Toko Ajaib: Dirimu Ada di Laut Itu

 Toko Ajaib:

Dirimu Ada di Laut Itu

    "Holding my breath, I step into my sea. I face myself so beautiful, yet crying so sorrowfully."


    Delapan belas tahun hidupku, aku selalu berpikir memerlukan orang lain. Jika tidak ada orang di sisiku, aku merasa akan hilang tanpa jejak seperti lukisan di atas pasir yang terkena ombak laut. Begitu saja.

    Saat orang-orang memusuhiku, hidupku berakhir. Saat mereka mencelaku, tidak ada harapan lagi. Saat mereka menyapaku, langitku cerah. Semua makananku terasa manis. Saat mereka berjalan di sampingku, rasanya aku seperti melewati jalan penuh bunga yang begitu mulus.

    Saat itu, kupikir mengejar orang lain adalah hal tersulit yang harus terus kulakukan dan kupertahankan. Orang lain adalah garis finish-ku. Pengakuan mereka adalah penopangku. Tanpa itu, aku hayalah debu yang tak terlihat.

    Tapi, ternyata, justru pemikiran itulah yang membuatku menjadi debu yang terus menempel di satu hal dan hal lainnya. Dengan mudahnya mengikuti hembusan angin dan hinggap di mana saja. Menyedihkan.

    Sebenarnya, siapa aku? Tak bisakah aku berdiri tegak seperti hal-hal yang aku hinggapi, dengan kuat menggenggam tempatku berpijak agar tak terbawa angin atau tertelan ombak?

    Aku selalu bernapas. Selama ini kupikir hidupku sempurna jika orang-orang tak berkomentar buruk padaku. Kupikir egoku adalah menjadi seperti orang lain. Menerima senyuman dan pujian mereka, membuat mereka menerimaku. Kupikir itulah caraku menghadapi diriku sendiri. Kupikir, itulah diriku yang sebenarnya.

    Hidupku cerah, aku dikelilingi orang-orang yang mencintaiku. Aku mengatakan 'ya' dan mereka tersenyum. Aku tak pernah meminta mereka memikirkanku. 'Kalau menurutmu itu baik, lakukanlah.'

    Hal paling menakutkan bagiku adalah menghadapi kemurkaan dan tangisan mereka. Kalau mereka menangis, aku merasa itu adalah ulahku. Aku tidak berguna, aku sampah, aku dibuang. Aku tak dipercaya.

    Sampai akhirnya, aku berjalan mencari diriku sendiri setelah delapan belas tahun. Lucu 'kan? 

    Kau tahu dia ada dimana? Kau tidak akan menduganya. Dia tak pernah terlihat karena dia ada di dasar laut. Selama ini, aku hanya mengelilingi laut bersama orang-orang, tanpa tahu diriku tertelan habis dalam laut yang kusebrangi.

    Laut itu gelap sekali. Tentu saja, laut itu adalah ketakutan yang kuhindari. Aku mengikuti orang-orang agar bisa menyebrangi laut itu dengan aman.

    Suatu waktu, aku begitu ingin menyelami laut yang gelap itu. Aku ingin pergi dan menemui diriku. 

    Aku tak bisa berkata-kata saat melihatnya. Dalam kegelapan yang jauh itu, dia begitu cantik. Sangat cantik sampai aku iri. Tapi ... dia menangis pilu, sangat pilu. Meskipun tanpa suara, dia terlihat menangis begitu keras sampai ia kelelahan. Wajahnya memucat dan ia tersungkur di dasar laut itu.

    Kenapa kau begitu? Kenapa kau menangis? Bukannya kau sangat bahagia?

    Dia terlihat seperti sosok yang sangat kurindukan. Seperti saudara yang lama tak berjumpa, seperti ibu yang kukasihi, seperti ayah yang melindungiku.

    Mengapa sangat sulit untuk mendekatinya? Dia menjauhiku. Aku sangat takut saat ingin menemuinya. Aku harus menyelami laut yang kutakuti dulu, laut yang gelap dan mengerikan sampai aku tak berani bernapas. 

    Sampai saat ini, aku masih berusaha mendekatinya. Sesekali aku ketakutan dan tercekik. Aku harus melepaskan orang-orang yang melindungiku. Aku memberanikan diri menyelami laut itu sendirian. Aku menghadapi ketakutanku dan merasakannya, kemudian memahaminya.

    Tidak peduli betapa sulitnya aku bernapas, aku akan mendekatinya. Itulah diriku. Aku sendiri yang harus menghampiri dan memahaminya. Selama ini, aku membuangnya dan meninggalkannya di sana. Saat aku berhasil sampai padanya, aku ingin bilang ...

"Aku ingin mengenalmu. Apa kau baik-baik saja hari ini? Nyaman sekali saat berada di sekitarmu."

    Pada akhirnya, aku hanya diam saja tanpa bisa bersuara. Dia begitu cantik, dia dingin dan elegan. Bagiku, cukup hanya mengelilinginya saja seperti ini. Kali ini, aku yang akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. 

    Jika aku tidak bisa membuatmu pergi ke permukaan, maka akan kubuat laut gelap ini menjadi laut yang indah untukmu. Mulai hari ini, aku akan menyayangimu. Aku akan hinggap padamu. Aku tak akan terlalu sering hinggap pada orang lain lagi.

    Aku bersyukur. Meski dia tetap diam, dia berhenti menangis. Tapi ...

"Kenapa kau meninggalkanku? Aku sangat rindu padamu."

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer