Catatan Tentang Orang

Catatan Tentang Orang

Ini catatan tentang orang yang berlalu lalang di hadapan wajah saya. Mungkin tidak akurat, dan tidak perlu dijadikan tumpuan. Saya tidak perlu pro dan kontra, sebab semua orang itu berbeda.


Ada berbagai jenis orang. Namun, ada dua yang kuingat: Orang jahat yang terlalu banyak dibumbui kebaikan, dan orang baik yang terlalu banyak dibumbui kejahatan.

Orang-orang adalah tentang percaya atau tidak percaya. Kepercayaan bisa melandasi suatu perlakuan.

Oh, ada dua jenis orang lagi yang kuingat: Orang yang menghargai, dan yang tidak menghargai.

Ternyata, ada juga orang yang penuh ego dan rendah hati.

Kemarahan bisa menutup telinga seseorang.

Ada orang yang egois, ada pula yang penuh gengsi. Apa kamu pernah menemukan dua hal itu pada satu orang?

Dalam pertikaian, seseorang akan berkata 'terserah' saat sudah terlalu marah, namun ia sadar bahwa ia salah.

Orang dengan tempramen tinggi bisa melakukan hal yang berbahaya--maksudku, berbahaya bagi orang lain, bukan baginya.

Orang yang menghargai punya dua respon berbeda: mereka akan merasa aneh dan merasa bersalah saat orang lain tak menghargainya--apa aku salah melakukan sesuatu?

Yang lainnya akan merasa aneh pula, namun disertai penolakan--aku sudah menghargainya sebaik mungkin selama ini, kenapa dia melakukan ini padaku? Sepertinya aku harus menjauhinya. Ini sangat mengejutkan.

Orang dengan tipe pertama akan mencari cara agar bisa dihargai. Orang ini tidak suka namanya menjadi jelek. Ia ingin semua orang mengakui bahwa sifatnya itu baik--yah, memang baik.

Orang tipe kedua akan melakukan blocking: tidak ingin berinteraksi dengan orang yang tidak menghargainya, karena akan merasa buang-buang waktu. Orang jenis ini akan mencari lingkungan yang bisa menghargainya. 'Orang yang tidak bisa menghargai orang lain tak pantas hidup!'.

Orang egois tidak akan mencoba berada di posisi orang lain.

Ada orang egois yang melakukan kebaikan karena egois.--Tunggu, apa kau paham maksudku?

Maksudku, ia melakukan semua hal yang benar baginya tanpa memikirkan pendapat orang lain. 'Ini benar! Kau juga harus mengakuinya! Ini adalah sebuah kebaikan, tahu!'. Biasanya, orang ini kelewat ingin dipandang baik oleh orang lain.

Ada orang yang tidak percaya siapapun. Orang jenis ini dibagi dua: Orang yang tidak percaya orang lain atas dasar diri sendiri--maksudku, orang ini sangat individual. 'Aku bisa melakukannya sendiri. Kau tak perlu ikut campur, aku tak percaya kau bisa melakukannya.'

Yang satu lagi tidak percaya orang lain atas dasar keamanan. 'Kau yakin tidak menjadikan kepercayaanku ini 'alat' untuk menyakitiku? Aku tak percaya kau. Jauhi aku.'

Orang jenis pertama terkadang akan merasa kesepian, namun dia tidak bisa menarik orang menuju dirinya.

Orang jenis kedua juga akan merasa kesepian. Namun, dia tidak ingin menarik orang menuju dirinya. Kendati begitu, orang-orang mengelinginya, 'Orang macam apa dia ini?'

Orang jenis pertama kelamaan akan mengintrospeksi diri dan sedikit mempercayakan sesuatu pada orang lain.

Orang jenis kedua tidak, ia hanya akan percaya pada satu orang di ujung ceritanya. Bisa dibilang, orang jenis ini sangat rapuh di dalam, namun terlihat kokoh diluar--tidak bisa digapai. Pastikan kau tidak menyakitinya jika suatu saat ia percaya padamu. 

Mengejutkan, ada orang yang berusaha menghargai orang lain karena tidak percaya mereka. 'Aku akan sangat menghargai mereka. Kalau tidak, mereka pasti akan menyakitiku.'

Tidak ada orang yang benar-benar membenci diri mereka sendiri. Biasanya, mereka benci akan apa yang mereka atau orang lain yang mereka sayang alami.

Orang yang sedang berusaha mencintai dirinya sendiri, tidak akan berusaha untuk menyayangi orang lain untuk sementara waktu. Itu akan melelahkan karena akan ada pro dan kontra dalam dirinya. Bagaimana pun, seseorang punya sisi egois dalam diri mereka. 'Loh, kenapa aku melakukan hal ini untuknya? Aku 'kan ingin berkorban untuk diriku sendiri dulu saja!'

Maaf memotong bacaanmu, kawan. Aku ingin bertanya. Jika seseorang yang cakap dalam hal fisik (rupa) disebut 'rupawan', adakah orang yang bisa disebut 'hatiwan'?

Pertanyaan di atas bodoh sekali. Maafkan aku, aku tidak pandai menyindir.

Orang-orang cenderung meninggakan sesuatu yang merepotkan dan berpotensi menyakiti. 'Tanpamu saja hidupku sudah menyebalkan, bagaimana jika ada kamu? Aku tidak mengenalmu, orang yang kukenal dekat saja menyakitiku!'

Itu tidak baik, kawan. Kau tahu, semua orang berbeda.

Masalahnya bukan ada pada orang, tapi lingkungan.

Terkadang, lingkungan dan orang bisa sangat bertentangan. Kau ingin aku membahasnya?

Komentar

Postingan Populer