Dengar Suaraku, Nona.
Dengar Suaraku, Nona.
Di sebuah kota kecil di pesisir yang sunyi, lahir seorang gadis yang sangat cantik. Seperti mutiara yang terbentuk atas kumpulan pasir, seorang putri lahir dengan hati yang begitu kuat. Ia ditakdirkan berhati dingin untuk berlindung dari segala marabahaya. Ia berhati es untuk membentuk mutiaranya: Sang Putri yang rapuh dan begitu mudah jatuh, membuat dinding tipis terakhir dengan segala rasa keras kepala, bahwa ia akan kuat sampai akhir.
Saat masih belia, gadis itu digandeng oleh sang ayah mengeliling bibir pantai. Ekspresinya datar, ia terlalu takut tersenyum. Melihat wajah ayahnya yang sedang sumrigah nan lembut pun ia tak ingin. Jika senyum itu menghilang suatu hari, sang putri berpikir bahwa ia tak akan sanggup hidup di dunia.
Sang bunda juga selalu menggendongnya di waktu senggang. Di musim dingin, bunda merajut syal dan menjualnya kepada para turis. Mereka menyukainya, warna syal itu biru lembut dengan banyak kilauan kasih sayang di dalamnya.
Sang putri sangat menyukai laut. Awalnya, ia pikir ia hanya terbiasa melihat laut, karena itu ia menyukainya. Tapi, semakin pikirannya menjadi dewasa, sang putri sadar bahwa laut memanglah cinta pertamanya.
Tak ada seorang pun yang tahu, bahwa ia jatuh cinta pada laut karena lautlah yang terlebih dahulu mencintainya. Bertahun-tahun, sang putri melongok ke sana-ke mari, memandangi setiap sudut laut yang jelas tidak ada. Laut itu begitu luas sejauh matanya memandang.
Bahkan dirinya pun tak tahu, bahwa apa yang membuatnya jadi anak yang begitu tenang adalah suara dari laut. Suara yang selalu ia lupakan, namun ia selalu merasa akrab saat mendengarnya kembali.
Apa yang ia cari? Ia merindukan sesuatu yang tak ia ketahui. Ia mencari pergerakan di tengah laut yang tenang, mencari hal besar yang ia pikir bisa melindunginya.
Ayahnya adalah seorang pelaut. Semakin dewasa sang putri, ayahnya akan semakin sering meninggalkannya. 'Kau sudah dewasa. Kau tidak perlu dua orang setiap hari untuk menjagamu.'
Tenang saja, ayah. Laut yang dingin itu yang akan menjaga putrimu. Sejak lahir, sang putri bahkan memang ditemani oleh puluhan paus biru yang bernyanyi. Mereka merayakan kelahiran gadis baik yang lebih dingin dibanding laut, namun lebih hangat dibanding genggaman telapak tangan manusia.
Tapi, ayah tak pernah pulang setelah mengatakan hal itu. Ia menghilang tanpa jejak bersama kapal yang sangat disayangi sang putri karena membawa dan menjaga ayahnya mengelilingi dunia air yang jelas bukan milik manusia.
"Ayah, kapan kau pulang? Bukankah sudah bertahun aku menunggumu? Kau bilang tidak perlu dua orang setiap hari untuk menjagaku. Tapi, aku ingin dua orang ... hari ini saja, ya?"
"Tolonglah datang, agar aku percaya bahwa kau benar-benar akan kembali jika aku tetap kuat ... "
Tepat setelah mengucap kata 'kuat' dan mulai menyambut sunyi, air mata gadis itu tak terbendung lagi. Itu adalah pertama kalinya ia menangis setelah ia lahir.
"Kapal biruku, kembalilah dan bawa ayahku pulang. Jika ia sakit, aku akan menjaganya. Bahkan jika ia sehat, aku akan menjaganya. Jika ia tak mengenaliku pun, aku akan tetap menjaganya."
Seperti mantra yang diucap berulang, sang putri tetap mengucap kalimat itu dengan bibir gemetar. Namun, tiba-tiba, ia mendengar suara gemuruh pelan.
Apa itu benar-benar gemuruh? Tidak, itu bukan. Setelah mendengarnya berkali-kali, sang putri sadar bahwa suara itu begitu lembut dan rendah.
Seperti sihir, ia berhenti menangis. Hanya tersisa isakan kecil tanda ketidak-ikhlasannya atas kepergian sang ayah. Tapi, suara itu menguncinya dalam tenang seolah tak akan membiarkannya menangis lagi.
"Apakah itu kau, ayah?"
Tentu saja bukan. Mengapa ia mengucap tanpa berpikir? Ayahnya sudah tiada. Sadarlah, putri. Biarkan ia tenang bersama siang dan malamnya: laut. Kau hanya perlu terus mengingat kasih sayang dan ketegasannya, biarkan kebaikannya mengalir dalam darah dan ingatanmu.
