Peran Ibu Bagai 'Pelindung' dan 'Penuntun' Keluarga di Kala Rundungan Wabah

 Peran Ibu Bagai 'Pelindung' dan 'Penuntun' Keluarga di Kala Rundungan Wabah

 

Pendahuluan

Di masa pandemi ini, kita perlu tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak. Interaksi dan pemahaman antar-anggota di dalam rumah perlu ditingkatkan, guna menjalin hubungan yang sehat secara jasmani dan rohani. Terkait penyebaran virus corona yang merebak ke seluruh dunia selama hampir satu tahun, perlu ditingkatkan usaha mengedukasi, memberi arahan atau peringatan, dan aturan yang memperkuat protokol kesehatan di rumah dan lingkungan sekitar. Hal ini sangat penting untuk menjaga kesehatan dan menghindarkan penyebaran virus antar-keluarga.

Tubuh Argumen

 Sebelumnya, berbagai masalah lantas menerpa. Keluarga, khususnya anak-anak menjadi lebih sulit untuk dikontrol. Selama pandemi, terjadi berbagai hal yang cukup merugikan. Mental yang terganggu dan tak terbiasa dengan kondisi baru, kebosanan yang terus melanda, hilangnya kreativitas, bahkan masih tak sedikit masyarakat yang menganggap enteng penyakit Corona Virus Disease (COVID-19).

 Rupanya, jumlah pernikahan anak pun membludak. Kegiatan pembelajaran sendiri terganggu hingga secara resmi harus diberlakukan aktivitas Belajar Dari Rumah (BDR) melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19.

 Respon masyarakat yang beragam pun akan memberikan dampak kesehatan yang berbeda pula. Respon negatif yang dimanfaatkan dengan baik dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Namun, respon negatif yang berlebihan akan menimbulkan ketakutan berlebih yang tidak perlu. Peran seorang ibu dalam berbagai aspek ini sangat diperlukan. 

  Selain harus dapat mengingatkan dan senantiasa menjaga keluarga agar terus menerapkan protokol kesehatan, seorang ibu di masa pandemi ini juga harus dapat mengontrol asupan gizi dan memberikan nasihat-nasihat guna menjaga kesehatan psikologis anggota keluarga lainnya. Melansir KompasTV, seorang ibu rumah tangga bernama Putu Deasy yang juga seorang komisioner KPU, konsisten menjaga, mengingatkan, memberi arahan protokol kesehatan, dan mengontrol makanan sehari-hari keluarganya.

 

 Yeni Rawosi, seorang ibu asal Baubau, Sulawesi Tenggara, juga tak bosan menjaga dan mengingatkan sesama perihal protokol kesehatan. Baik di dalam atau di luar rumah, pada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat sekitar. Dari contoh tersebut, dapat dilihat dan diperhatikan bahwa umumnya keluarga dan lingkungan sekitar dengan dukungan peran para ibu yang layak dicontoh ini memberikan efek baik. Keluarga terhindar dari virus corona, perilaku dan respon masyarakat pun terkontrol. Tak takut berlebihan akan ancaman penyakit COVID-19, namun juga tak menganggap enteng virus corona.

Kesimpulan

 Pada intinya, anak-anak dan masyarakat sekitar memiliki tanggapan dan tingkat antisipasi yang berbeda, sehingga tingkat kerentanan pun berbeda. Hal ini salah satunya dikarenakan peran dan edukasi dari orang tua, khususnya para ibu. Bersama, kita harus bisa menjaga kesehatan psikologis, serta terus mempertahankan kebiasaan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Dengan begitu, kita dapat saling membantu menyesuaikan respon dan perilaku sekitar demi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat yang sehat.

Komentar

Postingan Populer