Kembali
Aku kembali lagi
Pada saat dimana tak ada kau
Saat tak ada namamu
Tak ada wujudmu
Dan tak ada juga pedulimu.
Dirga mendorong sebuah pintu coklat dengan tulisan 'buka' terpampang jelas menggantung di sana.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"
Segelas macchiato ditulisnya dalam sebuah kertas menu. Setelah memberikannya pada kasir, ia menunggu di pojok kafe sambil membuka laptop-nya, membuka aplikasi telepon video, dan membiarkan seseorang menghubungi dirinya.
"Gini Kak," ucap suara dari dalam sana. "Hari ini Lila diajak Firza liput aksi."
Dirga diam, tak acuh. Masih berpangku tangan sembari melihat wajah perempuan di layar laptopnya tanpa minat.
"Firza siapa?" tanya Dirga. "By the way, Gue udah lama gak lihat Lo main sama Raka," Gumam Dirga, yang mampu didengar Lila.
"Hm? Iya Kak, katanya dia toxic banyak mau jadi Lila jauhin, kenapa emangnya?" Timpal Lila. Sekilas, mata Dirga tampak sedikit membulat, tertarik.
"Oh, ya gak apa-apa, sih."
Sementara itu, pelayan kafe yang tak sengaja mendengar percakapan ringan itu berupaya keras menahan ekspresinya agar tak terlihat sinis. Melangkah pelan membawa secangkir kopi milik Dirga, ia ingin sekali menyiram wajah tampannya dengan macchiato hangat yang dipesan cowok 20 tahun itu.
"Kak Dirga lagi sibuk ya? Nugas? Di kafe biasa?" Tanya Lila antusias. Niatnya sih, ia mau saja menyusul ke kafe yang jauhnya lima-belas-menit-kalau-naik-motor-dan-gak-macet itu. Yang penting kan bisa ngobrol sama Dirga.
"He-em," Tukas Dirga.
"... Kak Dirga semangat! Lila jadi mau nugas di sana juga..." Dirga kenapa ya? Pikir Lila. Biasanya, cowok ganteng-bersinar itu selalu menjawab pertanyaan Lila sama antusiasnya dengan si pe-nanya yang gak pernah murung itu. Tapi belakangan ini, Dirga berubah. Apa karena sibuk mau magang?
"Ngapain, sih? Gak usah. Ribet, ada temen gue mau dateng." Cetus cowok itu.
Ya? Lila harus mencerna kata-kata yang baru didengarnya selama lima bulan kenal-dan dekat, sih-dengan Dirga. Tak mempercayai pendengarannya, Lila manut-manut saja meng-iya-kan.
"...O-oh, yaudah deh. Gak jadi, hehe. Semangat ya, Kak." Suaranya melembut. Atau melemah?
"Yaudah, bye." Dirga menekan tombol merah bergambar gagang telepon itu dengan kursor-nya, membiarkan Lila mematung disana, kebingungan karena telepon yang sangat dinantinya itu dimatikan sebelah pihak.
Suara denting bertemunya cangkir kopi Milik Dirga dengan meja tempat ia bertumpu sekarang mengalihkan perhatian Dirga. "Ini. Mas. Macchiato. Hangat. Pesanannya." 'mbak' kasir meletakkan minuman favorit Dirga itu sambil menekankan setiap kata - ucapan selamat menikmati-nya itu.
"Hah? Oh, iya makasih mbak." Kata Dirga.
"Sama-sama, Masnya kelihatannya capek, ya? Istirahat aja mas di sini sambil ngopi. Jangan sampe capeknya mas jadi kekhawatiran buat orang lain," Oceh mbak-mbak kasir yang tingginya paling-paling hanya se-dada Dirga itu.
Dirga diam, bukannya bagaimana, mbak kafe ini ngomong apaan? Datang-datang kok omongannya sinis gini?
"Jangan dicampakkan, ketika perempuan juga tahu diri dan perasaan." Lanjut sang pelayan itu.
"Bentar, mbak. Apaan deh? Mbaknya siapa sih? Kok dateng-dateng marah?" Cetus Dirga. Apaan sih? Semua orang kenapa gak jelas begini hari ini?
