Jahat
Tara, namanya.
Cowok jangkung yang baru saja berhasil tidur pulas, mengambil seluruh kursi panjang di taman depan gedung fakultas komunikasi itu untuk dirinya sendiri setelah mondar-mandir mencari tempat pas untuk tidur.
Tara, namanya.
Yang tidak peduli akan suara gadis yang berteriak memanggil namanya sembari berlari kecil menghampirinya.
Egois, memang.
"Tara! Jahat banget sih Lo? Kopi gue tumpah, gantiin." Si gadis pemanggil itu mulai menggoyangkan badan Tara. Tapi cowok itu tak bergeming, Ia malah mulai mendengkur.
"Tara malesin banget, sumpah. Gak lucu, Ra. Cepet bangun atau lo gue seret, terus gue cemplungin ke kolam ikan ini, nih!" Gadis itu enggan menyerah, segala cara dilakukannya untuk membangunkan cowok yang paling dibencinya se-antero kampus itu.
Tapi Tara masih mendengkur, gimana dong?
Kesal setengah mati, Si Gadis akhirnya menarik sepasang daun telinga Tara kuat-kuat sambil berteriak tepat disamping telinga caplang itu.
"TARAAAA BANGUN! DASAR LELAKI BIADAB TIDAK BERTANGGUNG JAWAB!"
Tak satu atau dua lagi mahasiswa yang melongok ke sumber suara itu dengan penasaran. Sontak saja semua orang yang ada disana turut kepo.
Yah, barangkali ada bahan gosip baru soal cowok ganteng yang tidak mau bertanggung jawab setelah melakukan yang iya-iya.
Berhasil. Nyatanya, cowok dengan headphone abu-abu itu membuka matanya bulat-bulat. "GILA LO YA? JANGAN YANG ANEH-ANEH DEH," Sahut Tara tak kalah nyaring, "LILA!"
Ups, ketahuan deh suara siapa yang begitu nyaring sampai bikin kursi peristirahatan Tara itu bergetar bak terkena gempa ringan.
"Apaan sih Lo? Apa lagi?!" Cetus Tara frustrasi, bisa gak sih cewek berandal satu ini gak ganggu dia sehari saja?
"Lo gak sadar? Tadi tuh lo lewat di depan gue terus nyenggol tangan gue. Tuh lihat, kopi delapan-ribu gue tumpah, Tara. Ganti!" Lila menunjuk sebuah gelas kopi yang malangnya sudah tergeletak tak berdaya dengan isinya yang sudah berhamburan kemana-mana itu.
Tara menatap sinis Lila. Ya kali? Cuma gara-gara kopi delapan ribu dia membangunkan tidur berharga-nya Tara yang tak sepadan dengan uang?
"Ya udah, sih? Gue juga gak sengaja kali! Nih, ambil nih! Ceban! Makan tuh duit, diem kan lo."
Sumpah, Tara itu benar-benar tidak punya etika. Mulutnya suka kurang ajar memang. Kalau sehari-hari tidak membuat Lila marah, ya paling-paling membuat Lila nangis.
Seperti sekarang, mata Lila sudah berair. Bukan cengeng, tapi Lila kesal sekali. Dia bingung harus bagaimana lagi melawan Tara dan mulut jahatnya itu.
Dari dulu, dulu sekali. Bahkan sebelum mereka saling kenal dekat, keduanya memang sudah mengibarkan bendera perang dalam hal apapun. Yang akademis, yang keseharian, semuanya deh.
Oh, jangan harap. Benar-benar jangan pernah berharap soal hubungan romansa di antara keduanya. Tidak ada, serius. Ini bukan cerita picisan soal musuh yang tiba-tiba saling jatuh cinta.
Mereka benar-benar musuhan. Ini asli. Nyata sekali.
"Mulut lo itu bisa dijaga gak sih, Ra? Sumpah, kurang ajar banget! Emang begini cara lo ganti rugi?" Suara Lila terdengar kesal. Tadinya ia juga tidak mau terlalu serius soal ini, yang penting cepat-cepat mendapat kopinya, dan sedikit mengganggu Tara.
Tapi memang sih, mulut Tara itu keterlaluan. Memangnya begitu cara memperlakukan orang lain? Apalagi perempuan?
Tara diam, namun masih menatap Lila sinis.
"Bodo amat deh, terserah Lo. Berisik, males gue ngurusinnya."
Tara akhirnya kabur, kembali memasangkan headphonenya dan menutup kedua telinganya.
Ada ya orang seperti Tara? Yang sudah salah, bukannya meminta maaf tapi malah bersikap dingin begitu?
Lila tahu, sih. Seharusnya ia tak perlu membangunkan Tara, toh nanti pasti bertemu lagi. Tapi, mengingat songongnya Tara yang tak menyadari kalau dirinya menumpahkan kopinya itu benar-benar membuat Lila kesal. Masalahnya, orang itu Tara. T-a-r-a.
Lagi pula memang Tara itu juga sudah terkenal dengan mulut jahatnya itu. Bukan salah Lila juga.
"Emang, gak salah Gue gedeg banget sama dia."
Lila tidak tahu saja, sesuatu yang sangat mengejutkan tentang Tara akan segera mengguncang benak Lila.
