Hidden StoryㅡSea
Hidden StoryㅡSea
Menurutmu, laut itu seperti apa?
Kamu bisa saja punya dua sisi dalam menjawab. "Cantik, berkilau, luas, dan penuh keindahan di dalamnya", dan "Dingin, tidak stabil, dalam, gelap, dan berisi makhluk-makhluk yang tidak biasa".
Semuanya benar, menurutmu saja. Aku juga punya pendapat yang mirip-mirip soal itu.
Ini adalah kisah tersembunyi. Penyelamatan yang hampir gagal, atau percobaan yang tak direstui?
Pantaiㅡyang kulupa namanyaㅡ, 2013.
Kalau perpisahan kelulusan saat itu dilaksanakan bersama orang tua, mungkin, seumur hidup aku tak akan pernah diizinkan mendekati bibir pantai lagi.
Untung sekaligus sayangnya, hari itu hanya dinikmati para lulusan kelas 6-B bersama beberapa guru pendamping. Anak-anak mini, termasuk aku, terpana dan tak sabar menyentuh air biru asin yang sebenarnya bening itu.
Tidak ada yang peduli soal pakaian apa yang dipakai. Lagi pula, kami datang untuk berenang, bukan untuk berlenggok bak model dengan latar suara khas Hawaii.
Ada yang hanya memakai kaus dalam, ataupun baju renang seadanya. Aku? Sudah, sudah. Tidak usah dipikirkan.
Meski tak berbeda jauh, bagiku suasana hari itu indah. Yah, aku memang selalu melihat sisi indah dari suatu hal. Cahaya matahari yang menyelinap melalui jendela kereta api atau orang-orang yang saling membantu saja dengan mudahnya kusebut indah.
Dulu dan kini, sama-sama indah. Namun, hari itu mungkin terasa lebih indah dan lepas karena masalahku mendekati tingkat 0%. Memang, apa yang harus dipikirkan si cilik yang baru saja lulus SD?
Setelah mendapat arahan dari para pembimbing, kami semua buyar. Beberapa langsung tengkurap di samping ombak, sisanya menciduk air laut dan mencipratkannya pada teman-teman lain.
Lagi-lagi, aku? Tentu saja memilih berdiam sebentar dengan kaki yang disentuh ombak setiap beberapa detik sekali, melihat ke kejauhan sambil bertanya dalam hati: apa, ya, yang ada jauh di tengah sana?
Anak bodoh. Padahal, aku tahu di sana pasti ada ikan, ikan, ikan, lalu ... hiu, paus, terumbu karang, dan masih banyak lagi. Aku teringat buku yang dihadiahkan padaku sebelum hari itu, judulnya "Mengenal Terumbu Karang" karya Ellen Tjandra dan Yosua Ronaldo Siagian.
Seperti khasnya anak kecil, aku teringat ibu dan ayahku. Apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka sibuk mengirim pesan pada guruku untuk bertanya soal keadaanku?
"Ah, mereka harus lihat laut ini juga," kataku sambil menggambar ayah, ibu, dan adikku di pasir. Beberapa detik kemudian, mereka tersapu ombak.
Aku tidak sedih, karena aku langsung paham kalau ombak memang akan menyentuh pasir itu. Ombak itu bukannya mau mengambil ayah dan ibuku. Seharusnya, aku menggambar mereka di pasir yang lebih jauh dari ombak, atau di atas kertas saja.
Temanku menghampiri. Sedang menggandeng dua ban renang donat di tangannya, dia menendang kecil betisku. "Sev, pakai. Ayo kita ke sana bareng ibu guru," katanya setelah mendapat perhatianku. Jarinya menunjuk jauh ke tengah laut.
"Yakin? Memang, kita boleh ke sana?" jawabku ragu. Tapi, dia tak menggumbris dan langsung menggandengku ke tempat para guru berkumpul.
"Ibu, ayo berenang. Enggak usah jauh-jauh," pintanya.
Setelah merasakan sensasi cemas yang cukup besar, aku, untuk pertama kalinya, mengingat bagaimana laut merendam separuh tubuhku. Tanganku gemetar memeluk ban renang, persis seperti temanku.
Pada akhirnya, aku jadi tidak takut-takut amat. Malah, aku sangat sembrono, seolah laut itu adalah kerajaan yang akan menendang rakyat luar sepertiku dari istanannya kalau-kalau aku mendekat.
Padahal, laut terima-terima saja saat aku mendekat karena terpukau akan ombak yang menjauh. Aku pikir itu menarik, saat semua ombak mendekat, tapi dia malah menjauh.
Anak bodoh.
Ibu guru bilang, anak-anak tidak boleh mendekati bagian pantai yang tidak berombak.
Dengan dungunya, aku berpikir "Yang tidak boleh itu 'kan kalau tidak ada ombak. Di sana ada ombak. tapi arahnya berbeda,"
Makin kuikuti, aku makin merasa tertarik. Tapi, rupanya bukan perasaanku yang tertarik. Tubuhku ... tidak bisa mundur lagi.
Saat itu, aku ingin menangis. Tapi, aku akhirnya hanya menatap pantai yang menjauh dan para guru yang meneriakkan namaku. Tiba-tiba, aku jadi rindu sekali dengan pasir.
Aku mau bernapas!
Pintaku pada apapun yang bisa memberiku napas. Kepalaku mendongak mencari-cari permukaan. Sesekali, kurasakan udara masuk melalui lubang hidungku yang sudah perih.
Aku tidak ingat apa aku sudah hendak menyerah saat itu. Yang kuingat, ada saat dimana sebuah tangan menarikku dan memaksaku kembali berpijak pada daratan. Pemilik tangan itu dengan lantangnya mengataiku:
"Bego banget, sih?!"
Aku ingat orang itu! Dia teman sekelasku, laki-laki yang baru kutahu pandai berenang. Dia menarikku dari samping, kemudian menyeretku ke bibir pantai.
Setelah itu, ia bersama para guru ramai-ramai memarahiku. Aku tidak bisa menangis, aku sangat senang.
"Hehe, maaf, hehe," dasar anak berkacamata yang tak tahu diri.
Walau begitu, jantungku berdegup kencang sampai matahari terbenam dan kami kembali memasuki bus. Badanku gemetar, otakku pun tidak berpikir dengan benar karena takut. Aku mendiami semua orang.
Saat diajak bicara, aku tetap tersenyum, entah mengapa. Padahal, aku tidak senang saat tersenyum malam itu.
Guru-guru sempat menawariku pulang lebih dulu. Mereka bahkan hendak menyuruh ibuku menyusul. Tapi, aku tidak mau.
Biar saja kekhawatiran ibuku membludak saat aku sudah disampingnya. Setidaknya, ada fakta tak terbantahkan kalau aku ada di sana, tidak hilang di tengah laut lepas.
Strategiku ampuh. Meski sempat tak bisa berjumpa dengan laut selama beberapa tahun, aku bisa pergi lagi tanpa kecemasan berlebih di hati orang tuaku.
ㅡㅡㅡㅡㅡ
Ingatan yang buruk mengandung ingatan manis, ingatan manis mengandung ingatan buruk.
Bagai jalur lingkar tanpa sudut dan cabang, aku dibawa kembali pada satu kenangan yang membuatku ingat banyak hal.
ㅡㅡㅡㅡㅡ
Is everything I know truly the sea,
or is it a blue desert?
I see ocean, l see desert,
I see the world ...
Everything, same thing,
different night.


Komentar
Posting Komentar