Seorang Anak Kecil dalam Dirimu
Seorang Anak Kecil dalam Dirimu
"Apa kamu tahu kenapa aku tak pernah bercerita soal diriku sendiri? Itu membuatku sesak dan ingin menangis."
Aku selalu ingin tahu tentang kehidupan orang-orang, aku ingin tahu bagaimana orang dewasa hidup. Sejak kecil, aku merasa lebih nyaman berdiri di antara orang-orang dewasa. Orang tuaku, teman-temanku, saudara-saudaraku, teman masa kecilku ... Bahkan teman masa kecilku itu pun setidaknya satu tahun lebih tua dariku.
Aku tidak membenci anak kecil, tidak.
Saat ada anak-anak yang berdiri dekat sekali denganku, aku tak tahu harus apa. Aku hanya diam dan sedikit bermain dengan mereka.
Mungkin aku belajar terlalu cepat? Saat usiaku sebelas tahun, aku tidak tinggal dengan orang tuaku. Aku sekolah jauh dari rumah. Mungkin itu yang membuatku jadi sedikit lebih mandiri. Aku tinggal bersama nenekku dan aku tidak pernah benar-benar ingin menyusahkannya.
Aku anak yang pendiam. Pola pikirku masih sama, seperti anak-anak sebelas tahun. Hanya sedikit lebih pendiam, penuh rasa gugup, takut, dan suka menyendiri di ruang multimedia sekolah yang cukup dingin karena entah mengapa pendingin ruangannya selalu menyala.
Aku tak pernah berteman baik dengan siapa pun, mereka semua akhirnya pergi. Contoh sederhana, teman yang 'sedikit' lebih sering mengobrol denganku di kelas tujuh, mungkin sudah tak pernah bicara dnganku lagi di kelas delapan.
Aku tidak pernah membuang mereka, aku sangat menyayangi mereka. Sepertinya rasa sayangku besar sekali sampai aku takut mereka hilang. Kau tahu? Saat mereka pergi, aku hanya berdiam. Bertanya alasan mereka pergi pun tidak. Aku hanya tetap menyapa mereka sesekali saat berpapasan. Aku hanya bertanya-tanya pada diri sendiri apakah aku melakukan hal yang salah. Tidak, aku tidak.
Aku tidak membenci mereka, aku merindukan mereka.
Menyebalkan sekali menjadi seorang pengingat. Aku harap aku bisa bersyukur karena bisa mengingat momen kecil, bahkan momen sederhana saat temanku mengambilkan pulpenku yang jatuh ketika pelajaran IPS di Selasa siang. Waktu itu pukul dua lewat enam belas, sekitar empat puluh empat menit sebelum pulang sekolah.
Aku ingat suasana kelasku waktu itu, dingin. Kelas itu memang selalu dingin.
Aku berkali-kali memaki diriku sendiri. Kenapa aku sangat membela mereka? Sebenarnya kenapa aku sangat menyayangi mereka? Kenapa aku bahkan lebih menyayangi mereka dibandingkan diriku sendiri?
Dan kenapa mereka berseberangan dariku saat aku ingin mereka di sampingku? Menguatkanku? Berkata kalau aku tidak bersalah dan aku akan baik-baik saja. Apa mereka tidak berpikir sepertiku yang sangat suka tertawa bersama meereka? Aku memang tak banyak bicara agar tidak salah, aku banyak mendengar. Tapi, aku mempelajari mereka dan tertawa saat mereka tertawa.
Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab dalam beberapa menit: Teman memang akan segera pergi. Sesayang apapun aku pada mereka, jika mereka tidak nyaman padaku, mereka akan pergi bahkan saat kuminta menetap satu menit lagi.
Sejujurnya, aku ingat semua nama temanku. Semuanya, bahkan meskipun hanya bertemu sekali lalu berkenalan saat itu, ketika seseorang membantuku mengambil boneka di mesin pencapit boneka dekat sekolah dasarku dulu.
Sepertinya aku menyayangi semua orang.
Apa aku bisa seperti mereka? Pergi begitu saja? Aku tidak tahu, aku tidak pernah benar-benar ingin pergi dari seseorang dalam hidupku.
Satu pelajaran kudapat. Aku tidak boleh terlalu jatuh atau bergantung pada teman-temanku. Aku bisa jamin aku tidak akan pergi dari mereka, tapi aku tak yakin mereka akan terus di sampingku. Karena itu, berpikirlah menggunakan otakku. Aku tidak ingin menjerit dan menangis saat menginginkan mereka ... namun mereka tak ingin aku lagi.
Orang-orang bisa melakukan apapun terhadap orang yang tidak mereka sukai. Lebih baik kau cari aman saja.
Aku masih nyaman berada di dekat orang yang lebih dewasa. Mereka melindungiku. Mereka bisa membantuku. Mereka membuatku mengerti akan sesuatu. Benar-benar sesuatu.
Keadaan mendadak berubah, tempat berkumpulnya orang-orang dewasa yang paling kupercaya. Mereka bertengkar seperti anak-anak. Tolong tandai, seperti anak-anak.
Aku tahu alasan di balik itu semua, tapi aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Aku tahu aku tidak bersalah, dan aku pun tahu siapa yang bersalah. Tapi, aku terlalu sayang sampai tak mampu menghukum mereka. Aku menyesali segalanya, apa ini harus terjadi?
Aku hanya menikmati hari-hari itu dan mempelajarinya. Menanamkan bahwa aku harus jadi orang seperti apa, dan menjauhi orang seperti apa. Aku jadi sedikit takut pada orang dewasa. Apa mereka semua sama seperti yang kutahu? Atau hanya orang-orang yang tak berpikir panjang dan egois?
Aku tidak suka orang egois, orang egois menyakiti orang yang kusayang.
Sekali lagi, sepertinya aku dewasa terlalu cepat. Aku tidak berani tertawa terlalu keras atau senyum terlalu lebar. Saat aku merasa begitu senang dan membuka bibirku untuk tertawa berlebihan, dadaku terasa sakit. Benar, aku tidak halusinasi. Aku serius. Aku seringkali mengalaminya sampai aku merasa mungkin aku tidak boleh terlalu senang.
Saat kau tersenyum di pagi hari, kau bisa saja sudah kehabisan air mata di malam harinya. Itulah pelajaran yang kedua. Seseorang mengatakn padaku bahwa aku tidak boleh mempercayai siapa pun.
Hai, orang-orang dewasa. Apa kau juga akan mengatakan itu pada anak berusia enam belas tahun?
Aku benci menjadi seorang pengingat. Tidak bisakah aku hanya mengingat hal-hal yang baik?
Seseorang yang baik pernah bilang kalau aku anak yang keren. Anak yang mandiri, dewasa dan bisa dipercaya. Aku berterima kasih, namun tidak bangga sama sekali. Aku ingin memukulnya meskipun dia baik.
Aku tidak mau, aku lelah. Aku ingin jadi anak kecil, aku ingin bermain dan jadi anak yang sembrono. Aku ingin menjadi anak nakal yang tidak pernah mengumpulkan tugas tepat waktu. Aku terlalu takut memikirkan masa depan, dan akhirnya hanya melakukan semua yang kubisa di tempatku sekarang. Jika tidak bisa kembali, aku ingin waktu berhenti saja. Sedikit-sedikit, aku mengakui kalau usia delapan belas tahun bukan masa-masa yang buruk.
Aku ingin bermain, aku tidak pernah diberi waktu untuk bermain. Aku terus berpikir hingga otakku menua lebih dulu dari tubuhku. Aku ingin keluar dan pergi ke tempat tinggi di malam hari. Aku ingin melihat pemandangan dan berteriak di sana, seperti anak-anak yang tertarik dengan ketinggian dan lampu kelap-kelip.
Aku ingin berjalan tanpa tujuan, sebentar saja. Tapi, aku tak pernah berani melakukan sesuatu sendiri lebih dulu.
Sekarang, aku tak se-suka itu pada orang dewasa. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah bersikap seperti mereka. Aku tak sadar membentuk diriku sendiri: anak yang berlagak dewasa. Kenapa aku seperti ini saat ada orang dewasa yang bersikap seperti anak-anak?
Sebenarnya, aku masih sama. Aku menyayangi orang-orang di sekitarku. Aku hanya tidak ingin mendekati banyak orang dan mengingat mereka, rasanya menyakitkan. Aku juga belajar untuk tidak berharap pada orang lain dan membiarkan mereka pergi jika ingin. Memang, sakit saat mencobanya. Aku tak yakin bisa.
Tidak bisakah waktu empat tahunku yang berharga itu dikembalikan? Aku sekarang sudah jadi mahasiswa, aku tidak bisa bermain.
Yah, bagaimana pun aku sering berpikir logis. Tidak ada yang bisa mengembalikan waktu.
Mataku buram beberapa kali saat menulis.
Hidupku memang begini-begini saja. Tidak terlalu berwarna dan istimewa. Aku tidak bisa mengatakan pada diriku sendiri kalau aku bersinar, aku istimewa. Padahal, aku selalu mengatakan itu pada orang lain.
Aku terus merasa sedih meskipun masa-masa itu sudah terlewat. Kau tahu, aku pengingat. Itu menyebalkan saat terkadang aku mengingat hal itu. Aku terus berhati-hati dan tidak tenang, kalau-kalau hal itu terulang lagi.
Aku mungkin akan segera menghapus tulisan ini. Aku selalu menyesal setelah menceritakan diriku. Lebih baik, aku menceritakan orang lain atau kau yang cerita padaku. Tenang saja, aku tahu mana yang rahasia dan mana yang tidak.
Komentar
Posting Komentar