Cowok jangkung yang baru saja berhasil tidur pulas, mengambil seluruh kursi panjang di taman depan gedung fakultas komunikasi itu untuk dirinya sendiri setelah mondar-mandir mencari tempat pas untuk tidur.
Tara, namanya.
Yang tidak peduli akan suara gadis yang berteriak memanggil namanya sembari berlari kecil menghampirinya.
Egois, memang.
"Tara! Jahat banget sih Lo? Kopi gue tumpah, gantiin." Si gadis pemanggil itu mulai menggoyangkan badan Tara. Tapi cowok itu tak bergeming, Ia malah mulai mendengkur.
"Tara malesin banget, sumpah. Gak lucu, Ra. Cepet bangun atau lo gue seret, terus gue cemplungin ke kolam ikan ini, nih!" Gadis itu enggan menyerah, segala cara dilakukannya untuk membangunkan cowok yang paling dibencinya se-antero kampus itu.
Tapi Tara masih mendengkur, gimana dong?
Kesal setengah mati, Si Gadis akhirnya menarik sepasang daun telinga Tara kuat-kuat sambil berteriak tepat disamping telinga caplang itu.
"TARAAAA BANGUN! DASAR LELAKI BIADAB TIDAK BERTANGGUNG JAWAB!"
Tak satu atau dua lagi mahasiswa yang melongok ke sumber suara itu dengan penasaran. Sontak saja semua orang yang ada disana turut kepo.
Yah, barangkali ada bahan gosip baru soal cowok ganteng yang tidak mau bertanggung jawab setelah melakukan yang iya-iya.
Berhasil. Nyatanya, cowok dengan headphone abu-abu itu membuka matanya bulat-bulat. "GILA LO YA? JANGAN YANG ANEH-ANEH DEH," Sahut Tara tak kalah nyaring, "LILA!"
Ups, ketahuan deh suara siapa yang begitu nyaring sampai bikin kursi peristirahatan Tara itu bergetar bak terkena gempa ringan.
"Apaan sih Lo? Apa lagi?!" Cetus Tara frustrasi, bisa gak sih cewek berandal satu ini gak ganggu dia sehari saja?
"Lo gak sadar? Tadi tuh lo lewat di depan gue terus nyenggol tangan gue. Tuh lihat, kopi delapan-ribu gue tumpah, Tara. Ganti!" Lila menunjuk sebuah gelas kopi yang malangnya sudah tergeletak tak berdaya dengan isinya yang sudah berhamburan kemana-mana itu.
Tara menatap sinis Lila. Ya kali? Cuma gara-gara kopi delapan ribu dia membangunkan tidur berharga-nya Tara yang tak sepadan dengan uang?
"Ya udah, sih? Gue juga gak sengaja kali! Nih, ambil nih! Ceban! Makan tuh duit, diem kan lo."
Sumpah, Tara itu benar-benar tidak punya etika. Mulutnya suka kurang ajar memang. Kalau sehari-hari tidak membuat Lila marah, ya paling-paling membuat Lila nangis.
Seperti sekarang, mata Lila sudah berair. Bukan cengeng, tapi Lila kesal sekali. Dia bingung harus bagaimana lagi melawan Tara dan mulut jahatnya itu.
Dari dulu, dulu sekali. Bahkan sebelum mereka saling kenal dekat, keduanya memang sudah mengibarkan bendera perang dalam hal apapun. Yang akademis, yang keseharian, semuanya deh.
Oh, jangan harap. Benar-benar jangan pernah berharap soal hubungan romansa di antara keduanya. Tidak ada, serius. Ini bukan cerita picisan soal musuh yang tiba-tiba saling jatuh cinta.
Mereka benar-benar musuhan. Ini asli. Nyata sekali.
"Mulut lo itu bisa dijaga gak sih, Ra? Sumpah, kurang ajar banget! Emang begini cara lo ganti rugi?" Suara Lila terdengar kesal. Tadinya ia juga tidak mau terlalu serius soal ini, yang penting cepat-cepat mendapat kopinya, dan sedikit mengganggu Tara.
Tapi memang sih, mulut Tara itu keterlaluan. Memangnya begitu cara memperlakukan orang lain? Apalagi perempuan?
Tara diam, namun masih menatap Lila sinis.
"Bodo amat deh, terserah Lo. Berisik, males gue ngurusinnya."
Tara akhirnya kabur, kembali memasangkan headphonenya dan menutup kedua telinganya.
Ada ya orang seperti Tara? Yang sudah salah, bukannya meminta maaf tapi malah bersikap dingin begitu?
Lila tahu, sih. Seharusnya ia tak perlu membangunkan Tara, toh nanti pasti bertemu lagi. Tapi, mengingat songongnya Tara yang tak menyadari kalau dirinya menumpahkan kopinya itu benar-benar membuat Lila kesal. Masalahnya, orang itu Tara. T-a-r-a.
Lagi pula memang Tara itu juga sudah terkenal dengan mulut jahatnya itu. Bukan salah Lila juga.
"Emang, gak salah Gue gedeg banget sama dia."
Lila tidak tahu saja, sesuatu yang sangat mengejutkan tentang Tara akan segera mengguncang benak Lila.
Oh dia toh
BalasHapus