Surat Dariku: Bahagia yang Sakit

Bahagia yang Sakit

Halo, kawan.


Semakin dewasa, aku sering menemui kawan sepantaran atau kakak-kakak yang tertekan. Raut wajah sendu, kantung mata tebal, bibir yang menghitam. 

Beberapa di antara mereka memperlakukan keinginan bunuh diri sebagai candaan. Kadang, aku pun turut bercanda bersama mereka soal itu.

Jiwa humanisku kadang memikirkan pertanyaan retorik yang konyol.

Mengapa, ya, kami semua berlagak stres seperti tidak pernah bahagia sama sekali dewasa ini?

Padahal, kami sering sekali dikelilingi kebahagiaan tanpa sadar. Di waktu lampau, kemarin, atau masa depan cerah yang kita bayangkan. 

Kami kenal sekali dengan cita rasa bahagia, lalu mengapa sekarang berlagak jadi yang paling menderita dan melecehkan mereka yang kini berbahagia?

Mengapa dalam situasi apa pun, manusia gemar merendahkan orang lain?

Kala sedang bahagia, gatal sekali bibir kami menceramahi orang yang tengah sakit hati,

Kala terpuruk, rasanya hidup tak puas jika tak memandang rendah orang-orang yang sedang bahagia,

Seolah prestasi terbesar dalam kehidupan ini adalah merasakan pahitnya hidup yang paling pahit. Kebahagiaan bagi kami terasa seperti nilai nol besar di rapor sekolah.

"Hidupmu enak, ya, coba lihat aku ... orang sepertiku sepertinya hilang saja tak ada yang sadar, Kamu harus lebih banyak berjuang menghadapi hidup ini, tahu," ucap kami, merendahkan orang yang berbahagia.

Begitu pun sebaliknya. Orang bahagia kadang terlalu kurang ajar. Seolah-olah kami tidak boleh dipertemukan dengan orang yang bersedih, kalau-kalau ceramah dari kami malah menyakiti dan bukan memberi solusi.

"Kamu bersyukur saja, lihat aku? Hidupku bahagia sekali," kata kami pada kawan yang tengah berduka, membutuhkan solusi pasti, atau kebingungan mencari arah yang baik dalam hidup.

Memang, bersyukur adalah kunci. Namun, jujur saja, tak semua masalah selesai hanya dengan bersyukur. Bagiku, bersyukur cukup untuk mempermudah diriku memecahkan masalah tanpa emosi, bukan berarti masalahku selesai tanpa ikhtiar lain.

Aku tak akan pernah bilang bahwa hal seperti itu hanya terjadi antarmanusia. Justru, ini lebih sering menghadang diri kami sendiri.

"Aku takut, kalau berbahagia terlalu lama, rasanya ada hal buruk yang besar menantiku di ujung jalan," pikir kami yang tak pernah berprasangka baik pada kebahagiaan.

Kalau pada kebahagiaan yang singgah saja kami tidak percaya, bagaimana kebahagiaan itu mau menetap di hati kami?

"Hidupku sulit sekali, kapan aku bahagia? Ke mana lagi harus kucari kebahagiaan itu? Mengapa semua orang bahagia, kecuali aku?" kata kami, bak tak pernah menemui rasa bahagia sebagai tempat rehat di ujung hari.

Kami tak perlu banyak-banyak bersyukur setiap hari, kami hanya perlu sadar. Sadar bahwa selalu ada kebahagiaan yang terselip dalam hari-hari kami. Sadar bahwa tak benar rasanya jika seseorang terisi penuh dengan kesedihan atau pun kebahagiaan saja.

Mengapa? Terkadang ... kesadaran-kesadaran itu cukup untuk membuat kita mengerti, bahwa ada masa sedih di antara masa bahagia orang lain, atau masa bahagia yang terselip dalam hidup orang yang terlihat paling menderita sekali pun.

Aku memang bukan orang yang sudah hidup lama untuk berhak menasehati. Namun, aku hanya berbagi cerita, tentang bagaimana aku mengatur diriku sendiri di antara kebahagiaan dan rasa sakit.

Menjadi orang bahagia yang menyakiti orang berduka,

Menjadi orang penuh duka yang menyakiti orang bahagia dengan merendahkan perjuangan hidup mereka,

Bukankah keduanya hal yang "sakit"?

Aku ingin menekankan pada diriku sendiri dan orang-orang yang mau mengerti, tentang bahayanya menjadi orang yang bahagia karena sakit atau sakit karena bahagia.

Karena dalam hidup, setiap manusia tak pernah asing dengan kebahagiaan, atau pun menghidar dari rasa sakit.

Jakarta, 13 September, di sela waktu magang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer