Kenapa Semua di Dunia Ini Palsu, Sih?
Kenapa Semua di Dunia Ini Palsu, Sih?
Saying this person's living like this, that person's living like that
The world's hurling at me!
Lari maraton tiap hari, ada saja yang aku kejar. Ini, itu, di sana. Pokoknya, harus ada yang kukerjakan dalam dua puluh empat jam. Kalau rasanya tidak akan sampai, aku akan lari lebih cepat lagi. Cepat, cepat, cepat, agar cepat sampai.
Hidupku panjang, padahal! Harusnya, aku bisa tenang. Aku harusnya santai saja dan istirahat yang banyak. Mengerjakan tugas saja, tak usah membuat sesuatu yang belum tentu berguna buat diriku atau orang lain: blog ini, juga termasuk. Ceritaku di laman Wattpad, juga termasuk.
Waktu aku pertama kali mengerjakan mereka, yang ada di kepala dan dadaku cuma ada rasa semangat. Wah, aku akan menuangkan isi otakku yang penuh ini. Wah, yang tadinya hanya ada di mimpi-mimpiku, bisa kutuangkan jadi rangkaian kata. Barangkali! Barangkali ... buku?
Aku tak berpikir hal lain sama sekali. Bagiku, ini rumah. Saat matahari sudah lelah menyapa, saat ia pergi ke bumi sebelah sana untuk menyapa yang lain--karena hidup ini adil--, rasanya aku juga mau bersembunyi, di bawah selimut kenyamananku, menangis lewat jari jemariku, tertawa bersama imajinasiku, menulis bersama musik di daftar putar favoritku.
Itu saja!
Kenapa, lama-lama, semua yang aku tahu, bahkan rasakan itu tampak palsu, ya?
Mimpi dan impian. Apa bedanya, sih?
Setiap malam, aku bermimpi. Bahkan sebelum tidur: aku membayang yang bukan kenyataan. Daydream, ya? Mimpi itu, daripada sayang-sayang jadi tumpukan sampah berdebu di kepalaku, lebih baik kubuang. Itu mimpi.
Impian?
Impian itu sesimpel, "Ma, aku mau jadi pilot kalau sudah besar!" Begitu, bukan, sih?
Kalau begitu, aku mau jadi penulis!
Penulis berita, penulis opini, penulis feature, penulis cerita pendek, penulis buku!
Aku ngotot sekali. Namun, itu omong kosong, ya? Sepertinya, aku tak berusaha apa pun. Aku hanya fokus menulis berita dan opini. Lalu, rumah fiksiku itu mau dikemanakan?
Aku sedih sekali memikirkannya. Padahal, aku yang meninggalkan mimpi itu demi impian utamaku. Kenapa aku yang merasa ditinggal rumahku?
Kenapa, semua di dunia ini palsu, sih? Aku juga palsu. Semua yang dulunya kusukai, kenapa tak mampu kukejar sekarang?
Ah ... waktu itu aku polos sekali. Aku mau mimpiku, bukan hanya impianku. Impianku, mimpiku, milikku! Aku bisa jadi ini dan itu! Kalau mau, aku juga bisa jadi orang kaya, ya?!
Dunia, saat aku sehari demi sehari jadi lebih tahu dan lebih tahu lagi, aku sangat kecil. Sangat kecil ... sampai rasanya kalau menghilang juga tidak apa-apa. Aku tidak dapat apa-apa dari dunia ini kalau hidup semauku. Hidup dunia milik pemimpin dunia, hidupku? Terserah dunia juga.
Waktu kecil--tidak--waktu aku remaja saja, banyak janji kalau dunia ini baik sekali. Pelan-pelan saja ... selami mimpimu, sedikit demi sedikit agar tidak meledak karena tekanan dari dirimu sendiri. Ibaratnya, berenang ke dasar samudera pelan-pelan, agar tak meledak oleh tekanan air karena terburu-buru.
Huh, dunia ini sama saja seperti air, tahu. Mau aku buru-buru atau tidak, aku bisa saja meledak karena tekanan.
Aku pelan-pelan harus berubah jadi ikan kecil, lalu hiu, lalu paus, kalau samudera sudah terlalu dalam sampai paus juga tidak kuat,
aku harus jadi makhluk menyeramkan yang bisa tinggal di tempat paling dasar.
Lo, perumpamaan yang sempurna, rupanya.
Kenapa semua di dunia ini palsu, ya? Kalau belum palsu, ya bohong. Bohong juga cikal bakal kepalsuan.
Sebenarnya, boleh tidak, ya, kalau aku tidak punya impian? Boleh tidak kalau aku bahagia saja saat mencapai suatu tahap? Meski itu belum sampai impianku?
Ehey, tidak boleh. Dunia itu monster, kalau kau tidak punya tujuan, nanti kau meledak karena tidak punya rencana.
Ya, terus, aku berlari maraton ini buat apa? Aku tidak dapat apa-apa, aku tidak punya rencana hidup. Lagi pula, impian itu hutang. Harus dibayar pakai darah, keringat, air mata, dan lari maraton. Kalau tidak sanggup, ya merangkak atau ngesot. Benar-benar, deh, seperti debit.
Kalau mau melunasinya, kita harus jadi hebat.
Aku capek. Aku mau berhenti lari maraton. Boleh, tidak?
___
Pertanyaan itu, aku tahu, tidak akan pernah ada jawabannya. Sekali aku mau berhenti, aku tergoda lagi untuk berlari. Sekali aku berlari? Aku kelelahan dan tergoda untuk berhenti. Lingkaran setan.
Memikirkannya saja sudah capek. Bagaimana, sih, orang-orang kuat dengan dunia kayak begini?
AAAA KENAPA RELATE BGT SAMA AKUU YAA.. LANJUTIN KAAA
BalasHapus