𝙄𝙣𝙩𝙚𝙧𝙡𝙪𝙙𝙚 : Ugh.
Ugh.
Halo? Baik, ini adalah tulisan pertama dalam seri -Interlude-. Aku pikir, ini akan bagus jika kumulai dengan sedikit kemarahan yang telah lama mengukir sejarah?
Bagaimana masa kecil kalian? Saat bermain sepuasnya, menyapu pergaulan dan berteman dengan siapa saja. Membeli minuman dingin sepulang sekolah? Pergi karaoke? Mengikuti kelas tari? Belajar bela diri?
Menjadi perundung?
Bisa jadi. Kau menjadi perundung tanpa kau sadari. Benar, tidak semua dosa dapat kita deteksi.
Kamu membeli minuman dingin dan pergi karaoke dengan uang yang kau palak siswa lain. Kau mengikuti kelas tari dan memusuhi mereka yang menari lebih baik darimu. Kau belajar bela diri untuk menghajar seseorang yang kau benci tanpa alasan.
"Kami cuma bercanda, tante."
Kalian mengolok anak-anak yang diam sepanjang hari. Mereka yang hanya terus menulis sampai pulpen itu terjatuh dari genggaman mereka. Anak-anak yang terus menantikan jam pulang sekolah tanpa sedikit pun merasa ikhlas menikmati ruang ekstrakurikuler.
"Ah, aku ingin cepat pulang saja dan menikmati masakan nenekku."
Lalu kalian menahan mereka.
Kalian menjatuhkan tanpa sedikit pun menyentuh mereka. Nona, jika kau menghindari kotoran dari tanganmu dengan cara itu, sejujurnya memanglah tidak salah.
Sayangnya, mulutmu bahkan lebih busuk dari kotoran binatang. Lalu, apa yang bisa kau banggakan dari tangan lentikmu itu?
Kau menulis sesuatu di papan tulis. Goresan hitam itu tidak berarti apa pun bagi para petugas kebersihan sekolah. Tapi, seseorang yang paham maksudnya akan merasa menyedihkan.
Culun, alay, ughh.
Kalian menyalahkan mereka yang berucap benar dan membenarkan kesalahan yang kalian lakukan bersama. Solidaritas yang sangat menyentuh. Aku terharu sekali, sungguh.
Saat dihadapi bimbingan konseling, kau membual soal moral. Kalian berpikir dan bertindak seperti gadis sempurna. Semua orang tertipu.
Cuih. Bisakah mereka meludah balik pada kalian?
Kalian bertingkah bak penguasa yang sangat murka setiap harinya. Seisi bangunan suci penuh ilmu ini adalah budak kalian. "Kamu mandang begitu, bikin aku kesal aja, deh?"
Kesal? Kata-kata yang kau semburkan itu bukan kemarahan, melainkan kotoran. Sadarkah sudah berapa orang yang kau bunuh? Berapa manusia muda yang sudah terkena imbasnya?
Aku? Sudah biasa menginjak kotoran seperti mulut kalian. Namun, lihat. Berapa orang yang harus menjadi kurus kering, mati rasa, dan berpenampilan seperti orang bermental sekarat?
Kau dan kita semua tentu boleh marah. Tapi, jika amarah konyolmu itu merusak hidup seseorang, hentikanlah. Memuakkan. Apa kau merasa lebih tinggi saat menginjak orang lain?
Apa kau jadi keren saat merendahkan orang yang agaknya lebih tinggi darimu? Lihat, membacanya saja kau merasa malu.
Bagimu mungkin hanya penyesalan beberapa saat. Bagi mereka? Dampaknya ada seumur hidup. Kejadian yang bahkan tak sedikit pun terbesit dalam benakmu bisa saja ada di pikiran mereka setiap akan terlelap.
Amarahmu mengancam nyawa orang, sadar?
Jujur, kau tak keren sama sekali. Kalian semua terlihat seperti idiot yang sedang mengamuk.
Lucu sekali, ughㅡhaha.
Teman-teman, saat menonton film atau drama tentang beberapa orang yang mengamuk dan merundung teman mereka, seringkah kalian terkekeh dan berpikir,
"Apa-apaan, sih, mereka? Konyol sekali."?
Itulah yang ingin kukatakan.
Komentar
Posting Komentar