanya pada orang. Aku tidak bisa diam, kadang aku mengganggu orang dan membuat mereka sadar kalau aku tidak bisa diam. Aku kurang percaya diri, jadi aku konfirmasi kemampuanku lewat bertanya pada orang. Responnya? "Bagus, bodoh!"

Aku orang yang banyak menghargai? Begitulah, aku percaya bakal dipandang seperti itu karena aku memang maunya bergitu. Aku mau menghargai orang karena aku suka dihargai. Mana mungkin, aku malah merendahkan orang dengan sengaja saat hatiku justru tergerak untuk menghargai mereka, 'kan?

Sebab itu, aku yang baru sadar "resep" dipandang baik ini, mau mengajakmu untuk jadi arsitek juga atas hidupmu sendiri. Ayo, bangun kepercayaan dirimu dan perdalam kemampuanmu dengan yakin. Meski belum jadi profesional, mulai dari teman-temanmu, mereka akan perlahan memandangmu lebih baik.

Bukan "Dia anak yang lemah karena selalu insecure,", melainkan "Dia semangat berusaha meski belum bisa. Keren, ya?"

Kamu keren. Sebenarnya, tidak perlu konfirmasi orang lain atas hal itu. Tetapi, aku paham kalau kamu suka dukungan, kita 'kan makhluk sosial. Nah! Daripada menyuruhmu jadi lebih percaya diri karena dukungan orang, aku lebih suka mengajakmu terus berkembang sampai orang lain bangga karena mendukungmu.

Kamu juga jadi lebih kuat untuk membangun hubungan yang bermakna dengan semua teman-temanmu! Tidak perlu takut dimanfaatkan, mereka benaran suka berada di sekitarmu, kok.

Urutan yang salah, yaitu ketika kamu tidak merasa bahwa dirimu baik. Kemudian, kamu menjadi people pleaser yang tak tahu jalanmu sendiri. Setelah menelan dalam-dalam jati diri, baru kamu mencapai predikat "baik" dari orang sekitar dan merasa bahwa itulah arti hidupmu.

Salah, ya!

"Berpikirlah bahwa kamu baik. Hiduplah dengan baik atas maumu sendiri. Sayangi orang-orang, anggap mereka sama berharganya dengan dirimu. Saat orang lain merasa nyaman didekatmu, itulah pandangan baik yang sebenarnya!"


Tulisan ini didedikasikan untuk membuat Vanilla dan rekan-rekan pembaca tenggelam dalam lautan tenang Hari Kesehatan Mental sedunia. 

Jangan lupa hargai dirimu sendiri!

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer