Kunci Pintu

 Kunci Pintu 

Sebuah catatan tentang "pengiriman" emosi melalui teknologi. 

Sinar matahari pagi itu masih terlalu silau bagiku: gadis yang tadinya tak pernah sudi menghadap cahaya dan selalu berkutat dengan pekerjaannya dalam gelap. 

Sekitar sepuluh menit yang lalu, aku baru saja terjaga, membuka mata dengan enggan sembari merasakan nyamannya tempat tidurku. Setelah meneguk sedikit air mineral, aku mencatat ide-ide blog atau konten video yang mugkin bisa kugarap hari ini.

Lalu, di sinilah aku sekarang. Berjemur sambil memainkan gim rumah-rumahan di ponselku. Begitu iklan mulai muncul, kuletakkan benda persegi panjang itu dan kuarahkan kepalaku ke atas--menghadap langit. Saat itu, aku merasa seakan telah berhasil membuka pintu.

Langit biru cerah tanpa awan sama sekali itu membuat pikiranku melayang, membentuk awan-awan imajinasi dalam kepala. Mari kita ingat-ingat, seperti apa caraku hidup sebelum hari ini?

Anak yang banyak memutuskan hubungan dengan orang lain sebelum memulainya sama sekali, menjauh dari kerumunan hanya untuk memaki pada kesepian, enggan melempar senyum atau memeluk orang yang sebenarnya ingin dipeluknya, hingga menolak diselamatkan bahkan saat jelas-jelas sudah "sekarat"!

Kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan orang lain adalah nol besar. Manusia adalah makhluk kejam yang hanya bisa mempermainkan.

Setelah bertahun-tahun, kini semangatku dianggap terlalu tinggi, aku terlalu ambisius dan naif. Hari-hariku penuh kebahagiaan, banyak orang menyeringai dan berbisik bahwa ini cuma perkara waktu hingga quarter-life crisis di usia 20-an menggorogotiku nanti.

Mereka bercerita tentang masalah-masalah mereka, betapa hidup tidak semudah itu setelah kamu makin dewasa. Bahwa, pasti! Aku akan menderita dan tidak memiliki semangat sebesar hari ini di masa-masa itu.

Pasti! Aku akan terlihat pelit senyum dan hanya memikirkan masa depan dan materi. Kehidupan teratur dan indah (bagi)ku hari ini terlihat konyol di mata mereka, kekehan kecil yang seolah berkata, "konyol, menyedihkan sekali hidupmu sok-sokan bahagia begitu," selalu kuterima tiap hari: lewat pesan singkat, komentar, bahkan sambungan telepon!

Aku kesal. Sebab itu kupakai banyak tanda seru kali ini.

Mengapa ... rasanya aku harus selalu mempersiapkan banyak hal? Apa aku harus selalu pusing memikirkan diriku barang sebulan dan setahun kemudian, tanpa boleh bahagia hanya karena hari ini saja? Benar-benar bahagia hanya karena hari ini, tanpa rasa senang akan pencapaian yang kuterima setelah perjuanganku di hari kemarin.

Aku kebingungan, tak adakah jawaban? 

Sebenarnya, aku benci terlihat bodoh nan naif. Tapi, kebahagiaanku membuatku terlihat seperti itu. Jadi, maksudmu, apa aku berhenti bahagia saja? Aku tidak boleh bangun pagi dan sembarang menatap langit sambil tersenyum tipis? Apa maksudmu aku dilarang bersemangat melakukan kegiatan favoritku yang menurutmu "terlalu produktif" itu?

Mengapa aku harus mempersiapkan kesengsaraan di masa depan tepat pada hari ini, saat aku bahagia tanpa menghancurkan orang lain? Atau, mungkin ... kebahagiaanku yang menghancurkanmu? Kau menyesal karena dulu tidak sebahagia aku?

Aku berjuang "bertahan hidup" di masa lampau dan bisa menikmati matahari terbit tanpa pusing karena kebisingan di pagi hari, aku melupakan banyak hal dan menahan napas untuk memperbaiki diriku sendiri, aku mengompres lebam-lebam di semua sudut nuraniku sebelum bisa mengontrol emosi agar tak memancing keributan, aku rasa aku sudah belajar banyak hal ...

Aku memang belum pernah kehilangan siapa pun. Tapi, kurasa aku sempat kehilangan diriku sendiri. 

Aku selalu mengumpamakan perasaanku seperti ruangan dan pintu. Satu-dua orang bilang bahwa sekali kau mengalami hal yang sangat buruk, kau bakal bisa melewati hal buruk lainnya di masa depan. persiapkanlah dengan logis tanpa menjadi depresi. Hari ini, aku menganggap diriku berhasil menemukan kunci untuk keluar dari ruangan yang menyedihkan ... perlahan, satu persatu, aku membenahi diriku sendiri. 

Tolonglah, jangan kau buat aku berpikir kalau kunci pintu ini hanya akan membawaku ke ruangan yang lebih menyedihkan di balik pintu itu. Aku juga tahu, perjuangan selalu diperlukan pada setiap fase kehidupan. Aku tidak bodoh!

Aku bahagia, tapi aku bingung ... mengapa lingkungan kami sekarang tidak suka melihat kebahagiaan? Tapi, saat kita menderita, mereka bahu-membahu "menolong" dan mengaku relate

Ketika benar-benar kebingungan dan putus asa, aku mendapat jawaban. Aku memang tidak mendapat jawaban untuk semua pertanyaanku ... tapi satu hal yang pasti,

Aku tidak boleh berhenti bahagia jika memang saat ini sedang bahagia. Aku tidak bisa mengontrol pikiran dan pendapatmu soal kehidupanku, jadi ... tentu saja, kamu juga tidak bisa mengontrolku barang tak langsung sekalipun.

Aku tidak akan berhenti. Betapa naif dan bodohnya aku di mata orang lain, aku akan senang dan sedih karena permintaan emosiku sendiri. Aku akan membuka pintu dengan kunci ini tanpa kecemasan berlebih. 


"You just have to keep going. Don't put too much thought into what you're doing. Some people make it sound like you have to do something special, but there's nothing like that. You just have to keep going." - SUGA, 28.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer