Jamais Vu

Jamais Vu


: jamais vu involves a sense of  someone's impression of seeing the situation for the first time, despite rationally knowing that they have been in the situation before. 


Ia menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong. Entah bagaimana, hatinya terasanya nyeri, umpama disayat dan dicekik.

Rapat umum malam itu tak digubrisnya sama sekali. Redaktur yang sedang berbicara itu pun tak akan sadar bahwa ada salah satu pembaca berita sedang mematung dan tak mempedulikannya sekarang. 

Dengan tatapan datar dan kedua pangkal alis yang sedikit naik, gadis itu menghela napas dan menjatuhkan satu tetes air mata dari mata kanannya.

Mata kanan. Ia tak tahu kenapa air mata selalu keluar hanya dari mata kanannya ketika ia bersedih.

Gadis itu tak mengedip. Jika ada orang yang melihatnya, orang itu pasti berpikir ia hanya melamun biasa. Entah air matanya yang terlalu jernih sehingga tak terlihat, atau ia memang ulung dalam menyembunyikan ekspresinya.

Kalau saja ini hanya sebuah permainan, setidaknya aku bisa mengulangnya kembali. Seperti 'load' dan bermain dari awal. Tanpa penyesalan, tanpa kekesalan.

Tapi, ini hidupku. Ini dunia yang sesungguhnya. Aku bukan tokoh fiksi yang bergantung pada pembuatku. Aku ... tidak tahu akhirku akan jadi seperti apa. Aku bukan karakter game.

Ponselnya menampilkan berbagai notifikasi. Namun, tak satupun dari notifikasi itu yang ia perlukan sekarang.

Ia menatap pintu kamarnya lagi. Kalau dipikir-pikir, pintu itu selalu menjadi pembatasnya. Setelah pintu itu, ia selalu melihat berbagai hal. Menyenangkan, menyedihkan. Juga sesuatu yang membuatnya ingin mengakui,

Aku baik-baik saja, tapi aku tidak.

Gadis itu ingin berteriak seperti itu. Setiap orang yang ia harap melihatnya sebagai 'gadis yang tidak baik-baik saja' berbalik menganggapnya 'baik-baik saja'. Sedangkan orang yang tidak ia harapkan untuk melihat kesedihannya, malah melihatnya seperti itu dan mencoba menyelesaikan masalahnya.

Tidak. Maksudku, jangan. Aku tidak ingin. Jika kau membantuku, aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak pernah mencoba membiarkan orang sepertimu, karena aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi. Buruk kah? Baik kah? 

Tapi, aku selalu melihat yang terburuk. Aku tidak ingin mengambil resiko dalam hal ini. Biarkan aku meletakkan tamengku di sini.

Ada satu deret kalimat yang menghancurkan. Tidak, sepertinya ada dua. Gadis itu terlalu terngiang-ngiang atas setiap kata, sampai tak mengingat berapa kalimatnya.

Ia tak yakin sang pengucap benar-benar serius mengatakannya. Lagi pula, kata-kata itu sering didengarnya.

Tapi, rasanya sakit sekali ... seperti pertama kali mendengarnya.

Rasa sakit yang membuatnya ingin berteriak, mengamuk, atau melempar semua benda keras di sekitarnya agar tak ada yang mendengar suara tangisnya.

Kau kenapa? Bukankah sudah ratusan kali kau dengar kalimat itu?

Tapi, aku 'kan sudah bekerja keras ... mengapa ia bisa-bisanya menyamakanku dengan seseorang yang kubenci?

Kali ini, rasanya benar-benar asing. Rasa sakit ini benar-benar seperti tak pernah ia temui sebelumnya.

Ia juga mendadak lupa, 

Apa obat untuk rasa sakit ini? Oh, ayolah. Kau selalu mengingatnya, kenapa kau seperti ini sekarang?

