Yang Terpikir Sehari setelah Gerhana
Yang Terpikir Sehari setelah Gerhana
Foto: Pinterest/The Atlantic
Aku berjongkok di balik meja kasir, menghitung sisa uang di dompetku. Satu berwarna ungu, sisanya abu-abu.
"Kalau makan sekarang, nanti malam yang lain makan apa, ya?" aku bermonolog dan melongok jam dinding. Saat ini pukul 12.47, perutku mulai keroncongan.
Tak lama, alarm-ku berbunyi, pengingat bahwa aku harus menghadiri kelas penulisan siang itu. Dengan cepat, aku mengambil ponsel dan mulai memerhatikan kelas.
Selang sepuluh menit, aku harus meninggalkan kelas itu karena ada pembeli yang datang. "Um, iced latte-nya dua, ya," pintanya setelah menatap lama papan menu.
"Ditunggu sebentar ya, Kak," balasku sambil tersenyum selebar mungkin di balik masker.
Pada akhirnya, aku melupakan rasa laparku. Meski perutku terasa panas, aku tak peduli dan tetap melayani pembeli yang terus-terusan datang.
Lagi pula, aku pun tetap tak berani mengeluarkan uang lagi.
Setelah mereka pergi, aku segera mencuci gelas sambil memikirkan apa yang bisa kumakan untuk setidaknya menghilangkan rasa perih ini.
Sudah berapa lama, ya, semuanya jadi seperti ini?
Lagi-lagi, aku bertanya seperti itu. Aku ingat pernah mempertanyakannya juga beberapa bulan lalu.
Rupanya, hidup benar-benar berjalan seperti itu saja. Tiba-tiba, tanpa direncanakan, aku malah bekerja untuk membantu kami semua. Ini tidak mudah, dan tidak mudah juga bagiku untuk dengan jujur mengatakan bahwa semua ini tidak mudah.
"Kalau mudah, bukan berjuang namanya."
Aku teringat kalimat yang kudengar sembarang dari suatu tempat. Sangat simpel, tapi rupanya bisa juga menohok di saat tertentu.
Iya 'kan? Pada akhirnya aku akan berjuang selagi masih bisa.
Akhirnya, aku membeli gorengan di seberang kafe tempatku bekerja. Aku waras, aku tidak akan membiarkan perutku kelaparan karena tidak makan sama sekali.
Sedikit saja.
Hariku berlanjut begitu saja di malam Minggu. Kafe yang lebih ramai dari biasanya membuatku harus punya tenaga ekstra untuk bekerja lebih lama. Setelah menutup kafe, aku segera pergi dengan motorku.
Menyusuri jalanan yang ramai, aku berhenti tepat di belakang garis pembatas saat lampu merah menyala. Kala itu juga, aku melihat sekeliling.
Wah, banyak yang bersorot mata lelah. Suara kendaraan mereka beradu, seolah mereka juga berlomba untuk bernapas setelah melewati hari.
"Iya, Adik. Abang lagi jalan pulang kerja. Jangan tidur dulu, ya? Abang bawakan martabak keju, lho."
Tak disengaja, aku menguping pembicaraan seseorang melalui telepon genggam. Ia berhenti tepat di sampingku, bagaimana bisa aku tidak dengar?
Pokoknya, maafkan telingaku yang lancang menangkap ketulusan dalam suara Anda, orang asing. Begitu pun, aku tersenyum simpul mendengar percakapan manis itu.
Meski tidak bisa melihat wajahnya, entah bagaimana, aku memahami perasaan itu. Perasaan lelah yang tak seberapa, tapi juga ingin segera menikmati hal-hal menyenangkan begitu tiba di rumah.
Beberapa waktu lalu, aku merengek pada Tuhan karena hidupku sepi sekali. Tapi, belakangan ini suasana harianku sangat ramai sampai aku kelelahan.
Mengapa semuanya terasa seperti mimpi? Saat aku melihat hal-hal indah, aku menikmatinya. Saat dipertemukan dengan situasi yang menyedihkan, aku seperti terbangun.
Keindahan adalah mimpi, dan kesedihan adalah kenyataan? Apa manusia dirancang untuk sering berpikir seperti itu?
Sejujurnya, aku tak pernah berpikir bahwa aku menyedihkan. Pada nyatanya, secara logis, aku memang tidak menyedihkan.
Aku hanya berjuang lagi untuk hal yang aku inginkan. Banyak orang yang mungkin sudah punya, tapi ketidakpunyaan juga bukan dosa.
Yap, itulah masalahku. Kadang aku lelah dan bertanya-tanya, mengapa harus aku yang mengalami hal ini?
Kau pernah bertanya seperti itu juga? Tak apa, kamu tak perlu menghilangkan pemikiran sedih itu. Cukup sadari setelahnya, bahwa aku, dan mungkin ribuan orang di luar sana juga mempertanyakan jalan kami.
Mungkin, kau akan merasa lebih baik. Kamu tidak sendirian. Meski aku pun tak suka orang lain bersedih bersamaku, pada nyatanya juga aku ingin seseorang memahami perasaan ini. Mungkin, kau juga berpikir sama.
"Orang lain jangan sampai merasakan ini, tapi setidaknya aku ingin mereka bisa mengerti aku."
Kira-kira begitu.
Aku memang punya luka sendiri, akan jadi masalah kalau upayaku mengurangi kesedihanmu malah membuatku makin terluka. Tapi, sejak lama sudah kusadari, aku selalu merasa sedikit lebih bahagia saat orang lain menghela napas lega dan tersenyum.
Malam itu pun, sembari menunggu lampu hijau dan menatap purnama jingga yang bersinar cantik sehari setelah gerhana yang terkenal, aku berpikir:
"Aku akan menangis saat ingin. Aku akan beristirahat dan merasakan rasa lelahku, bercerita pada orang yang bisa kupercaya, menghargai kelelahan mereka juga, dan kembali mengobati kesedihan kami bersama."
Mari berpikir seperti itu. Sungguh, keluhan yang menipis dari kehidupanmu adalah tanda kalau kamu bisa menerima kesedihan dan menjadi lebih bahagia karenanya.
-Aku yang mencoba kembali, Juni, 2021.

Komentar
Posting Komentar