Aku hanyaㅡaku tidak tahu.
Aku hanyaㅡaku tidak tahu.
Rasanya aneh sekali, kendati ini bukan pertama kali.
Dadaku sesak, mataku memanas, telingaku terasa nyeri, napasku tercekat, dan aku tidak bisa tersenyum bahkan saat aku memaksa.
Hanya suaraku yang bisa kuatur, ia bisa terus stabil meskipun yang lainnya tidak.
Yah, meskipun aku juga tidak sedikit pun merasa ingin menangis.
Seluruh tubuhku terasa lelah, rasa kecewa membuatku tak lagi ingin berkata "Semuanya bisa kembali baik-baik saja". Aku terbiasa dengan situasi ini.
Aku baik-baik saja dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Aku tidak mau percaya untuk kecewa lagi.
Aku membuang rasa hormat dan kasih sayangku karena begitu banyaknya degup jantung yang menguat dengan tiba-tiba.
Bukan jatuh hati, bukan pula begitu bahagia hingga ingin menangis.
Lagipula, kau tidak akan pernah berubah. Kau akan selalu seperti itu, seperti itu, seperti itu. Kau tidak akan pernah berubah.
Kau seperti hiasan yang menyakitkan, kadang aku pikir, tak akan ada yang berubah bahkan satu helaan napas pun jikalau kau tak ada.
Kau seperti lukisan yang hadir untuk memeras rasa sedih orang.
Dan aku adalah penonton yang dengan tak sengaja mengunci diri bersamamu. Hatiku menangis bahkan hanya dengan fakta bahwa kau ada, begitu menyakitkan saat melihat betapa menyedihkannya warnamu.
Apa aku harus membakarmu? Tidak perlu, kau telah hangus dalam hatiku. Kau tidak ada, hanya tinta hitam pada kertas tebal yang mengatakan kau ada di atas yang lain.
Aku hanya berpikir, seperti inikah cinta pertama semua orang?
Aku tak peduli bagaimana kau memamerkan aku di depan tujuh miliar manusia. Aku hanya butuh perlakuanmu di depanku!
Klise, tapi akan kuakui. Aku bahkan pernah merasa dunia ini tidak memuat rasa sedih jika kau berperilaku baik padaku.
Itu saat kusebut kau, sebagai duniaku.
Kadang aku bertanya, mengapa perasaanku yang katanya begitu rapuh itu bisa sebegini dinginnya?
Jawabannya kutemukan sendiri: 'patah hati terkuat' lah yang akan selalu menang.
Melihatnya pun tak memberiku banyak kesan. Hanya tampak seperti orang asing yang lewat, dimana aku bahkan tak punya dorongan untuk sedikit berbinar-binar saat melihatnya.
Sebagai kesimpulan yang akan selalu ada, aku akan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Tidak perlu bertanya, hadirnya tulisan ini adalah kabar dariku: Aku baik-baik saja.
Defense: how to deal with Dis-ease when you realize that Life Goes On.
Komentar
Posting Komentar