Butuh waktu lama bagi sang putri untuk kembali bangkit dan sadar sepenuhnya. Selama itu, hari-harinya kelabu dan biru, campuran antara laut dan dirinya.
Seiring kembalinya hari-hari sang putri, seiring itu pula ia melupakan suara itu lagi. Suara akrab yang selalu membuatnya tenang dalam kondisi apa pun.
Ia tak pernah ingat bahwa ada suara jenis itu, lalu bagaimana ia akan tahu dari mana asalnya?
Hingga suatu senja di musim gugur, saat pesisir itu dipenuhi daun gugur yang entah dari mana datangnya, sang putri mendengar suara itu lagi. Ia kembali merasa akrab. Mengapa ada hal yang terus ia ingat dan lupakan sepanjang waktu?
Kali ini, ingatlah suara itu, putri. Ia akan kembali lagi, lalu pergi lagi, dan kau akan merindukannya lagi tanpa sadar. Kau tidak akan bisa merekam suaranya dengan alat apa pun, karena hanya telingamu yang mampu mendengarnya.
Hanya kau yang diizinkan. Bahkan kawannya pun tak bisa mendengar suaranya.
Apa kau menderita, karena terus melupakan hal yang ingin kau ingat? Atau karena kau terus merindukan sesuatu yang kau sendiri tak tahu apa itu?
Kau adalah candu baginya, dan ia adalah candu bagimu. Jika bukan, bagaimana mungkin ia terus datang dan pergi, mendekat tanpa sengaja, bahkan tanpa sensor-pendeteksi-sang-putri di kepalanya?
Dan bagaimana pula kau akan menjelaskan kerinduanmu padanya yang tak masuk akal?
Aku tahu sekarang, kau adalah makhluk besar yang tidak bisa mendatangiku. Karena itulah kau begitu berisik memanggilku dari jauh untuk menenangkanku. Apakah kau adalah kapal biruku? Apa aku bisa mengarungi laut bersamamu?
Frustasi sekali rasanya ketika aku bahkan tak tahu persis makhluk macam apa kau itu. Tapi, aku terus merindukan suaramu, aku ingin pergi ke tengah laut agar bisa lebih jelas mendengarmu.
Kapal biruku hilang, aku bahkan belum pernah menumpanginya. Jika kau tidak mendatangiku, seumur hidup pun aku akan mengingat dan melupakanmu kembali.
Lalu bagaimana? Laut bukanlah milikku. Tanah pun bukan milikmu. Jika aku bersikukuh menyebrangi lautan, aku akan mati bahkan sebelum kembali mendengar suaramu. Dan jika kau yang datang kemari, kecil kemungkinan kau bisa kembali.
Pada akhirnya, kita akan mati. Jadi teruslah bernyanyi, percayalah bahwa aku selalu mendengarmu. Aku pun akan terus hidup di sini, percaya bahwa kau akan bernyanyi untukku lagi, dan aku akan mengingatmu lagi.
Temanku.
Sang putri menggores pasir pantai dengan jarinya. Ia menggambar seorang anak yang berdiri di pinggir pantai, laut, dan sebuah benda asing yang sangat besar jauh di sana. Karena tak tahu bagaimana persisnya benda besar itu, ia hanya menggambar bentuk oval besar dengan wajah yang sedang tersenyum di ujungnya.
Jadilah, makhluk besar yang menatapnya dari jauh, dari laut yang dalam, walaupun itu sama sekali tak mungkin benar-benar terjadi.
Bertahun kemudian, bahkan saat sang putri akan menikah, ia masih sering mendengar suara itu. Suara yang lagi-lagi ia lupakan.
Nona, tak apakah jika aku hanya menjagamu dengan suaraku? Cukupkah? Bolehkah jika aku tetap sejauh ini tanpa tahu rupa kawan cantikku, kawan yang selalu menjaga pintu laut dengan sangat tulus. Pantai itu tak pernah terlihat buruk saat kau ada di sana. Saat kau sedih, dengarlah aku, aku akan menghiburmu dengan suara spesial—hanya kau yang bisa dengar.
Saat kau berbahagia, anggaplah suaraku sebagai nyanyian. Pengantar tidurmu, latar suara hari-hari mu, atau suara seorang teman yang setuju akan cerita-cerita konyolmu.
Lalu, lupakanlah aku. Kau tidak boleh mengingatku, akan sangat aneh jika kau mengingat suaraku yang berbeda. Suaraku terlalu tinggi untuk didengar. Kau akan terus kebingungan dengan suaraku yang tak pernah kau dengar sebelumnya.
Tapi, kau manusia. Satu-satunya teman yang menungguku bernyanyi. Teman ajaib yang bisa mendengar suaraku dari atas laut, saat tak ada teman lain dibawah laut yang bisa mendengar suaraku.
Terima kasih, nona. Bahwa teman adalah candu yang mustahil untukku, dan bahwa suaraku adalah candu untukmu. -W52

Komentar
Posting Komentar