Terkilir

Biar Aku beri tahu tentang seorang laki-laki misterius yang berdiri di ujung koridor perpustakaan itu.

Iya, laki-laki rapi yang sedang bersandar di tembok putih sambil berfokus pada ponselnya saat Ini. Dia yang menyampirkan jaket merah marun di bahu kirinya.

Dia Dirga, mahasiswa komunikasi yang telah sampai di semester akhir, sekaligus manager toko cokelat yang baru dibuka satu setengah bulan yang lalu.

Lima bulan yang lalu, dia mulai mengenal seorang perempuan kecil: Lila namanya. Anak semester pertama yang akhirnya selalu mengirim pesan singkat setiap dua malam sekali, berkata bahwa dia punya sesuatu untuk diceritakan.

Dirga menyeringai. Kalau begini tak perlu susah payah untuk menggali keseharian gadis itu. Dia dengan sukarela menceritakannya hampir setiap hari dengan perasaan berbunga-bunga.

Semua diawali dengan kesepakatan yang dibuat Dirga dengan seseorang, yang mengharuskan Dirga mendekat dan mengawasi Lila.

"Lo udah ketemu anak Nyokap Gue? Gimana? Cantik?" Suara berat terdengar dari balik pintu kamar Dirga. Itu...


... Seseorang yang meminta imbalan setelah merawat Dirga hingga saat ini.

Dia adalah orang yang 'memungut' Dirga saat ia ditinggal sendirian kala hujan lebat mengguyur sebuah taman bermain. Malam indah saat itu berubah menjadi malam mengerikan dan suara hujan yang selalu membuatnya menggigil.

Orang yang menjadi kakak laki-laki sekaligus keluarganya satu-satunya.


"Gue mau Lo cari tahu soal Nyokap gue, lewat anak itu. Sisanya biar Gue yang urus," Lanjut suara berat itu. "Gak bakal Gue biarin Dia aman-aman aja setelah 'membunuh' habis Bokap gue."

Dirga merinding, belum terbiasa dengan perubahan drastis kakaknya lima bulan lalu itu. Suara lembut yang merawatnya hingga hari ini mendadak berubah menjadi suara dingin yang mencekam setelah mengetahui keberadaan Lila. Sebenarnya apa yang dia rencanakan? 

Dirga tak pernah berani melawan. Entah dia pintar atau bodoh, tapi ia segera menyadari bahwa bahaya akan menghadangnya tepat setelah ia memberontak. Kakaknya, ternyata bukan orang sembarangan.

Dirga yang tak punya pilihan, berakhir mencari nama seseorang dalam daftar kontak di ponselnya. Setelah menemukannya, ia segera menelepon nomor tersebut.

"E-eh? Kak Dirga? Ada apa telepon?" 

"Lil, besok kan Minggu, Lo ada waktu gak sekarang?" Tanya Dirga sambil mondar-mandir di kamarnya.

"Sekarang banget? Ada sih, tapi ini udah sore, gak bisa sampe malam banget." 

"Oke, gue jemput ya, send location dong?" Tanya Dirga. Entah mengapa, ia merasa telah mendapat dua ikan dalam sekali pancing.

"Send loc... O-oke deh, hehe. hati-hati ya kak." 

Telepon dimatikan. Rasa bersalah menyelimuti hati Dirga kala itu, namun tertutup oleh 'kewajiban' yang ia rasa harus dilakukan.

Semua pengawasan Dirga terhadap Lila yang polos itu berjalan lancar tanpa kecurigaan hingga saat ini. Bodoh sekali. Ia yakin Lila tak akan pernah terpikir alasan sebenarnya dari pendekatan Dirga yang mendadak.

Dirga mana peduli soal Lila yang dimabuk rasa segera setelah terbiasa dengan kehadiran Dirga.

Hingga saat ini, di perpustakaan, Dirga bingung bukan main saat mendapat pesan singkat dari kakaknya,

'Ga, tugas Lo selesai. Lo gak perlu ngawasin Dia lagi.'

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer