Cokelat dan "Emas"
Cokelat dan "Emas"
Foto: Mapio.net
Hanya sebagai ilustrasi
Pertengahan 2012.
Saat itu, yang kuingat, masih ada beberapa teman yang menggunakan Blackberry, membeli cilor lima ratus perak, dan bertukar isi binder.
Aku kecil sekali waktu itu, meskipun agak tinggi. Rok merah yang kukenakan sedikit kebesaran dibanding anak lain, begitu pula kemejaku. Rupanya, aku adalah penggemar pakaian oversize sejak mini.
Setelah kuingat-ingat lagi, banyak sekali hal yang kuingat dan kunikmati saat itu. Teman sebangkuku seorang anak laki-laki, kami berteman dengan baik. Kadang, ia meminta bantuanku untuk pelajaran tertentu. Begitu juga aku.
Aku punya beberapa sahabat perempuan. Bahkan, hingga lulus, kami masih bertemu. Waktu itu, aku terkejut melihat mereka yang dengan cepatnya bertumbuh dan jadi pribadi yang lebih baik. Pertemuan kami yang ke-sekian kalinya, kami membawa motor masing-masing dan pergi ke rumah makan pinggir jalan.
Selain itu, ada satu ingatan manis yang masih saja melekat. Bukan perkara romansa, hanya saja barang bukti perkara manis itu masih duduk tenang di meja belajarku.
Aku tak ingat hari apa. Yang jelas, hari itu cukup terik. Waktu itu, uang koin logam seribu rupiah yang baru masih cukup menggemparkan. Teman-temanku sibuk menukar uang mereka dengan teman lain agar mendapat koin itu.
Mengikuti tren, aku pun menyisihkan uang logam seribu rupiah setiap hari. Sebenarnya, tujuanku lain. Ingat masa saat ramai mesin pencapit boneka kecil diletakkan di depan minimarket? Setiap hari, aku selalu gagal mengambil setidaknya satu dari benda imut itu.
Harga pengoperasian mesinnya pun cuma seribu rupiah. Bagaimana bisa aku tidak tergiur?
Namun, bahkan hari itu pun aku gagal menjemput boneka kecil yang kuincar. Bedanya, aku sebelumnya begitu terburu-buru karena ada seorang siswa SD yang mengantri di belakangku.
Aku merasa tak enak karena berpikir terlalu lama untuk menemukan cara menangkap boneka.
Setelah menyingkir, aku tak semudah itu pergi. Aku melihat bagaimana cara anak itu mengambil boneka. Barang kali, ia berhasil. ... Dan benar! Ia mendapatkan boneka kecil lucu hanya dengan seribu rupiah. Bayangkan betapa irinya aku kala itu.
Saking terkejutnya, aku terpekik dan menganga. Kelakuanku itu membuat sang anak menengok dan menyadari kehadiranku. Kalau dipikir-pikir, ia tak bicara sama sekali. Karena malu, aku mengalihkan pandanganku sambil tersadar,
"Buat apa aku di sini? Uangku juga udah gak bersisa,"
Sepersekian detik, aku lihat beberapa orang keluar dari kantor pos yang ada di samping toserba tempatku berpijak. Ah, aku baru sadar kalau bangunan itu adalah kantor pos. Dulu, mana kukenal soal berkirim benda lewat sana?
Perhatianku dialihkan sepenuhnya. Aku bahkan sudah tak peduli dengan pandangan anak laki-laki itu padaku. Kau tahu pohon dengan daun kering yang sering gugur di musim kemarau? Di sana, banyak pohon seperti itu.
Itulah juga mengapa aku kembali ternganga kecil tanpa sadar.
Wah, orang yang berlalu lalang bersamaan dengan daun kering itu mengapa indah sekali, ya? Tentram aku melihatnya.
Sore itu, angin berhembus biarpun terik. Banyak dari angin-angin itu yang menerpa halus wajahku dan menggugurkan daun kering, membiarkannya jatuh di atas kaca depan mobil yang berlalu lalang.
"Maaf," ucap satu suara menginterupsi. Ah, maafkan aku karena mengabaikanmu, orang asing.
"Boleh enggak, kalau ini buat kamu?" katanya sambil menyodorkan boneka beruang cokelat seukuran telapak tanganku. Kenapa kau minta izin saat mau memberiku ini? Pikirku.
"Eh?" jawabku saat tekstur halus boneka itu menyentuh telapak tanganku. "Kenapa?" Akhirnya, hanya kata itu yang terucap.
"Aku enggak suka beruang cokelat, salah ambil." singkatnya sembari mengambil tas hijau tuanya yang sebelumnya ia letakkan di samping mesin boneka. Tanpa sepatah kata lagi, ia pergi lebih dahulu.
Mataku tak lepas darinya saat itu, mengapa aku tak ingat wajahnya sama sekali saat ini?
Padahal, aku ingat rambutnya, warna tasnya, gelang di tangan kanannya, dan tempat tujuannya setelah meninggalkanku bersama beruang imut incaranku:
Kantor pos. Aku tak tahu kenapa ia pergi ke sana. Barang kali, ia hendak bersurat dengan sahabat penanya? Mana kutahu.
Aku tidak menganggap ini takdir khusus atau ia memang datang hanya untukku hari itu. Terlalu banyak alasan yang lebih logis untuk menjelaskan mengapa ia ada di sana.
Cerita ini hanya menarik untuk kuceritakan. Manis 'kan? Meskipun anak yang kutemui hari itu perempuan, aku akan tetap bilang kalau kisah ini manis.
Mungkin, lingkungan sekitarku saat itu sangat damai bagai latar drama 2000-an. Tapi, memang begitu nyatanya. Aku bersyukur telah dipertemukan dengan tempat seperti itu.
Kenangan yang ada di bayanganku kini melekat, aku jadi tahu kepada siapa aku harus merasa bersyukur, dan bagaimana aku harus terus menikmati keindahan itu tanpa merusaknya.
Kadang, aku menunggu ingatan manis baru untuk kuingat. Tapi, sekarang semuanya tak mudah. Jangankan mendapat ingatan baru, mengenang yang lama pun aku mulai kesulitan.
Bagiku, ingatan itu seperti tumbuhan yang harus kurawat. Bukan untuk tumbuh, tapi untuk bertahan. Bertahanlah, ingatan-ingatan manis.
In front of post office
Yellow dried leaves are flying with the wind
Like people passing by, i saw them flying away

Mantoel
BalasHapus