'Selamat'

Selamat tinggal?
Bicara apa kau?
Bagaimana bisa... Kau mengucapkan selamat,
Saat meninggalkan seseorang?


... - .- -.--


“Aku udah gak bisa lagi urus dia,”

“Kamu pikir aku bisa?”

“Terus kita harus gimana? Kenapa kita saling lempar begini?”

“Kenapa dulu kamu ambil dia kalau begini akhirnya?”

“Sekarang kamu mau aku bagaimana? Mengurus dia yang jadi kesalahan kamu?”

“Ah, berisik. Kamu tahu kenapa dulu kita ambil dia.”

“Kita? Kamu yang maksa urus dia! Aku udah bilang kalau kita belum siap!”

“AKU GAK TAHU KALAU MENGURUS ANAK AKAN SEGILA INI!”

Berisik, suara dua orang yang mengadu kata di telepon malam sabtu itu begitu berisik. Mereka saling berteriak, saling menyalahkan, saling menyulut emosi.

Pasangan yang sibuk membenarkan diri karena tidak siapnya mereka menjadi seorang Ibu dan Ayah.

Anak laki-laki yang malang. Ia—yang saat ini sedang menyusun kotak mainan di rumah temannya—tidak akan tahu apa-apa.

Anak yang baik, ia tak pernah menuntut banyak. Ia selalu mengasihi kedua orang tuanya dan merengkuh tubuh besar mereka dengan kasih sayang. “Malaikatnya aku,” begitu katanya.

Bocah berusia tujuh tahun sebelas bulan itu tampaknya selalu mengurus orang tuanya. Memberikan kasih sayang melimpah dan menatap mereka dengan mata berbinar-binar.

‘Malaikat’ anak itu selalu bepergian. Memakai pakaian formal dengan wangi khas orang dewasa. Wajah mereka selalu lesu. Mereka saling bersaing satu sama lain, kecuali tentang hal kecil seperti siapa yang akan dipeluk anak itu lebih lama.

Anak mana yang tak perlu kasih sayang dari orang tuanya? Tidak ada. Anak yang selalu mempedulikan orang tuanya di atas dirinya sendiri pun merasakan hal demikian. Kenapa mereka tak pernah balas memelukku? Atau, kenapa mereka tak senyum padaku saat aku pulang sekolah?

Ia hanya bertanya dalam hati, tak ingin pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Entahlah, ia merasa takut, meskipun ia tak tahu apa yang membuatnya takut.

Ia hanya kembali menunggu di rumah setiap sore, menatap pintu sambil menggoyangkan kaki, berharap keduanya pulang tanpa membawa berbagai makananan mahal, melainkan senyuman hangat dan sebuah pelukan.

Bocah kurus bernama Dirga itu bahkan begitu bahagia saat sang ayah mengajaknya pergi ke taman kota, begitu sang ayah pulang dari tempat kerjanya. Dopamin memenuhi otaknya, ia tak terpikir sama sekali apa yang dimaksud sang ayah dengan ‘pergi’.


... - .- -.--



Aku menggandeng tangan ayahku sambil sedikit mengayunkannya. Ayah tersenyum, senyumnya merekah seperti bunga matahari.

Sore itu, tali sepatuku lepas. Aku tidak tahu caranya mengikat kembali tali sepatu. Aku hanya mendongak dan menatap ayahku kebingungan.

Ayahku menghela napas, ia masih tersenyum. Kemudian ia merendah dan mengikatkan tali sepatuku.

Ah, jadi seperti itu cara mengikat sepatu.

Aku menatap kepala ayahku yang menunduk, lalu menepuk rambutnya. Ayahku tetap menunduk, berhenti bergerak sesaat.

Di taman bermain yang ramai itu, aku bahagia sekali. Banyak orang bersenang-senang dan kupikir aku pun bisa melakukannya, dengan ayahku.

Saat ayahku kembali menatapku, senyumnya hilang. Tak apa, aku akan mengembalikannya dengan cengiran khasku nanti.

Hal terakhir yang ku ingat saat itu, ayahku bersenandung dengan nada yang menyeramkan, atau menyedihkan? Ia kembali menatapku dan mengatakan bahwa setelah ini aku harus menjadi laki-laki kuat yang bisa mengikat tali sepatuku sendiri.

Aku tersenyum, tentu saja akan kulakukan. Apa pun untuk ayah.

Iya apapun, bahkan ketika ayahku memintaku untuk menutup mata dan kembali membukanya setelah menghitung hingga sepuluh.

Kukira hal pertama yang aku lihat adalah wajah ayah yang kembali tersenyum. Namun di depanku hanya ada jalan setapak kosong dan suara angin pelan yang mengerikan.




Goodbyes are like a disaster text alert.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer