Lost

Lost


Sore ini kembali kupenuhi dengan kesenggangan. Tanpa menggerakkan kaki sama sekali, aku menekan tombol "play" dan membiarkan tayangan orang lain yang sangat produktif tertangkap oleh mataku yang malas.

Video pertama, kulihat seorang gadis yang sibuk menggosok giginya begitu bangun tidur. Setelah itu, ia membuat secangkir espreso sambil mendengarkan lagu tentang cinta. 

Video kedua, tampak seorang gadis yang fokus pada pelajaran bahasa asing sejak pukul tujuh pagi. Katanya, ia menantang dirinya sendiri untuk bangun pukul lima dan berjalan-jalan di pagi hari.

Aku, sih, tidak sanggup. Bisa-bisa, saking mengantuknya, aku tidak akan sadar kalau dompetku dicuri saat berkeliling sepagi itu.

Di video ke-sekian, aku melihat kamar yang sedang diutak-atik oleh pemiliknya. Katanya, ia tidak suka warna kamar yang berwarna hijau mentereng itu.

Aku juga tidak suka warna kamarku. Tapi, aku belum mampu membeli beberapa ember cat dinding berwarna cokelat gelap. 

Ah, aku ini latah sekali. Aku menginginkan hal-hal yang kulihat. Aku ingin bangun pagi, menyeduh espreso, berjalan-jalan, dan megutak-atik kamarku juga.

Dasar perempuan yang penuh rasa iri. Hasilnya, belum tiga menit setelah aku bosan menonton tayangan-tayangan itu, aku sudah berdiri tegak dengan sapu kain pel di kedua tanganku.

"Ayo kita buat suasana baru," tegasku pada udara di sekitar.

Aku sibuk! Aku sibuk tertidur selama dua belas jam sebelumnya. Setelah bangun, aku merasa tidak berguna. Aku ingin benar-benar sok keren dengan punya ruang kerja sendiri, lalu menghabiskan setidaknya tiga sampai empat jam untuk berkelut dengan laptopku di sana.

Padahal, tidak ada yang kukerjakan. Aku cuma memutar playlist-ku, membuat amerikano-ku, dan membuka blog-ku seperti sekarang. Sesekali, kukerjakan tugas yang sepertinya akan dibahas tiga hari lagi. Tapi ... itu pun cuma bertahan sekitar sepuluh menit.

Sebenarnya, aku penuh rasa semangat. Setiap hari, aku ingin mengerjakan sesuatu. Sesuatu saja, tidak perlu hal penting. Kalau senakal itu, aku bisa saja menyeduh es kopi dua kali sehari demi mengatur suasana hatiku. Kalau kuresapi, hari-hariku terasa sangat menyenangkan saat suasana hatiku bagus. Kalau mood-ku buruk, semua prasangka negatif dan menyebalkan akan membuatku lelah dalam sehari.

Aku tidak suka itu. Aku berusaha sebaik mungkin agar suasana negatif itu tidak berlangsung sangat lama. Aku tidak berusaha untuk bersikap baik di depan orang lain, kok. Aku hanya suka diriku sendiri saat bahagia. Bukankah jadi terlihat cantik?

Aku paham, manusia tidak bisa terus-terusan merasa senang. Jadi, ya sudah. Aku berusaha semampuku saja untuk senang. Kalau sedang murung, aku lebih pilih diam daripada mengucap apapun yang bisa membuat orang lain atau diriku sendiri merasa makin buruk. 

Cukup membahas soal suasana hatiku. Bagaimana kalau kuceritakan pemikiran yang mengisi hari-hariku belakangan ini?

Dunia ini kompleks sekali, ya. Dalam satu hari, atau, bahkan satu detik, tujuh miliar manusia gagal dan berhasil mencapai apa yang mereka mau. 

Apa langit tidak lelah menampung keinginan miliaran orang? Kalau tujuan-tujuan itu punya wujud, apa mereka akan berkeliling mengitari bumi di atas sana? Mungkin, lalu lintas para tujuan itu lebih padat dari manusia itu sendiri!

Satu manusia punya beribu keinginan. Lalu, bagaimana dengan miliaran?

Lalu, aku?

Iya, aku yang penuh semangat ini.

Tujuanku apa, ya? 

Sejujurnya, aku sangat takut akan masa depan. Aku tidak berani memikirkan kehidupanku setelah lulus kuliah. aku tidak berani membayangkan diriku, barang lima sampai sepuluh tahun ke depan. Padahal, setiap satu hari kulewati, aku mendekat pada masa depan itu.

Istilah "hiduplah untuk hari ini" sudah aku gunakan dengan cara yang salah. Aku benar-benar hidup untuk hari ini, melakukan banyak hal, tanpa mau memikirkan masa depanku.

Mudah bagiku untuk mencatat to-do list-ku setiap hari. Mudah sekali! Tapi, saat dihadapkan dengan kolom tujuan, aku tidak tahu harus menulis apa.

Intinya, aku yang penuh semangat ini dihalangi oleh pemikiran "Aku mau sekali menulis, hunting foto, dan menulis cerita. Tapi, untuk apa, ya?"

Tidak ada tujuan yang terlihat bagiku. Orang dewasa bilang, hasilnya akan kurasakan nanti. Sekarang, lakukan saja. Tapi, aku butuh bukti! Mereka bilang, semua remaja akan berpikiran seperti, "Mana buktinya?" kita sangat ambisius dan menginginkan banyak hal. Padahal, bukti itu akan ada saat kita berhasil, nanti. 

Jujur, sulit sekali mempercayai mereka. Aku selalu berpikir kalau semua ini tidak ada gunanya.

Kalau aku cuma bisa menyalahkan keadaan dan orang lain, aku mungkin akan bilang, "Ini semua gara-gara ucapan 'sebelum melakukan sesuatu, pikirkan apakah itu berguna atau tidak' yang sering kudengar!"

Sekarang, aku jadi meragukan semua yang kulakukan. Kalau tidak berguna, haruskah kuhentikan semua?

Lalu, kalau seperti itu, tujuanku apa? Gunaku apa?

Apa aku boleh hidup tanpa tujuan seperti ini?

Aku malu pada orang-orang yang menjadikanku tujuannya, sedangkan aku sendiri tidak tahu mau hidup seperti apa.

Kalau bercerita pada satu atau dua orang, aku khawatir mereka akan bilang, "Kamu 'kan sudah punya banyak karya, banyak hal yang sudah kamu buat. Bisa-bisanya kamu ragu? Kamu enggak malu, kalau-kalau ada orang yang iri karena previlege yang kamu punya?"

Tuh, 'kan, pikiranku jadi negatif lagi. Aku berprasangka buruk pada orang-orang yang mungkin mampu mendengarkan ceritaku. Maafkan aku, ya!

Kembali lagi, dunia ini sangat kompleks. Apa ada tempat untukku yang ragu dalam dunia yang serba cepat?

Berpikir dengan penuh ragu seperti ini pun, aku tetap punya sisa-sisa rasa semangat. Aku masih sempat-sempatnya memikirkan akan melakukan apa setelah bercerita di sini.

Seperti apa karakter benda yang bergerak tanpa tujuan? Ia mungkin akan tersesat.

Supaya tidak benar-benar tersesat, aku sekarang hanya bisa percaya kalau jalanku sudah benar, meskipun aku tak tahu jalan ini mengarah kemana.

ㅡㅡㅡㅡㅡ

Lost my way

constantly pushing without rest within the harsh rainstorms

lost my way

within a complicated world without an exit

lost my way

no matter how much i wander, i want to believe in my path.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer