Membeku
"Firza berasa dibuang, Lil."
Lila berdiri di ayunan kayu yang sedikit basah bekas hujan siang hari tadi. Melongok Firza yang masih menundukkan pandangannya sambil bersandar dibawah pohon ceri.
"Apanya yang dibuang atuh ih?" Tukas Lila. "Lo kan orang mana bisa dibuang." lanjut bocah delapan belas tahun yang kayaknya ninggalin otaknya di gedung fakultas teknik tadi pagi.
"Bukan gitu Lilaaa, ih! Malas ah, Lo mah lemot." Omel Firza. Niatnya dia mau curhat soal temannya, tapi dia baru ingat: Lila itu kalau habis hujan lemotnya setengah mati.
Lila sebenarnya tahu apa maksud teman per-bawel-an dia itu. Hanya saja dia yakin, kalau masalah itu dibahas terus, Firza bakal badmood selama empat belas hari.
"Firza," Panggil Lila.
"Iya."
"Rasanya mirip kayak waktu kita kecil." Tiba-tiba Lila ngoceh random. Biasa, dia memang suka kepikiran macam-macam perumpamaan untuk Firza.
"Tuh kan, random lagi..."
"Benar, loh. Dulu waktu kecil kita senang banget kalau punya barang kesayangan, tapi kalau barang itu diambil orang, nanti kita nangis." Kata Lila. "Gue kasih tahu dulu ya, Gue bukan orang yang bisa bohong meskipun omongan Gue bikin Lo nangis."
Firza membenahi posisi duduknya. Ia mendongakkan kepalanya dan mengarahkan badannya menghadap Lila, memberikan seratus persen perhatiannya pada adik kecil yang terlalu pandai bermain kata itu.
"Lo merasa... Kakak itu rebut kesayangan punya-nya Lo?" Tanya Lila perlahan. Ia tak ingin satu kata pun yang keluar dari mulutnya menyakiti sahabat sehatinya itu.
Mata Firza terasa buram. Ia bersandar kembali di pohon sambil menutupi wajahnya dengan Novel fiksi sains yang dipegangnya.
"... Iya... "
Firza menangis. Orang penting yang membuat jalannya tampak begitu bersinar kini menjauhinya. Dingin padanya. Gelap memandangnya.
"Di-di depan gue rasanya buntu," Gumam Firza sambil sesegukan. "Gak ada arah, dan gue terlanjur lupa siapa diri gue sendiri. Gue terlalu terbiasa ada dia. Begitu dia hilang, rasanya gue jadi mirip orang lemah."
Lila putar otak. Kalau masalahnya seperti ini, berarti tak ada yang bisa disalahkan. Semua orang berhak mencari kenyamanan mereka masing-masing.
Tapi yang paling retak adalah mereka yang mencintai diam-diam. Mereka pula yang harus tahu beratnya memilih antara mencintai orang lain dan tersakiti, atau mencintai diri sendiri dan tak menyakiti siapapun.
Kalau Firza memaksakan diri untuk terus meraih tangan cowok berandal yang dingin itu, Firza harus rela bertingkah seolah mampu mengikuti langkahnya juga.
"Pilih Za, mau ikhlas tanpa dia dan tanpa membuang diri Lo,"
"Atau dapetin semua yang Lo mau tanpa hambatan, tapi tanpa jati diri Lo juga?"
manski
BalasHapus