R: Rupa, Rapuh, Wicara
Rupa, Rapuh, Wicara
Rasanya kosong. Pagiku tak baik. Siangku tak baik. Petangku tak baik. Malamku juga tak baik. Sempat aku gaungkan tawa selepas magrib, bibirku dipaksa melengkung ke atas oleh lelucon adik-adik. Tetapi, kembali lagi, hari-hari tak mudah pulih.
Tak berguna. Itu yang selau terselip di panasnya Rabu. Kira-kira, kenapa ia dinamakan "Rabu"? Nama yang cantik. Terkesan kuat, luwes, tegas. Tentu saja aku tahu, asal-usulnya da campur tangan Bahasa Arab. Tapi, tak apa, kan, kubuat lagi alasan lain dalam kepalaku?
Ah, soal nama yang diawali "R". Ini bukan konklusi, tapi banyak temanku yang tampak kuat dan tegas dengan huruf itu. Teman masa kecilku yang kini tak kutahu sama sekali jalan hidupnya. Hidup kah? Mati kah? Tak tahu.
Rida. Dia perempuan. Saat hati gadis kecil masih serapuh kapas, aku tidak suka ditinggalkan. Dia yang meladeniku. Yang tidak apa-apa jika aku merengek atas namanya: "Aku mau masuk SD, karena Rida juga sudah masuk SD."
Panas. Bising kipas angin. Detik jam. Lagu lama. Bagaimana bisa kali ini suara mereka bertumbuk tanpa henti, tapi juga tanpa makna? Biasanya, suara-suara itu kudengarkan dengan pekat, kunikmati setiap detiknya dan kubiarkan melodi masuk setelah berputar-putar di daun telingaku.
Kali ini, semuanya lewat begitu saja. Tak berguna. Seperti hidupku sendiri.
Maaf, kali ini aku tak bisa menulis sesuatu yang menghibur. Atau bernada manis yang pengertian, "kita akan kuat bersama-sama".
Tidak ada masalah apa pun, kalau kau bertanya-tanya. Kadang, masalahnya bukan di sekitar, tetapi di benakku sendiri. Aku, yang menciptakan problema, menggalauinya, dan bingung sendiri karena tidak bisa menghilangkannya.
Seolah kehilangan kendali atas diriku sendiri.
Aku tidak merindukan siapa-siapa. Bahkan, tidak juga diriku sendiri. Seperti bulan-bulan atau tahun yang lalu, saat aku masih sempat-sempatnya membayangkan bagaimana hari-hari di masa lampau.
Aku ingin membuang diriku sendiri. Aku ingin berganti raga, atau ganti saja jiwaku sekalian.
Mataku memanas beberapa hari ke belakang. Pikiranku penuh, tapi tak sampai tahu apa yang harus kukerjakan. Jari-jariku bergerak cepat di atas papan ketik, seperti orang penting, padahal yang kutulis cuma keluh kesah yang sama sekali tak pakai bumbu tata bahasa.
Ini dia. Bukan karya, hanya sesuatu yang ingin kusampaikan pada laptopku sendiri yang tak bernyawa. Biar dia mengenal, seperti apa rupa dan rapuh pemiliknya. Biar dia lihat ekspresiku, yang tak se-sumringah wicaraku. Toh, dia tak bisa berkomentar.
Mulai ratusan jam yang lalu, aku bermasalah sendiri. Hari ini, aku tak kuat. Aku cemas. Aku bingung. Dan aku tak akan bertanya dan bercerita. Aku tidak akan jadi diri sendiri. Sudah kubilang, diriku yang itu malah mau kubuang.
Aku malas berusaha, tapi aku juga memimpikan pekerjaan luar biasa sesuai minatku. Aku tak berkembang. Aku tidak tahu sebenarnya aku bisa apa. Aku tidak bisa menulis yang bagus sampai benar-benar di lihat orang bakal sejumlah jari tanganku.
Aku lupa ciri tulisanku yang dulu. Saat artikel yang kutulis terasa berharganya. Sekarang? Tidak. Jujur saja, aku merendahkan mereka. Hujan. Asal jatuh. Cepat-cepat. Dingin. Tidak ada jiwanya. Tulisan yang kubuat sekarang saja membunuh kepercayaanku sendiri, "Memang, benar seperti ini, ya?"
Aku tak iri pada kau, atau kau, yang menulis dengan baik dengan wadah luar biasa atau bisa ditemukan banyak orang. Aku iri pada diriku di masa lalu. Tahu frustasinya? Ya, kau tinggal resapi saja tulisan itu lagi. Aku sudah mencoba. Tidak bisa. Andai saja aku bisa mampir ke masa lalu, bertanya pada Vanilla di sana, "Hei, bagaimana strukturnya? Jiwa macam apa yang kaumasukkan di sana?"
Aku bangga pada diriku yang dulu. Jujur saja, semuanya seperti sampah sekarang.
Ah, dadaku memanas. Aku menulis ini sambil mendengarkan lagu. Dan lagu yang baru saja berputar sekarang hampir membuatku menangis. Padahal, persis di balik punggung benda kotak ini, duduk manis Ibunda yang tengah melihat televisi.
Seperti aku bernyanyi,
"I wrote a long, long letter to the moon. It would not be brighter than you, but I lighted a small candle,"
Lalu, kurasa diriku sendiri menjawab, jauh dari masa lalu,
"The nameless bird that sings in the park at dawn, where are you ... ? Why are you crying? It's only me and you here,"
Aku rupanya rindu sesuatu. Aku rindu diriku yang tak mau tenggelam dalam laut kematian bernama rasa cemas. Aku rindu segala-galanya, saat di mana aku merasa kuat meskipun tak ada huruf "R" sama sekali dalam namaku.
Padahal, aku sudah pasti menangis saat bersama diri sendiri,
"Why are you crying? It's only me and you here."
Bahasanya halus dan elegan sekali Kak 😃
BalasHapus