Influencer, 'New Media', dan Pemirsa
Influencer, 'New Media', dan Pemirsa
Influencer umumnya aktif di media sosial. Ini ditemui kemungkinan besar kaerena komunikasi dua arah terjadi lebih intens di sana. Sebab itulah, influencer bisa dikaitkan dengan teori Weber dalam New Media. Bahkan menurut pemahaman saya, influencer masih bisa dikaitan dengan teori Robert Allen dan penelitian Tamar Liebez & Elihu Katz.
Keterkaitan
influencer dengan ‘Teori Kurungan’ Weber:
1.
Semakin besar nama seorang influencer, semakin banyak masyarakat yang
bergantung pada konten-kontennya.
2.
Kemungkinan besar, influencer yang memang punya tujuan ‘memberi pengaruh’
terhadap masyarakat itu melakukan beberapa perkembangan untuk menguntungkan
dirinya. Seperti kegiatan endorse dan lain sebagainya.
3. Awalnya, influencer memang benar-benar berfungsi memberi pengaruh dan punya kendali yang cukup kuat terhadap masyarakat. Khususnya, influencer diwajibkan memberi pengaruh baik. Namun kelamaan, mereka berubah menjadi sekelompok pemberi pengaruh yang tak lagi memberi pengaruh yang penting dan baik, karena berfokus untuk mendapatkan keuntungan untuk diri mereka sendiri.
‘Suatu hal dapat menjadi kurang berarti ketika terlalu sering ditemui’. Itulah mengapa penting bagi influencer untuk menemukan ciri khas mereka sendiri agar tak ditinggalkan.
Lalu, bagaimana masyarakat bisa dengan mudah terikat dan terpengaruh dengan influencer?
Berdasarkan pemikiran solidaritas Durkheim yang bisa saya pahami, masyarakat kemungkinan menemukan suatu kesamaan antara dirinya dengan influencer tersebut, sehingga solidaritas antara keduanya meningkat. Ini bergantung pula pada cara seorang influencer merespon pandangan lain dari masyarakat. Umumnya, influencer dengan pemikiran yang terbuka dan mau berbagi pendapat lebih disukai banyak orang.
Efek New Media mempermudah komunikasi dua arah antara influencer dan masyarakat.
Seperti yang diketahui, komunikasi dua arah yang lebih intens adalah ciri khas perkembangan new media. Dengan fungsi ini, influencer bisa lebih mudah melakukan penelitian terhadap masyarakat dengan memperhatikan respon-respon mereka terhadap konten sehingga menentukan konten yang tepat.
Seperti halnya tokoh publik, influencer tertentu dapat juga menjadi favorit beberapa kelompok orang. Sehingga, teori Robert Allen sesungguhnya bisa juga diaplikasikan terhadap influencer. Sebagai pihak yang aktif di sosial media, influencer akan lebih kental akan sisi paradigmatik yang akan mengikat audiens terhadap dirinya. Ia akan cenderung memikirkan bagaimana audiens memperhatikan karakternya dan apa yang ingin dilihat masyarakat daripada apa yang ingin ia beri tahu. Hal ini dapat membuat masyarakat makin terikat karena konten yang selalu memberikan pengaruh yang tepat.
Hasil eksperimen Tamar Liebez & Elihu Katz pun dapat dijadikan acuan bagi influencer untuk menentukan target audiens dan jenis kontennya. Contohnya, audiens memiliki pandangan berbeda tergantung etnis, kebangsaan, agama, atau kelas sosial mereka. Pandangan-pandangan ini terkait dengan teori dimensi paradigmatik Allen.
Teori-teori di atas adalah apa
yang bisa saya temukan terkait dengan influencer. Saya mendapati bahwa
influencer dapat memanfaatkan media sosial sebagai hasil ‘New Media’ dengan
baik untuk meneliti target audiens, menentukan konten, dan bahkan
mempertahankan audiens mereka. Pada dasarnya, pendapat saya adalah mengenai
‘bagaimana influencer di masa kini dapat bertahan dengan berbagai fasilitas
dalam new media?’
Komentar
Posting Komentar