"Saya gak marah kok, mas. Oh iya, kenalin, saya Firza. Pernah dengar?"
Pada saat dimana tak ada kau
Saat tak ada namamu
Tak ada wujudmu
Dan tak ada juga pedulimu.
°°°---°°°
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?"
Segelas macchiato ditulisnya dalam sebuah kertas menu. Setelah memberikannya pada kasir, ia menunggu di pojok kafe sambil membuka laptop-nya, membuka aplikasi telepon video, dan membiarkan seseorang menghubungi dirinya.
"Gini Kak," ucap suara dari dalam sana. "Hari ini Lila diajak Firza liput aksi."
Dirga diam, tak acuh. Masih berpangku tangan sembari melihat wajah perempuan di layar laptopnya tanpa minat.
"Firza siapa?" tanya Dirga. "By the way, Gue udah lama gak lihat Lo main sama Raka," Gumam Dirga, yang mampu didengar Lila.
"Hm? Iya Kak, katanya dia toxic banyak mau jadi Lila jauhin, kenapa emangnya?" Timpal Lila. Sekilas, mata Dirga tampak sedikit membulat, tertarik.
"Oh, ya gak apa-apa, sih."
Sementara itu, pelayan kafe yang tak sengaja mendengar percakapan ringan itu berupaya keras menahan ekspresinya agar tak terlihat sinis. Melangkah pelan membawa secangkir kopi milik Dirga, ia ingin sekali menyiram wajah tampannya dengan macchiato hangat yang dipesan cowok 20 tahun itu.
"Kak Dirga lagi sibuk ya? Nugas? Di kafe biasa?" Tanya Lila antusias. Niatnya sih, ia mau saja menyusul ke kafe yang jauhnya lima-belas-menit-kalau-naik-motor-dan-gak-macet itu. Yang penting kan bisa ngobrol sama Dirga.
"He-em," Tukas Dirga.
"... Kak Dirga semangat! Lila jadi mau nugas di sana juga..." Dirga kenapa ya? Pikir Lila. Biasanya, cowok ganteng-bersinar itu selalu menjawab pertanyaan Lila sama antusiasnya dengan si pe-nanya yang gak pernah murung itu. Tapi belakangan ini, Dirga berubah. Apa karena sibuk mau magang?
"Ngapain, sih? Gak usah. Ribet, ada temen gue mau dateng." Cetus cowok itu.
Ya? Lila harus mencerna kata-kata yang baru didengarnya selama lima bulan kenal-dan dekat, sih-dengan Dirga. Tak mempercayai pendengarannya, Lila manut-manut saja meng-iya-kan.
"...O-oh, yaudah deh. Gak jadi, hehe. Semangat ya, Kak." Suaranya melembut. Atau melemah?
"Yaudah, bye." Dirga menekan tombol merah bergambar gagang telepon itu dengan kursor-nya, membiarkan Lila mematung disana, kebingungan karena telepon yang sangat dinantinya itu dimatikan sebelah pihak.
Suara denting bertemunya cangkir kopi Milik Dirga dengan meja tempat ia bertumpu sekarang mengalihkan perhatian Dirga. "Ini. Mas. Macchiato. Hangat. Pesanannya." 'mbak' kasir meletakkan minuman favorit Dirga itu sambil menekankan setiap kata - ucapan selamat menikmati-nya itu.
"Hah? Oh, iya makasih mbak." Kata Dirga.
"Sama-sama, Masnya kelihatannya capek, ya? Istirahat aja mas di sini sambil ngopi. Jangan sampe capeknya mas jadi kekhawatiran buat orang lain," Oceh mbak-mbak kasir yang tingginya paling-paling hanya se-dada Dirga itu.
Dirga diam, bukannya bagaimana, mbak kafe ini ngomong apaan? Datang-datang kok omongannya sinis gini?
"Jangan dicampakkan, ketika perempuan juga tahu diri dan perasaan." Lanjut sang pelayan itu.
"Bentar, mbak. Apaan deh? Mbaknya siapa sih? Kok dateng-dateng marah?" Cetus Dirga. Apaan sih? Semua orang kenapa gak jelas begini hari ini?
"Saya gak marah kok, mas. Oh iya, kenalin, saya Firza. Pernah dengar?"
Ya
BalasHapus