Kemarahan orang itu benar-benar seperti tanda game over baginya. Mimpinya yang tercapai setelah lima belas tahun, perjuangannya untuk tetap baik-baik saja selama delapan tahun ...

Semuanya patah. Seutas tali tipis yang perlahan ia bentangkan sejauh mungkin, kini terasa seperti potongan-potongan kecil. Tali tipis yang berisi semua rasa sakitnya, penderitaannya.

"Kalian sama saja ... !"

Ia selalu berusaha bak tokoh utama game yang sedang menyelesaikan misinya, atau seorang tokoh drama yang sedang menyelesaikan dramanya, penari yang sedang mengikuti irama untuk segera menyelesaikan tariannya, atau penyanyi yang sedang mencapai reff terakhir pada lagunya.

Aku bisa kembali lima ribu kali pun ke awal, untuk mimpiku. Hanya itu yang aku punya, tanpa itu, aku mungkin sudah hancur sekarang.

Tapi, kata-kata yang ia dapatkan begitu menyakitkan. Entah itu kata-kata yang tulus atau bukan, rasanya tetap menyakitkan. 

Dan rasa sakit itu bertambah karena ia merasa asing atasnya, meski sudah mengalaminya berkali-kali.

Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Aku tak tahu. Sebenarnya, untuk siapa ini semua? Orang yang ingin kuberikan malah tidak menyadarinya.

Lembaran kertas putih bersih dan setitik tinta hitam tetap akan dianggap sebagai 'hanya tinta hitam yang kotor' oleh orang-orang.

Gadis itu mendekap dadanya sendiri. Matanya menyipit. Ia tidak boleh menangis sekarang. Kendati begitu, tenggorokannya terasa kering dan nyeri, ia tahu pertanda apa itu. Dengan cepat, ia mematikan kamera laptopnya dan keluar dari rapat.

"Maaf, internet saya sedang tidak stabil, Pak." Bukan, bukan internetnya yang tidak stabil. Itu ... perasaanya.

Akhirnya, gadis itu hanya menutupi wajahnya dengan bantal. Erat sekali, sampai ia tak bisa mendengar suara tangisnya sendiri. 

Memang itu yang ia harapkan, tidak ada yang boleh mendengar suara tangisannya.

Mendadak, ia merasa seperti orang gila yang sadar kalau dirinya gila. Ia mengurung dirinya sendiri dan menahan diri agar tidak ada keributan yang datang. Lagi pula, tidak akan ada yang memihaknya.

Aku ini ibu, kakak, ... dan ayah untuk diriku sendiri.

Menurutmu, kapan ia bisa menangis sepuasnya, seperti yang ia mau?

Gadis itu juga penasaran. Besok kah? Lusa? Atau ... tahun depan? Ia bahkan tidak yakin itu akan terjadi pada waktu yang ia sebutkan.

Ia akan sangat bersyukur jika ini hanya sebuah game, sungguh. Ini begitu menyakitkan. Ia lelah menyalahkan diriya sendiri, ia lelah membuat orang-orang kecewa. Mereka yang kecewa pun ... kapan mereka akan sadar kalau ini bukanlah salah gadis itu? Terus terang, gadis itu juga harus mengobati lukanya sendiri.

Tapi, tidak bisakah ia diberi kesempatan lagi? Ia tak punya tempat untuk pergi.

Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia sudah terbiasa. Tapi rasa sakit menusuknya kembali seperti pertama kali. Rasa sakitnya begitu segar dan baru, Jamais Vu.

Jika aku ini seorang pemain game, mungkin aku juga pemain yang payah. Tidak ada yang bisa mengontrolku. Aku merusak langkahku sendiri. Iya 'kan?

Berikan aku obat yang membuat jantungku berdetak kembali. Berikan aku memori untuk kukenang. Aku benar-benar merasa ini adalah pertama kali.

์‚ด๋ ค์ค˜.

_Cerita ini merupakan refleksi lagu 'Jamais Vu' milik BTS, dari pandangan dan pengalaman penulis._

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer